PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA


Sebelumnya saya berterima kasih kepada mas Bachtiar Hakim karena sudah memposting tulisan yang sarat dengan informasi penting ini…
Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 1)

PANDUAN LENGKAP MENULIS
ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI
UNTUK PEMULA

Dikutip dari hand-out F. Rahardi

PENGANTAR

Sejak tahun 1980an, sebagai penyair, wartawan dan penulis artikel di media massa nasional, saya sering diminta untuk memberi caramah dan menjadi instruktur pelatihan jurnalistik atau penulisan artikel. Meskipun waktu itu saya sudah membuat makalah bahkan juga transparan untuk OHP, namun bahan-bahan tersebut saling tidak berhubungan satu sama lain. Sebab pihak yang meminta ceramah atau pelatihan, juga sangat beragam, dengan variasi peserta yang juga sangat beraneka macam. Karenanya, bahan-bahan itu kemudian tercecer dan banyak yang hilang.
Baru pada tahun 1990an, saya mulai secara sistematis menyusun bahan-bahan yang masih tersisa dan menyimpannya, hingga setiap kali ada permintaan ceramah atau menjadi narasumber dalam pelatihan, saya selalu siap dengan materinya. Pada tahun 1997, selama satu minggu penuh, saya diminta menjadi instruktur pelatihan penulisan artikel oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) Depdiknas (waktu itu Depdikbud) di Cisarua. Ternyata Pusbuk belum memiliki modul, kurikulum, jadwal dan hand out. Terpaksalah saya secara buru-buru mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk pelatihan tersebut.
Tahun 1998, saya juga diminta oleh Universitas Terbuka (UT) untuk melatih para Tutor agar bisa menuliskan bahan kuliah dengan cukup baik. Terutama untuk dipublikasikan pada penerbitan intern UT. Saya pun menambah dan menyempurnakan bahan-bahan tersebut, hingga akhirnya terkumpul cukup banyak bahan. Tahun 2001 saya diminta Majalah Hidup untuk membantu memperbaiki mutu tulisan yang dihasilkannya. Bahan-bahan yang telah saya miliki, kembali saya evaluasi, saya tambah dan kemudian saya perbaiki. Kali ini, tujuannya lebih spesifik yakni untuk perbaikan metode penulisan di sebuah majalah yang juga sangat spesifik.
Tahun 2003, ketika saya diminta melatih guru-guru sekolah oleh Pusat Bahasa Depdiknas, bahan-bahan yang terkumpul sudah sangat banyak. Namun isinya masih bersifat makro. Bukan hanya berupa modul pelatihan jurnalistik, melainkan masih berupa modul penulisan umum. Termasuk menulis makalah, surat, project proposal, kontrak kerjasama dll. yang memang banyak diperlukan oleh para pekerja kantoran. Sebab kadang-kadang pihak yang saya latih, bukan hanya media massa melainkan juga kantor-kantor umum. Tujuannya agar sekretaris dan staf administrasinya, termasuk staf akunting dan keuangan, bisa menyusun laporan, membuat konsep surat, meneliti isi kontrak dll. dengan lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.
Bahan yang bersifat sangat umum, akan merepotkan apabila yang dilatih spesifik ingin bisa menulis di media massa cetak. Umumnya mereka mengharapkan materi yang lebih spesifik dan praktis, yakni dibatasi hanya untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menulis artikel atau feature. Karenanya, bahan-bahan yang ada kemudian kembali saya evaluasi dan saya sortasi. Kekurangan yang masih ada saya carikan materinya, hingga akhirnya siaplah panduan lengkap yang mendekati kebutuhan untuk pelatihan jurnalistik artikel dan feature. Tentunya bahan ini pun masih tetap banyak kekurangannya, hingga harus terus diperbaiki sebagai proses pembelajaran bersama. * * *

Cimanggis, Akhir 2005

Daftar Isi

I Pendahuluan……………………………………………………………………………..hal
II Dunia Jurnalistik dan Media Massa…………………………………………….hal
III Pelatihan Jarnalistik…………………………………………………………………..hal
IV Mengenal bentuk tulisan artikel, feature dan esai…………………………..hal
V Mengenal daya tarik dan asas manfaat tulisan……………………………….hal
VI Meliput dan mengumpulkan bahan tulisan…………………………………….hal
VII Mengenal cara mulai menulis dengan 5 W 1 H………………………………hal
VIII Mengenal bahasa jurnalistik………………………………………………………..hal
IX Mengenal fotografi dan cara memotret………………………………………….hal
X Mengenal media cetak, rubrikasi dan cara mengirim tulisan…………….hal
XI Contoh Artikel dan Feature………………………………………………………….hal
XII Contoh Proposal, Jadwal dan Rencana Anggaran……………………………hal

* * *

I PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi komunikasi selama 50 tahun terakhir, telah membawa dampak perubahan yang luarbiasa terhadap kegiatan jurnalistik di dunia. Koran yang terbit di Paris atau New York, hari ini juga edisi Asianya bisa dibaca di Jakarta seperti halnya kita membaca Kompas. Duapuluh tahun yang lalu, koran Jakarta baru bisa dibaca di Jawa Tengah atau Jawa Timur setelah pukul 12.00 tengah hari. Selain karena faktor teknologi, waktu itu juga ada pembatasan (regulasi) dari Departemen Penerangan. Namun sekarang secara serentak, Kompas dicetak di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Banjarmasin, Palembang dan Medan. Hingga koran Jakarta itu bisa dibaca di Lubuk Pakam, Plei Hari atau Maros, bersamaan dengan saat orang Menteng membacanya.
Itu semua bisa terjadi berkat adanya teknologi komunikasi jarak jauh melalui satelit. Hingga pengiriman halaman dengan huruf dan gambar siap cetak itu bisa dilakukan dalam hitungan detik dari satu tempat ke tempat lainnya. Teknologi digital dengan komunikasi melalui satelit, saat ini juga memungkinkan seorang jurnalis yang berada di tengah hutan belantara Zaire, Brasil atau Papua bisa memotret perang, binatang buas atau pemandangan alam, dan saat itu juga dengan bantuan Notebook, Modem dan HP, gambar-ambar itu bisa sampai ke Jakarta, Tokyo, Paris atau New York. Dan saat itu juga berita berikut fotonya sudah bisa dinikmati konsumen di seluruh dunia. Baik melalui media cetak, televisi, internet maupun SMS.
Namun kemajuan teknologi yang demikian pesatnya itu, di lain pihak juga telah mengakibatkan pendangkalan berpikir di kalangan masyarakat, yang pada saat bersamaan juga menimpa para jurnalis. Dengan adanya media televisi dan internet, maka alokasi waktu dari tiap individu untuk membaca media cetak menjadi menyusut tajam. Kalau tahun 1980an orang masih tahan untuk duduk membaca koran atau majalah selama lebih dari satu jam per hari, maka tahun 2000an alokasi waktu itu rata-rata kurang dari 0,5 jam. Tuntutan untuk serba cepat dan serba instan, pada akhirnya juga telah menumpulkan daya pikir sebagian besar jurnalis kita. Sebab untuk bisa menghasilkan karya jurnalistik yang baik, tetap diperlukan waktu dan suasana kontemplatif yang cukup.

* * *

Jurnalis Indonesia, umumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik di perguruan tinggi. Sebab daya tampung jurusan publisistik dari Fakultas Komunikasi di perguruan tinggi negeri maupun swasta kita, terlalu kecil dibanding dengan kebutuhan tenaga jurnalis di lingkungan media massa saat ini. Karenaya, ketika melakukan perekrutan calon jurnalis baru, media massa Indonesia hanya mensyaratkan lulusan perguruan tinggi, dengan IP tertentu, usia tertentu dll. Terhadap fakultas maupun jurusannya, PSDM perusahaan pers sangat toleran. Hingga S1 dari IPB dengan jurusan Ilmu Tanah atau dari ITB dengan jurusan Teknologi Nuklir, akhirnya berkecimpung di dunia kewartawanan. Meskipun di lain pihak, kebijakan darurat demikian terbukti mampu memenuhi kebutuhan jurnalis bagi sekian banyak media massa, dalam jangka waktu yang relatif singkat.
Karena mengetahui bahwa latar belakang para calon jurnalisnya yang sangat beragam, maka penerbitan-penerbitan besar pun menyelenggarakan program in house training secara intensif. Hingga meskipun merupakan hasil kerja instan, penerbitan besar rata-rata memiliki SDM jurnalis yang relatif lebih baik dibanding dengan penerbitan sedang dan kecil. Namun SDM media massa cetak besar yang siap pakai ini, ternyata juga menarik perhatian stasiun tivi nasional yang saat ini jumlahnya ada belasan. Hingga kemudian banyak wartawan pers senior, yang akhirnya menyeberang terjun ke media audio visual. Trend ini pun, sebenarnya merupakan hal yang positif, sebab kuantitas dan kualitas SDM jurnalis di media massa audio visual, saat ini jauh lebih memprihatinkan dibanding dengan media cetak.
Yang disebut jurnalis, sebenarnya juga mengenal strata. Ada wartawan yang kerjanya berburu berita, ada redaktur yang mengolah bahan menjadi tulisan, ada redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi. Jabatan-jabatan struktural ini biasanya diisi oleh tenaga wartawan terbaik di media bersangkutan. Hingga profesi jurnalis di media massa besar, sebenarnya juga banyak “diganggu” secara intern oleh iming-iming jabatan struktural tersebut. Sebab imbalan untuk pekerjaan profesi di negeri ini memang masih kalah jika dibanding dengan imbalan bagi pelaksana jabatan struktural. Karenanya, banyak wartawan dengan kualifikasi sangat tinggi, akhirnya meninggalkan pekerjaan profesinya karena institusi menuntutnya untuk menjadi redaktur, redpel atau pemred.
Namun gangguan paling besar dari profesi kewartawanan di Indonesia saat ini adalah, lunturnya idealisme. Godaan untuk minta-minta atau melakukan pemerasan, tidak hanya dilakukan oleh wartawan di daerah tetapi juga di ibukota. Bukan hanya oleh wartawan dari penerbitan kecil yang miskin, melainkan juga oleh mereka yang bekerja di perusahaan besar dan prestisius. Ketika profesi jurnalis berhadapan dengan kekuasaan, tekanan masih bisa dianggap sebagai kebanggaan. Namun ketika profesi ini harus berjuang terhadap tekanan kekuasaan amplop, maka tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Di kalangan jurnalis pun, sekarang ada angapan, bahwa sikap yang lurus-lurus saja dan hanya mengandalkan pendapatan dari menulis, merupakan tindakan bodoh.

* * *

Dengan latar belakang semacam itu, tantangan bagi profesi kewartawanan sekarang ini menjadi semakin besar. Di satu pihak, bekal keterampilan teknis yang dimiliki oleh para jurnalis pemula sangat rendah atau nol sama sekali. Lebih-lebih mereka yang bukan berasal dari latar belakang pendidikan jurnalistik/publisistik di perguruan tinggi, dan juga tidak dipersiapkan melalui in house training oleh perusahaan pers tempatnya bekerja. Hingga kualitas teks yang ada di media massa, terutama di stasiun televisi, berada jauh di bawah standar kelayakan. Padahal, semua stasiun tivi saat ini memiliki tokoh jurnalis yang direkrut (dibajak) dari media pers. Namun tampaknya, tenaga berpengalaman ini kurang dimanfaatkan oleh media audio visual untuk pembenahan teks.
Tantangan berikut yang dihadapi oleh dunia jurnalis adalah, semakin banyak dan bervariasinya tawaran media. Tahun 1970, koran Kompas hanya terbit dengan 12 halaman. Hanya pada hari-hari tertentu koran ini terbit dengan 16 halaman. Pada waktu itu pemilik pesawat televisi baru ada satu dua di negeri ini. Stasiun televisinya juga baru ada satu dan hanya mengudara dari jam lima sore sampai tengah malam. Karenanya, di kota besar pun, halaman koran itu habis dibaca semua sampai ke iklan-iklannya. Saat ini ada belasan stasiun televisi yang sebagian besar mengudara 24 jam, sebelum ada regulasi dari pemerintah untuk membatasi siaran sampai tengah malam karena alasan penghematan energi. Semua rumah tangga punya pasawat televisi. Pelanggan koran Kompas misalnya, biasanya juga melanggan koran, majalah atau tabloid lain. Kesibukan di kota kecamatan pun, dewasa ini juga sangat tinggi. Hingga kesempatan untuk membaca, dan juga menonton televisi menjadi semakin terbatas.
Seperti telah disebut di atas, tantangan paling besar bagi profesi jurnalis saat ini adalah lunturnya idealisme. Namun gejala demikian bukan hanya monopoli jurnalis. Cendekiawan, seniman, tentara, pendidik bahkan rohaniwan pun, akhir-akhir ini semakin berat harus bergelut dengan godaan pengingkaran profesi. Hingga pada akhirnya yang paling penting bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagaimana memberi makna sebuah profesi sebagai panggilan hidup. Hal semacam inilah yang dalam era hedonisme sekarang, sangat sulit untuk terus dipertahankan. Namun justru perjuangan berat demikianlah yang selalu menarik untuk terus-menerus digeluti. Sebab semakin maju dan kompleks sebuah profesi, memang akan semakin banyak pula godaannya.

* * *

II DUNIA JURNALISTIK DAN MEDIA MASSA

1 Ilmu Jurnalistik

Apakah yang dimaksud sebagai ilmu jurnalistik?
Ilmu jurnalistik adalah bagian dari ilmu publisistik (to publish = publikasi). Publisistik sendiri merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Makna jurnalistik adalah hal ihwal yang berhubungan dengan persurat-kabaran (media massa cetak = pers). Secara lebih sederhana, jurnalistik sering diartikan sebagai ilmu tentang tulis-menulis di media massa. Padanan ilmu jurnalistik adalah pengetahuan kewartawanan. Hingga jurnalis juga dipadankan dengan wartawan, yang merupakan profesi untuk memperoleh informasi guna disebarluaskan ke masyarakat melalui media massa cetak. Sekarang profesi jurnalis / wartawan tidak hanya terkait dengan media massa cetak, melainkan juga radio, televisi, kantor berita dan multi media (web site).

Di manakah kita bisa belajar ilmu jurnalistik?
Secara formal, ilmu jurnalistik bisa dipelajari di perguruan tinggi negeri maupun swasta, melalui program diploma, strata 1, 2 (magister) dan 3 (Phd. / Dr.) Umumnya jurnalistik hanya menjadi Satuan Mata Kuliah (SKS) dari jurusan publisistik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Namun ada beberapa perguruan tinggi, yang menjadikan jurnalistik sebagai salah satu jurusan di Fakultas Publisistik, bersamaan dengan Advertising dan Public Relation (PR = kehumasan).

Sejak kapankah karya jurnalistik mulai ditulis?
Karya jurnalistik mulai dibuat sejak jaman Mesir Kuno, yakni ketika kultur manusia mengenal peradaban menulis. Bentuk tulisan yang pertama berkembang adalah reportase (to report = melaporkan). Peninggalan karya jurnalistik tertua (1.500 SM), berupa manuskrip berhuruf hieroglyph di atas daun papyrus (paper = kertas) dan relief dinding batu di salah satu kuil di Mesir. Isi manuskrip adalah perjalanan seorang Raja Mesir (Fira’un) untuk menaklukkan kota Megido (sekarang Lebanon). Pada jaman Julius Caesar (Romawi, 100 – 44 SM), laporan pandangan mata dari medan perang ditulis dan dipasang secara periodik di papan pengumuman di kota. Menuliskan hasil perjalanan, juga dilakukan oleh para “jurnalis” Cina kuno yang berlayar bersama para pedagang dan penyebar agama Budha.

Sejak kapankah ilmu jurnalistik berkembang?
Ilmu jurnalistik berkembang sejak abad XV, bersamaan dengan diketemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg dari Jerman. Sejak itu berkembanglah penerbitan buku. Selain buku juga terbit media berkala secara periodik dan dicetak massal untuk dijual ke masyarakat luas. Bersamaan dengan berkembangnya media massa cetak, berkembang pulalah ilmu jurnalistik.

Apakah untuk menjadi wartawan profesional, seseorang harus memiliki pendidikan formal seperti halnya dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal?
Tidak harus. Siapa pun bisa berprofesi sebagai wartawan, asalkan memiliki keterampilan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh media massa tempatnya bekerja (wartawan tetap) dan yang akan dikirimi tulisan/foto (wartawan free lance, kontributor tetap). Jadi profesi wartawan berbeda dengan dokter, pengacara, akuntan publik, pilot dan awak kapal yang harus memiliki pendidikan khusus dengan standar internasional.

Selain melalui pendidikan formal di perguruan tinggi, di manakah seseorang bisa belajar ilmu jurnalistik?
Biasanya calon wartawan dengan pendidikan strata 1 berbagai jurusan, setelah diterima bekerja di perusahaan media massa, akan dididik (diberi bekal ilmu jurnalistik) melalui program in house training. Selain itu, cukup banyak kursus dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga swasta, yang terbuka untuk umum. Seseorang yang berminat belajar ilmu jurnalistik bisa mengikuti training-training di lembaga swasta tersebut.

2 Dunia Media Massa

Apakah yang dimaksud sebagai media massa?
Media massa atau kadang hanya disebut sebagai media, adalah peralatan (sarana) untuk menyebarkan informasi ke masyarakat. Media massa ada yang bersifat komersial (dijual dan menerima iklan). Ada pula yang bersifat non komersial dan dibiayai oleh lembaga penyelenggaranya. Biasanya media massa non komersial diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kenegaraan, keagamaan, pemerhati lingkungan dan sosial kemasyarakatan, atau sebagai alat promosi dan PR bagi perusahaan besar. Misalnya majalah maskapai penerbangan yang ditaruh di masing-masing kursi pesawat.

Ada berapa macamkah media massa saat ini?
Saat ini kita mengenal media massa cetak, media massa radio, media massa film (bioskup), media massa televisi, kantor berita, media massa luar ruang (poster, spanduk, billboard, balon) dan multi media (internet/web site).

Media massa manakah yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik?
Yang paling terkait dengan pekerjaan jurnalistik adalah media massa cetak, radio, tivi dan kantor berita. Sementara film, media luar ruang dan multi media kurang terkait dengan kerja jurnalistik secara langsung.

Media massa manakah yang paling berpengaruh saat ini?
Media massa yang paling berpengaruh saat ini adalah televisi. Sebab daya jangkau televisi sangat luas, serentak dan cepat. Nomor dua media massa cetak. Media massa radio pernah berperan sangat besar pada waktu perang dunia I maupun II. Sebab pada saat itu media televisi belum berkembang seperti sekarang. Media kantor berita biasanya hanya berbentuk buletin atau kalau sekarang berupa web site. Fokus kantor berita internasional saat ini adalah fotografi.

Mungkinkah salah satu bentuk media massa itu akan mati karena desakan jenis media yang lebih kuat?
Tidak mungkin. Sebab masing-masing memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Contohnya media radio yang pernah sangat berpengaruh pada era perang dunia II, kemudian surut karena terdesak media televisi pada tahun 1980an. Namun media radio kembali menemukan perannya ketika lalulintas di kota besar menghadapi masalah kemacetan. Di sinilah radio kembali memegang peranan penting dan menemukan pasarnya. Media radio cocok untuk masyarakat/orang yang sedang melakukan sesuatu hingga tidak mungkin membaca atau menonton tivi. Misalnya mereka yang sedang mengemudikan mobil, bekerja di pabrik, kebun dll.

3 Media Massa Cetak

Apa sajakah yang dikatagorikan sebagai media massa cetak?
Yang dikatagorikan sebagai media massa cetak adalah koran, tabloid, majalah, bulletin, jurnal dan news letter.

Apakah yang membedakan media massa cetak dengan buku?
Media massa cetak diterbitkan secara periodik, dengan nama penerbitan sama, diberi nomor serta tanggal terbit dan memuat isi yang bersifat faktual. Sementara buku tidak terbit secara periodik dan memuat isi yang tidak bersifat faktual.

Bagaimanakah periodisasi terbitnya media massa cetak?
Periodisasi terbitnya media massa cetak pada umumnya adalah: harian, mingguan, dua mingguan, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan, empat bulanan, tengah tahunan dan tahunan. Media massa yang terbit harian, umumnya koran. Sementara yang terbitnya dua bulanan sampai setahun sekali umumnya jurnal. Periodisasi yang paling banyak digunakan, selain harian adalah mingguan dan bulanan. Biasanya tabloid dan majalah menggunakan pola terbit mingguan dan bulanan.

Bagaimanakah media massa cetak dibuat?
Media massa cetak dibuat dengan cara mencari dan mengumpulkan bahan, baik bahan tertulis, gambar dan foto. Pekerjaan ini dilakukan oleh para wartawan. Bahan itu diolah menjadi tulisan oleh redaksi, untuk selanjutnya ditata dalam halaman-halaman penerbitan, dibuat film dan plate lalu dicetak, untuk majalah harus dijilid dan kemudian diedarkan. Baik secara cuma-cuma maupun dijual.

Bagaimanakah media massa cetak diedarkan?
Media massa cetak diedarkan secara cuma-cuma oleh lembaga kenegaraan/pemerintahan, keagamaan, perusahaan dll. Media massa cetak yang diedarkan secara komersial, bisa dijual di agen koran/majalah (di lapak), dijual para pengasong di jalan raya, di toko buku dan dilanggan oleh konsumen. Pelanggan bisa menerima penerbitan media massa melalui jasa pos, hantaran atau loper yang dipekerjakan oleh agen.

Bagaimanakah penerbitan media massa cetak dibiayai?
Media massa cetak non komersial, dibiayai oleh anggaran lembaga yang menerbitkannya, karena akan diedarkan secara cuma-cuma. Media massa cetak komersial, dibiayai dari penjualan media massa tersebut, uang langganan dan jasa penjualan halaman untuk dipasangi iklan. Ada pula pemasukan dari advertorial (iklan dalam bentuk artikel). Media massa tertentu, juga memperoleh pendapatan dari produk pendukungnya (barang promosi). Bahkan kadang-kadang produk pendukung ini justru bisa mendatangkan pemasukan lebih tinggi.

Apakah untuk menerbitkan media massa cetak memerlukan ijin khusus?
Sebelum tahun 1998, penerbitan media massa cetak memerlukan ijin khusus yang pengurusannya sangat rumit dan berbelit serta memerlukan dana besar. Hingga pada waktu itu SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Setelah tahun 1998, penerbitan media massa cetak bisa dilakukan dengan bebas oleh siapa saja.

4 Wartawan, Redaktur dan Penulis Lepas

Apakah yang dimaksud sebagai wartawan, redaktur dan penulis lepas?
Wartawan, jurnalis atau reporter adalah profesi untuk memperoleh informasi dengan mendatangi sumbernya. Istilah yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan ini adalah meliput. Hasil liputan para wartawan, akan ditulis dan diserahkan ke redaktur untuk diseleksi, diolah lagi dan disajikan dalam bentuk tulisan di media cetak, siaran radio atau televisi. Penulis/wartawan lepas (free lance) adalah penulis berita, reportase, artikel, feature dan bentuk tulisan lain yang tidak terikat (bekerja) di satu lembaga. Penulis/wartawan lepas bisa bekerja di rumah masing-masing dan mengirimkan hasil tulisannya ke media manapun.

Ada berapa macamkah wartawan yang biasa melayani media massa?
Sesuai dengan medianya, ada wartawan media massa cetak (koran, tabloid, majalah); wartawan radio, wartawan televisi dan wartawan kantor berita. Kalau dilihat dari jenis pekerjaannya ada wartawan biasa yang pekerjaannya menulis berita dan ada wartawan foto yang pekerjaannya memotret. Dengan berkembangnya media televisi, kemudian dikenal pula reporter yang pekerjaannya mewawancarai sumber berita dan cameraman yang tugasnya mengambil gambar audio visual dari peristiwa atau sumber. Dilihat dari prestasinya, ada wartawan biasa dan ada pula wartawan senior. Yang disebut wartawan senior, bukan mereka yang sudah menggeluti profesi kewartawanan cukup lama atau usianya sudah tua, melainkan yang mampu mencapai prestasi kerja kewartawanan dan diakui oleh masyarakat.

Apakah beda wartawan dengan redaktur?
Wartawan adalah pemburu informasi di lapangan, sementara redaktur adalah juru masak yang memberi order peliputan, mengumpulkan hasil liputan dan mengolahnya menjadi tulisan. Di koran-koran besar, wartawan dikelompokkan sesuai dengan rubrik yang ditangani. Misalnya wartawan ekonomi, politik, olahraga, budaya dll. Masing-masing rubrik dikepalai oleh redaktur yang disebut desk.

Apakah yang disebut pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, redaktur pracetak dan sekretaris redaksi?
Pemimpin redaksi adalah pemegang kekuasaan tertinggi di bagian redaksi sebuah media massa. Pekerjaan utamanya adalah membuat kebijakan dan meneruskannya ke redaktur pelaksana untuk diaplikasikan pada kegiatan sehari-hari. Di koran besar, redaktur pelaksana memimpin desk yang masing-masing dibantu oleh wartawan rubrik. Selain itu ada wartawan non desk yang biasanya langsung berada di bawah redaktur pelaksana atau pemimpin redaksi. Redaktur pracetak adalah redaksi yang pekerjaannya menangani lay out penerbitan pers termasuk segi artistiknya. Di koran-koran pagi biasanya juga dikenal istilah redaktur malam. Yakni redaksi yang bertugas pada malam hari sebelum batas deadline koran untuk naik cetak. Sekretaris redaksi adalah kepala rumahtangga redaksi. Urusannya mulai dari administrasi naskah, uang transpor, honor, kegiatan rapat dll. Sekretaris redaksi bertanggungjawab langsung kepada pemimpin redaksi.

Manakah yang jenjangnya lebih tinggi: wartawan atau redaktur/redaktur pelaksana?
Wartawan dan redaksi adalah jenis pekerjaan yang berbeda. Wartawan adalah jenjang profesi. Sama dengan dosen, dokter, pengacara dll. yang jenjangnya sangat tergantung dari keahlian dan prestasinya dalam menjalankan profesi. Sementara redaktur (desk), redaktur pelaksana, pemimpin redaksi, redaktur pracetak dan sekretaris redaksi berikut para wakilnya adalah jenjang struktural. Hingga bisa saja penghasilan seorang wartawan senior dalam satu perusahaan pers, lebih tinggi dari redaktur bahkan redaktur pelaksananya. Sama halnya dengan di rumah sakit atau perguruan tinggi, yang gaji dokter spesialis atau guru besarnya lebih tinggi dari kepala bagian atau kepala jurusan.

Bagaimanakah caranya agar seseorang bisa menjadi wartawan/penulis lepas?
Caranya harus dengan menulis berita, hasil reportase, artikel feature atau bentuk tulisan lain dan mengirimkannya ke media massa. Semakin sering karya seseorang dimuat media massa, maka kredibilitasnya akan semakin baik. Namun yang bisa benar-benar menjadi wartawan/penulis lepas, dalam arti hidup dari honorarium menulis, hanyalah mereka yang sudah mampu meraih status sebagai wartawan senior.

Apakah penyair, cerpenis dan novelis yang karyanya sering muncul di media massa bisa dikatagorikan sebagai penulis lepas (free lance)?
Tidak bisa. Sebab mereka lebih lazim disebut sasterawan. Yang mereka tulis pun karya fiksi. Istilah penulis lepas, lazim digunakan hanya untuk menyebut penulis berita, artikel dan feature yang tidak terikat bekerja di satu perusahaan pers.

5 Pendidikan Menulis dan Jurnalis

Ada berapa macamkah pendidikan menulis dan jurnalis?
Pendidikan menulis (dalam arti mengarang, menyusun tulisan), sudah mulai diajarkan sejak di bangku SD. Pelajaran menulis ini terus berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi. Di sini, keterampilan menulis sangat diperlukan dalam rangka menyusun karya ilmiah sebagai bagian dari tugas akhir maupun hasil penelitian. Sementara pendidikan jurnalis (kewartawanan) hanya diajarkan secara formal di jurusan publisistik atau jurnalistik di perguruan tinggi yang membuka jurusan ini, baik untuk program diploma maupun strata. Selain pendidikan formal, menulis dan kewartawanan juga diajarkan di berbagai lembaga pelatihan/training. Media massa besar, baik cetak, radio, televisi dan kantor berita juga mengajarkan keterampilan menulis dan jurnalis melalui program in house training.

Profesi apa sajakah yang terkait dengan kegiatan tulis menulis?
Profesi yang terkait dengan kegiatan tulis menulis antara lain sasterawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis naskah drama), wartawan, kolumnis, esais, penulis teks iklan (copy writer), penulis script program radio/tivi, penulis skenario film/sinetron dan ghost writer (penulis pidato, sambutan, artikel dan buku untuk seorang tokoh).

Apakah mereka yang sudah memiliki status penulis/wartawan berarti tidak perlu belajar lagi?
Mereka yang sudah meraih predikat sebagai penulis/wartawan profesional pun tetap harus terus-menerus belajar. Baik secara formal, non formal maupun informal. Pendidikan menulis secara formal di perguruan tinggi, hanya terbatas menyangkut profesi jurnalis (non fiksi). Sementara sasterawan, tidak ada sekolah formalnya. Fakultas sastra di perguruan tinggi, hanya sebatas mengajarkan ilmu sastra. Bukan mendidik mahasiswa untuk menjadi sasterawan.

Dalam pendidikan menulis dan jurnalis, manakah yang lebih penting: belajar atau berlatih?
Berlatih jelas lebih penting. Sebab kegiatan menulis atau menjadi wartawan, lebih memerlukan keterampilan (skill) dan bukan sekadar pengetahuan. Selain dengan berlatih, skill juga akan datang secara otomatis kalau seseorang terus-menerus bekerja sambil memperbaiki diri. Keterampilan apa pun, hanya akan meningkat apabila seseorang telah memiliki “jam terbang” cukup banyak.

Mengapa informasi mengenai pendidikan tulis menulis dan kewartawanan sampai sekarang sangat jarang sampai ke masyarakat?
Sebab dunia tulis menulis memang hanya digeluti oleh sedikit orang. Kebanyakan penulis buku petunjuk praktis menulis dan kewartawanan, justru mereka yang tidak memiliki pengetahuan ilmu jurnalistik. Misalnya sasterawan yang kebetulan juga wartawan, menulis buku petunjuk untuk menjadi penulis/wartawan. Atau dosen perguruan tinggi membuat buku petunjuk praktis “Menulis Ilmiah Populer di Media Masa”. Sementara mereka yang memiliki pengetahuan jurnalistik cukup baik, jarang yang mau menyusun buku petunjuk.

* * *

III PELATIHAN JURNALISTIK

1 Tentang Modul

Apakah yang disebut sebagai modul?
Dalam pengertian umum, modul adalah standar atau satuan pengukur. Dalam konteks pendidikan, modul adalah paket atau program belajar mengajar, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai ke evaluasi terhadap dampak hasil pelaksanaan.

Ada berapa macam modulkah dalam dunia pelatihan?
Ada modul dasar, ada modul lepas dan modul lengkap. Yang dimaksud sebagai modul dasar adalah paket belajar – mengajar secara lengkap, namun hanya menyangkut garis besarnya saja. Tujuannya agar peserta didik memiliki pengetahuan dasar tentang suatu bidang, sektor atau materi yang dilatihkan. Modul lepas adalah paket belajar – mengajar secara detil dan mendalam, namun hanya menyangkut satu bagian dari keseluruhan kegiatan. Modul lengkap adalah paket belajar mengajar secara lengkap, detil dan mendalam. Biasanya yang disebut modul lengkap, adalah modul dasar ditambah dengan keseluruhan modul lepas.

Bagaimanakah kaitan modul dasar dan modul lepas dalam pelatihan jurnalistik?
Dalam kaitan pelatihan jurnalistik, yang dimaksud sebagai modul dasar adalah, peserta didik diharapkan memiliki pengatahuan dasar tentang teori jurnalistik, berikut semua bentuk tulisan di media massa dan tatakerja penerbitannya. Berarti seorang peserta didik yang mengikuti modul dasar, sudah siap untuk terjun sebagai wartawan pemula. Modul dasar cocok untuk melatih pengelola bulletin, jurnal dan penerbitan intern lainnya. Modul lepas adalah paket belajar – mengajar yang bisa berdiri sendiri, namun masih memiliki keterkaitan dengan keseluruhan paket kegiatan. Misalnya modul penulisan news, artikel, features, reportase. Modul ini dibuat berdasarkan bentuk tulisan di media massa. Bisa pula modul lepas disusun berdasarkan aspek yang akan dikerjakan dalam kegiatan kewartawanan. Misalnya modul penentuan tema tulisan, pengumpulan bahan dan peliputan, memotret, bahasa jurnalistik, pemilihan media, rubrikasi dll. Modul lepas bisa dipergunakan secara tersendiri (misalnya pelatihan meliput), beberapa modul lepas sekaligus (misalnya menulis news, artikel dan feature), bisa juga modul lepas tersebut digabung secara keseluruhan dan ditambah modul dasar hingga menjadi modul lengkap.

Bagaimanakah kaitan antara modul dasar, modul lepas dan modul lengkap dalam pelatihan jurnalistik?
Modul dasar bisa diberikan dengan alokasi waktu dua sampai 3 hari (20 sd. 30 jam efektif). Modul lepas bisa diberikan masing-masing dengan alokasi waktu sama dengan modul dasar. Kalau dalam pelatihan jurnalistik disusun 5 modul lepas, maka alokasi waktu untuk modul lengkap (lima modul lepas + satu modul dasar) adalah 18 hari atau antara 360 sd. 540 jam efektif. Untuk menghemat biaya, biasanya disusun modul dasar terlebih dahulu, baru kemudian modul lepas yang dianggap paling urgent. Setelah jumlah modul lepas dirasa cukup, baru dirangkai menjadi modul lengkap.

Apa sajakah yang harus dibuat dalam sebuah modul pelatihan jurnalistik?
Yang mula-mula harus disusun adalah, karakteristik kelompok sasaran dari pelatihan yang direncanakan. Misalnya, mereka adalah kelompok masyarakat umum, usia antara 20 sd. 40 tahun, berpendidikan perguruan tinggi (heterogen), sebagian besar sudah bekerja di berbagai bidang/sektor. Yang menyatukan mereka adalah, semuanya merupakan pengasuh bulletin/jurnal intern kelembagaan dan ingin agar media tersebut jadi lebih baik. Semuanya juga berharap untuk bisa menulis artikel di media massa umum. Dari sini kita bisa menentukan tujuan pelatihan. Dari tujuan tersebut, ketahuan bahwa yang diperlukan adalah modul dasar dengan modul lepas penulisan artikel. Dua modul ini harus dikonkritkan dengan mendata kuantitas dan kualitas peserta, kurikulum, jadwal, hand out, alat peraga, instruktur, narasumber, lokasi dan waktu palatihan. Dari data yang ada bisa disusun proposal berikut anggaran biayanya.

2 Kurikulum dan Metodologi

Apakah yang disebut sebagai kurikulum?
Kurikulum adalah kelompok mata pelajaran yang harus diberikan dalam satu program pendidikan, lengkap dengan satuan waktu yang diperlukannya.

Dalam konteks modul dasar pelatihan jurnalistik, kurikulum yang bagaimanakah yang diperlukan?
Seperti halnya dengan modul, kurikulum pun disusun berdasarkan karakteristik peserta didik, berikut kebutuhan yang mereka rasakan. Kurikulum untuk para calon wartawan koran terkemuka, tentu lebih banyak terfokus pada news dan reporting. Kurikulum untuk penulis lepas, lebih banyak terfokus ke artikel. Setelah itu baru ditentukan, materi apa saja yang harus disampaikan untuk mencapai tujuan tersebut, berapa waktu yang diperlukan dan metodologi apa yang paling tepat untuk menyampaikannya.

Apa sajakah materi minimal yang diperlukan dalam kurikulum modul dasar pelatihan jurnalistik untuk umum?
Pertama pengenalan media massa dan kegiatan jurnalistik. Berikutnya bentuk-bentuk tulisan, menentukan tema, mencari bahan/meliput, memotret, menulis dengan 5 W 1 H dan terakhir mengirim teulisan tersebut ke media massa umum. Idealnya materi tersebut disampaikan dalam jangka waktu satu minggu. Namun bisa saja dilakukan strategi hanya dua hari di kelas, kemudian latihan di rumah masing-masing untuk berkumpul lagi di kelas selama dua hari.

Apakah yang disebut sebagai metodologi?
Metodologi adalah strategi dan teknik penyampaian kurikulum kepada peserta didik, yang dilakukan oleh instruktur atau narasumber, dengan tujuan diperoleh efektifitas dan efisiensi optimal. Misalnya, kalau tujuan pelatihan adalah agar tulisan peserta didik (umum) bisa dimuat di media massa, maka metode work shop paling efektif dan efisien.

Faktor apa sajakah yang harus diperhatikan dalam menentukan metodologi?
Pertama faktor peserta. Kalau pesertanya remaja dan anak-anak, metode bermain akan lebih efektif dan efisien. Peserta ibu-ibu atau bapak-bapak, lebih cocok metode simulasi atau diskusi kelompok. Selain spesifikasi peserta, faktor jumlah juga sangat menentukan metodologi yang harus digunakan. Peserta 10 sd. 20 orang, paling tepat metodologi diskusi intensif. Jumlah 20 sd. 30 orang bisa dengan metode diskusi kelompok dan pleno. Modelnya masih model kelas. Peserta di atas 50 harus menggunakan metode ceramah. Peserta berjumlah ratusan harus memakai metode pidato. Selain peserta, waktu dan lokasi pelatihan juga harus menjadi pertimbangan dalam menyusun metodologi. Kalau waktunya pendek, maka metode ceramah dan tanya jawab labih tepat. kalau waktunya panjang, maka diskusi kelompok dan pleno lebih baik dilakukan. Selain itu juga dipertimbangkan apakah peserta menginap di lokasi pelatihan atau tidak dsb. Lokasi pelatihan di Jakarta atau kota besar lainnya, pasti memerlukan metodologi yang berbeda dibanding dengan pelatihan yang diselenggarakan di luar kota. Selain itu juga perlu dilihat faktor ruang kelas, peraga, kuantitas dan kualitas instruktur/narasumber. Dan terakhir yang paling penting adalah faktor biaya.

Mengapa pelatihan yang banyak diselenggarakan di Indonesia selama ini hanya menggunakan metodologi ceramah dan tanya jawab?
Karena penyelenggara pelatihan, umumnya terdiri dari karyawan biasa dari sebuah lembaga, yang sama sekali tidak menguasai bidang palatihan. Hingga pelatihan hanya diartikan sebagai mengumpulkan peserta di satu tempat, mengundang pembicara dengan makalahnya lalu diadakan tanyajawab dan selesai. Di Indonesia, hanya sedikit lembaga pendidikan yang benar-benar menguasai metodologi pelatihan.

3 Hand Out Pelatihan

Apakah yang disebut sebagai hand out pelatihan?
Hand out pelatihan adalah barang cetakan, kaset, DVD (Digital Video Disc), VCD (Video Compact Disc) atau bentuk-bentuk lain yang berisi materi pelatihan, sebagai acuan bagi peserta didik, instruktur maupun narasumber.

Mengapa selama ini peserta pelatihan hanya diberi makalah yang berasal dari narasumber?
Karena panitia penyelenggara pelatihan tidak tahu bahwa hand out adalah salah satu sarana pelatihan yang sangat penting dan variasi bentuknya sangat beragam.

Dalam kaitan dengan pelatihan jurnalistik, hand out apa sajakah yang diperlukan?
Pertama buku-buku tentang pelajaran dan pengetahuan tulis – menulis serta jurnalistik. Di Indonesia buku-buku demikian masih sangat sedikit. Buku tentang tulis menulis yang lengkap hampir semuanya masih berbahasa Inggris dan hanya ada di perpustakaan besar. Yang juga bisa dimanfaatkan sebagai hand out adalah bahan-bahan pelatihan intern media massa dan diktat-diktat pelajaran di jurusan publisistik dan jurnalistik perguruan tinggi.

Mengapa hand out mutlak diperlukan dalam sebuah pelatihan?
Hand out sangat diperlukan dalam sebuah pelatihan, karena ibaratnya buku pelajaran di sekolah dan perguruan tinggi. Hand out diharapkan bisa terus membantu peserta didik setelah yang bersangkutan selesai mengikuti program pelatihan.

Bisakah hand out dibuat khusus oleh panitia atau penyelenggara pelatihan untuk kebutuhan yang juga sangat khusus?
Seharusnya memang demikian. Penyelenggara pelatihan seharusnya menyusun modul, kurikulum berikut hand outnya dalam sebuah paket palatihan. Namun untuk melakukan tiga hal ini sekaligus, biayanya akan sangat mahal. Hingga bisa saja pelatihan memanfaatkan hand out berupa buku-buku, brosur, diktat dll. dari luar.

4 Alat Peraga Pelatihan

Apakah yang disebut sebagai alat peraga pelatihan?
Alat peraga pelatihan adalah benda, termasuk tumbuhan, binatang dan manusia, yang bisa membantu proses transfer informasi dari instruktur, narasumber dan hand out ke peserta didik. Benda yang biasa dijadikan sebagai peraga adalah peta, gambar, poster, foto, televisi, OHP, Slide Projector, In Focus, papan panel, papan tulis dll. Barang-barang yang tidak lazim pun, termasuk tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, bisa dijadikan alat peraga asal efektif dan efisien.

Alat peraga apakah yang minimal harus ada dalam sebuah pelatihan jurnalistik?
Contoh koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter mutlak harus ada sebagai peraga. Kemudian perangkat fotografi, hasil foto-fotonya dll. Perangkat standar yang bisa membantu sebagai peraga adalah OHP, In Fokus, slide projector, papan panel dan papan tulis.

Mengapa tumbuhan, binatang dan manusia bisa dijadikan peraga dalam pelatihan jurnalistik?
Tumbuhan, misalnya pohon-pohon atau tanaman lain di halaman lokasi pelatihan, bisa dijadikan peraga dalam mata pelajaran pengamatan lapang. Demikian pula halnya dengan binatang. Misalnya, pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan di Hotel Safari Gerden di Cisarua, bisa memanfaatkan binatang di Taman Safari sebagai peraga ketika seorang instruktur atau narasumber menjelaskan proses peliputan dan pengumpulan informasi. Manusia bisa dijadikan peraga ketika kelas sedang melakukan prektek simulasi wawancara. Salah satu panitia atau instruktur dijadikan peraga untuk simulasi wawancara.

Mengapa alat peraga penting dalam sebuah pelatihan?
Alat peraga memegang peran penting dalam sebuah pelatihan, karena bisa membantu meningkatkan prosentase informasi yang bisa ditangkap oleh peserta didik. Kalau seorang narasumber hanya membagikan makalah, kemudian berbicara lalu tanya jawab, maka informasi yang bisa ditangkap peserta didik sekitar 40%. Kalau dalam mata pelajaran menulis artikel tentang martabak telor, diundang seorang tukang martabak lengkap dengan gerobaknya untuk dijadikan peraga (diwawancarai), maka prosentase informasi yang bisa ditangkap peserta didik akan meningkat sampai 70%.

Mengapa selama ini alat peraga kurang dimanfaatkan secara optimal dalam tiap pelatihan?
Karena penyelenggara pelatihan, instruktur dan narasumber kurang memahami pentingnya peraga dalam sebuah pelatihan. Selain itu faktor biaya kadang-kadang juga menjadi kendala dalam penyediaan dan kelengkapan peraga.

Bisakah paraga justru mengganggu proses belajar mengajar dalam sebuah pelatihan?
Bisa. Misalnya, sehabis makan siang, perancang kurikulum pelatihan memasukkan jadwal pemutaran film. Sebab materi yang ada di kurikulum adalah menulis resensi film. Ketika film diputar, maka perhatian seluruh peserta didik akan tertuju ke film tersebut. Bukan pada materi palatihannya.

5 Instruktur dan Narasumber

Apakah yang dimaksud sebagai instruktur dalam sebuah pelatihan?
Instruktur adalah pemimpin pelatihan, yang tugas utamanya memberi instruksi kepada peserta didik, sesuai dengan kurikulum dan metodologi yang digunakan. Dalam satu pelatihan jurnalistik dengan peserta 20 sd. 30 orang, idealnya ada dua orang instruktur yang bekerja bergantian (dua shift) atau bersamaan (berduet).

Apakah syarat utama yang harus dipenuhi oleh seorang instruktur pelatihan?
Pertama dia harus ramah dan berkepribadian menyenangkan. Berpenampilan menarik namun tetap sopan. Mampu berbicara keras meskipun tanpa mike dan memiliki wibawa (pengaruh) agar instruksinya dipatuhi oleh seluruh peserta didik. Instruktur juga harus bisa memberi motivasi kepada peserta didik, bahwa yang paling diuntungkan dari program pelatihan ini adalaa para peserta didik sendiri.

Apakah instruktur tidak perlu menguasai materi pelatihan?
Instruktur memang harus tahu materi pelatihan yang akan diberikan melalui modul, kurikulum, metodologi dan hand out. Namun instruktur tidak perlu menguasai materi pelatihan. Sebab yang harus menguasai materi pelatihan adalah narasumber. Yang harus dikuasai oleh instruktur justru kurikulum dan metodologinya.

Apakah yang disebut sebagai narasumber dalam pelatihan?
Narasumber adalah tokoh yang diangap menguasai salah satu materi pelatihan sesuai dengan kurikulum dan hand out pelatihan. Dalam pelatihan jurnalistik maka narasumber bisa seorang wartawan profesional, fotografer, redaktur atau dosen jurnalistik di perguruan tinggi. Lebih ideal lagi kalau narasumber tersebut seorang pakar dalam bidangnya. Misalnya, narasumber untuk materi penulisan artikel, adalah seorang penulis artikel kenamaan, namun sekaligus juga tahu ilmu jurnalistik, khususnya mengenai artikel.

Apakah seorang narasumber tidak perlu menguasai metodologi pelatihan?
Narasumber tidak perlu menguasai metodologi pelatihan. Sebab yang akan menangani metodologi adalah instruktur dan panitia.

Apakah semua penulis artikel hebat (terkenal), bisa dijadikan narasumber dalam sebuah pelatihan?
Pertama, penulis tersebut harus bersedia tampil dengan mamatuhi ketentuan penyelenggara pelatihan (menyangkut honor dll). Kedua, penulis tersebut harus bisa berbicara di depan peserta dengan jelas, menarik namun tetap akurat. Ketiga, narasumber tersebut diharapkan benar-benar menguasai bidang penulisan dengan cukup baik (bukan sekadar terampil menulis).

6 Penyelenggaraan Pelatihan

Apakah yang dimaksud dengan penyelenggaraan pelatihan?
Penyelenggaraan pelatihan dimulai setelah ada modul, kurikulum, metodologi dan hand out. Dengan modal tersebut bisa disusun proyek proposal dengan anggaran biayanya. Namun yang terjadi selama ini, sebuah institusi membuat proyek proposal sederhana, diajukan dan ketika anggaran turun baru direncanakan pelaksanaan pelatihan. Yang disebut rencana pelatihan pun hanya terkait dengan kepesertaan, pelatih dan lokasi pelatihan. Modul, kurikulum, metodologi dan hand out tidak pernah terpikirkan dalam rapat perencanaan.

Dari manakah biaya penyelenggaraan pelatihan diperoleh?
Biaya pelatihan bisa berasal dari anggaran intern institusi. Baik institusi pemerintah (departemen, pemda, BUMN), lembaga keagamaan, LSM, perguruan tinggi dan lembaga penyelenggara media massa. Bisa pula biaya berasal dari lembaga donor. Terutama lembaga donor asing (UNDP, USAID, Ford Foundation, Asia Foundation, MEE dll). Namun biaya juga bisa dipungut dari peserta pelatihan sendiri. Meskipun bisa tidak 100%. Misalnya ada subsidi 25%, 50% atau 75%.

Bagaimanakah penyelenggaraan pelatihan di pemerintahan diorganisir?
Di lembaga pemerintah, baik departemen, non departemen maupun pemda, penyelenggaraan pelatihan dilakukan oleh Pimpinan Proyek (Pimpro) yang sebelum era reformasi kekuasaannya luarbiasa besar. Kontrol dari inspektorat, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan = Proyek) tidak pernah bisa efektif. Akibatnya penyelenggaraan pelatihan, termasuk pelatihan jurnalistik, hanyalah upaya untuk mencairkan dana proyek.

Bagaimanakah seharusnya penyelenggaraan pelatihan diorganisir dengan benar?
Di lembaga-lembaga swasta profesional, terutama di perusahaan pengelola media massa, program in house training jurnalistik dilakukan oleh unit independen yang permanen. Baik untuk melatih calon wartawan, untuk penyegaran bagi wartawan lama maupun untuk melayani pihak luar. Pelatihan intern demikian dilakukan secara reguler dengan instruktur dan narasumber intern perusahaan tersebut. Penyelenggara pelatihan jurnalistik profesional independen, juga melakukan pelatihan reguler untuk melayani perusahaan media massa maupun pihak luar. Mereka punya unit pelaksana pelatihan yang independen dengan instruktur permanen, namun tidak memiliki narasumber. Pelatihan insidental oleh lembaga swasta, biasanya dikelola oleh satu panitia. Baik panitia pelaksana maupun pengarah. Instruktur dan narasumber semuanya dari luar.

Bagaimanakah penyelenggaraan pelatihan yang dilakukan oleh panitia?
Panitia pengarah (SC), hanya bertugas menjaga agar tujuan ideal pelatihan bisa berhasil dicapai sesuai target. Panitia pelaksana (OC), bertugas melaksanakan pelatihan mulai dari menghubungi instruktur, narasumber, peserta, memilih dan booking lokasi, mendapatkan hand out dan peraga dll.

Siapakah yang lebih berkuasa dalam pelaksanaan pelatihan, instruktur atau ketua OC?
Ketua OC bertanggungjawab terhadap permasalahan teknis pelatihan. Misalnya pembagian kamar, makan, minum, snack, penggandaan materi, penyediaan peraga, penjemputan narasumber, pemberian honor, transpor panitia/peserta dll. Sementara instruktur bertanggungjawab terhadap proses pelatihan, terutama pelaksanaan kurikulum dan metodologinya. Narasumber bertanggungjawab terhadap materi pelatihan.

7 Target yang Hendak Dicapai

Kapankah terget pelatihan yang hendak dicapai ditentukan?
Terget pelatihan yang hendak dicapai, ditentukan pada saat merancang modul (kalau modulnya belum ada) atau pada saat merevisi (kalau modul lama sudah ada).

Apakah konkritnya target pelatihan yang hendak dicapai?
Misalnya saja 20 orang dosen di perguruan tinggi (……nama……), mampu menulis artikel dan 50% bisa lolos dimuat di media massa pada tahun ini. Kriteria terget harus jelas (terukur), realistis namun menantang dan ada batas waktunya. Target 20 orang menghasilkan artikel cukup jelas dan 50% (10 orang) bisa lolos dimuat di media massa pada tahun ini, sudah merupakan ukuran dan batasan. Target itu cukup realistis. Yang tidak realistis kalau tulisan seluruh peserta harus bisa lolos dimuat di media massa. Namun target 50% juga cukup menantang. Yang tidak menantang kalau misalnya hanya ditargetkan 10 atau 20%.

Apakah target itu harus dikomunikasikan ke peserta didik?
Benar. Target ini sejak awal harus dikomunikasikan ke peserta didik. Bahkan secara lebih spesifik, sejak sesi I (pembukaan) harus dideteksi, apa sebenarnya harapan peserta didik dari pelatihan ini. Sebab bisa saja target penyelenggara ternyata tidak cocok dengan harapan peserta.

Apakah dibenarkan kalau targetnya adalah terselenggaranya pelatihan dengan peserta 25 orang dari tg………….sd. tg…………..dengan narasumber………………dengan biaya Rp……….?
Tidak benar. Sebab itu semua merupakan target penyelenggara pelatihan (target panitia). Sementara yang dimaksud di sini adalah target pelatihan terhadap peserta didik. Artinya, perubahan apa yang akan dialami peserta didik setelah mengikuti pelatihan ini.

Bagaimanakah penyelenggara pelatihan dengan peserta umum bisa mengetahui target pelatihan tercapai atau tidak?
Deteksi pencapaian target pasca pelatihan, bisa dilakukan dengan monitoring, pembentukan kelompok alumni training dll. Dari sini akan dapat dengan mudah terdeteksi, apakah benar peserta didik melanjutkan menulis, mengirimkan ke media massa dan 50%nya dimuat?

* * *

IV MENGENAL BENTUK TULISAN ARTIKEL, FEATURE DAN ESAI

1 Bentuk-bentuk Tulisan di Media Massa

Apakah yang disebut sebagai Artikel?
Masyarakat luas, mengangap semua tulisan di media cetak (koran, majalah, tabloid, bulletin, jurnal dan news letter) sebagai artikel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artikel disebut sebagai: karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar dsb. Dalam ilmu jusnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi berisi fakta dan data yang disertai sedikit analisis dan opini dari penulisnya.

Apakah yang disebut sebagai features?
Feature sering diartikan sebagai tulisan khas di media massa. Dalam KBBI, entri feature tidak ada. Dalam kamus-kamus bahasa Inggris, feature diartikan sebagai: a distinctive or regular article in a newspaper or magazine. Dalam ilmu jurnalistik, features merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi, dengan karakter human interest yang kuat.

Apakah yang disebut esai?
Menurut KBBI, esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Menurut kamus Webster’s (essay) adalah: a short literary composition of an analytical, interpretive, or reflective kind, dealing with its subject in a nontechnical, limited, often unsystematic way and, usually, expressive of the author’s outlook and personality. Menurut ilmu jurnalistik, esai adalah tulisan berupa pendapat seseorang tentang suatu permasalahan ditinjau secara subyektif dari berbagai aspek/bidang kehidupan.

Apakah bentuk-bentuk tulisan lain di media massa?
Yang paling banyak dijumpai di koran dan majalah adalah berita (news). Dalam dunia jurnalistik, news dikelompok-kelompokkan lagi menjadi spot news, stright news, interpreted news, interpretative news, news story dll. Selain itu masih ada bentuk-bentuk tulisan lain seperti reportase, information story, info grafis, resensi buku/film, tajuk, resep masakan, daftar harga dll.

Apakah yang disebut sebagai News (berita)?
News atau berita adalah bentuk tulisan non fiksi berdasarkan sebuah peristiwa faktual, yang lazim disebut sebagai stright news (berita lempang atau berita langsung). Selain itu masih ada spot news (berita singkat); interpeted news (berita pendapat); interpretative news (berita dengan interpretasi); investigative news (berita penyidikan) dll.

Bentuk tulisan manakah yang paling mungkin untuk ditulis oleh pihak luar (bukan wartawan atau redaksi penerbitan tersebut)?
Yang selalu diisi oleh pihak luar adalah artikel, opini dan esai. Yang kadang-kadang juga masih bisa diisi oleh pihak luar adalah feature dan reportase. Namun bentuk tulisan Opini dan Esai lebih sulit dipelajari dibanding dengan artikel. Sementara feature juga lebih mudah dikerjakan oleh bukan wartawan dibanding dengan reportase. Karenanya, bentuk tulisan artikel dan feature paling mudah dan bermanfaat untuk dipelajari oleh kalangan bukan wartawan profesional.

2 Tentang Artikel

Apakah yang disebut sebagai artikel dalam dunia jurnalistik?
Dalam dunia jurnalistik, artikel adalah salah satu bentuk tulisan non fiksi (berdasarkan data dan fakta) dan diberi sedikit analisis serta pendapat oleh penulisnya. Biasanya, artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan, dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu. Teknik yang digunakan umumnya deduktif – induktif atau sebaliknya.

Apakah beda artikel dengan interpretative news?
Interpretative news juga merupakan salah satu bentuk tulisan non fiksi yang juga diberi opini oleh penulisnya. Namun kalau sebuah artikel sudah bisa ditulis hanya dengan bahan data dan fakta, maka interpretative news harus berdasarkan peristiwa faktual. Kalau artikel bisa ditulis oleh siapa saja, maka interpretative news biasanya hanya ditulis oleh intern wartawan atau redaktur dari penerbitan bersangkutan.

Apakah beda artikel dengan opini dan kolom?
Dalam pengertian sehari-hari, artikel, opini, kolom bahkan juga esai dianggap sama dan bisa saling dipertukarkan tempatnya. Dalam dunia jurnalistik, opini dibedakan dengan artikel karena dalam opini, pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis lebih diutamakan. Sementara dalam artikel, pendapat pribadi si penulis biasanya dikemukanan dalam bentuk analisis atau data dan fakta tandingan, yang berbeda dengan data dan fakta yang dijadikan bahan tulisan. Dengan adanya analisis serta data dan fakta tandingan itu, pembaca artikel diharapkan bisa mengambil kesimpulan sendiri. Kolom adalah artikel, opini, esai atau tulisan lain oleh penulis tetap, yang diberi ruang (rubrik) yang tetap pula.

Apakah beda artikel dengan esai?
Dalam dunia jurnalistik, esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit. Meskipun dalam KBBI esai hanya disebut sebagai: karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. KBBI memang mewakili pendapat umum masyarakat yang menganggap esai sama dengan artikel, opini dan kolom. Padahal esai merupakan artikel yang dalam menganalisis, si penulis mengambil angle dari beberapa disiplin ilmu, dengan subyektifitas yang khas dari penulisnya. Hingga penulis esai yang baik, dituntut untuk memiliki minat serta pengetahuan yang luas, dengan kepribadian yang khas.

Secara konkrit, bagaimanakah biasanya sebuah artikel ditulis?
Artikel paling mudah ditulis dengan metode induksi atau deduksi. Dalam metode induksi, penulis berangkat dari sebuah contoh khusus, misalnya kasus korupsi untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang gejala korupsi. Dalam metode deduksi, penulis menggunakan cara kebalikan dari induksi, yakni menggunakan sebuah gejala umum untuk membuat kesimpulan terhadap contoh khusus. Misalnya, penulis menunjukkan bagaimana amburadulnya pengaturan lalulintas di suatu tempat, lalu gejala umum tersebut digunakan untuk menyimpulkan bahwa sebuah contoh kecelakaan lalulintas merupakan akibat dari gejala umum tersebut.

3 Tentang Feature

Apakah yang disebut sebagai feature?
Kalau entri artikel sudah masuk dalam KBBI, maka entri feature masih belum ada. Meskipun demikian, di depan telah disebutkan bahwa feature dalam kamus-kamus bahasa Inggris diartikan sebagai tulisan khas (dengan karakter yang kuat) yang dimuat secara reguler di surat kabar atau majalah.

Apakah yang membedakan feature dengan berita (stright news maupun interpreted news) dan artikel?
Berita lebih mengutamakan fakta dan data aktual (berdasarkan sebuah peristiwa aktual) yang ditulis secara lempang tanpa opini (stright news); dengan opini dari luar si penulis (intrepreted news) maupun opini dari si penulisnya (interpretative news). Artikel ditulis berdasarkan data dan fakta (belum tentu peristiwa faktual), diberi analisis dan opini (berupa fakta dan data tandingan) dari si penulis. Feature merupakan tulisan berdasarkan data dan fakta peristiwa aktual, namun meterinya diseleksi yang lebih menekankan segi human interest.

Ada berapa jenis featurekah yang selama ini dikenal dalam dunia jurnalistik?
Ada puluhan jenis feature. Mulai dari feature tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, alam, sejarah, anthropologi, luar angkasa, hantu-hantu.

Apakah tema-tema berdasarkan bidang/sektor kehidupan bisa diangkat sebagai feature?
Bisa. Misalnya bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dll. Sektornya mulai dari kesenian, pemerintahan, perdagangan dll. Namun dalam mengangkat bidang, sektor maupun komoditas yang lebih konkrit menjadi sebuah feature, penulis akan menekankan segi manusianya, binatangnya, tumbuh-tumbuahnya atau alamnya. Bukan menekankan segi permasalahannya. Hal yang terakhir ini lebih tepat diangkat menjadi artikel atau esai.

Secara konkrit, bagaimanakah sebuah feature ditulis?
Misalnya ada kecelakaan pesawat terbang. Stright newsnya adalah berita tentang kecelakaan tersebut. Kemudian ada interpreted news dari maskapai penerbangan, pabrik pesawat, aparat perhubungan, pihak keluarga korban dll. mengenai kecelakaan tersebut. Ada lagi artikel dari seorang pakar cuaca yang mengulas kecelakaan tersebut dari aspek buruknya cuaca pada saat peristiwa terjadi. Feature yang bisa ditulis antara lain: 1 Mengenai istri/anak pilot yang menjadi korban; 2 Pacar pramugari yang juga menjadi korban; Petugas SAR yang tanpa kenal lelah membantu mengumpulkan jasad para korban dll. dengan menekankan segi human interestnya.

4 Tentang Esai

Apakah yang disebut esai dalam dunia jurnalistik?
Kata kunci pada bentuk tulisan esai adalah adanya faktor analisis, interpretasi, dan refleksi. Karakter esai, umumnya non teknis, non sistematis, dengan karekter dari penulis (unsur subyektifitas) yang menonjol.

Apakah beda esai dengan artikel dan opini?
Beda esai dengan artikel dan opini adalah, esai lebih mengutamakan faktor analisis secara individual. Sementara artikel lebih mengutamakan analisis dengan bantuan teori atau disiplin ilmu tertentu. Pada bentuk tulisan opini, pendapat pribadi penulis (bukan analisis) lebih diutamakan.

Benarkah semua penulis artikel dan sasterawan mampu menulis esai?
Pertama-tama tidak semua wartawan dan sasterawan mampu menulis artikel dan feature. Kedua, tidak semua penulis artikel, feature dan sasterawan mampu menulis esai. Hanya sedikit wartawan dan sasterawan yang mampu menjadi penulis esai. Sebab bentuk tulisan ini termasuk yang paling sulit dikuasai. Namun penulis esai, hampir selalu bisa menulis artikel dan feature dengan cukup baik.

Mengapa esai merupakan bentuk tulisan yang paling sulit untuk dikuasai penulis?
Tingkat kesulitan esai, terutama disebabkan oleh karakternya yang non teknis dan non sistematis. Hingga kekuatan esai hanyalah tertumpu pada daya analisis, refleksi dan karakter pribadi si penulis. Karenanya, teknik menulis esai dari seseorang, akan sulit untuk dipelajari dan ditiru oleh penulis lain. Sementara teknik menulis artikel dan feature dari seorang penulis kenamaan, bisa dipelajari dan ditiru oleh penulis pemula.

Bagaimanakah persyaratan agar seseorang bisa menjadi penulis esai yang baik?
Seorang peulis esai, dituntut memiliki tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual di atas rata-rata. Seseorang yang cerdas secara intelektual, lebih cocok untuk menjadi penulis artikel. Mereka yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual dan emosional tinggi lebih pas menjadi penulis feature dan opini. Kalau kecerdasan intelektual dan emosional itu ditambah dengan kecerdasan spiritual dan pengetahuan serta wawasan luas, maka dia bisa menjadi penulis esai yang baik.

5 Struktur Berita, Artikel, Feature dan Esai

Apakah yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik?
Yang dimaksud sebagai struktur tulisan dalam dunia jurnalistik adalah susunan, bangunan atau pola dari tulisan tersebut. Misalnya, pada umumnya struktur berita adalah piramida () terbalik  (bagian yang runcing berada di bawah).

Mengapa struktur berita berupa piramida terbalik?
Piramida terbalik mengibaratkan bahwa bagian yang besar (isinya banyak, penting); berada di bagian atas. Makin ke bawah, bentuk piramida tersebut makin mengecil dan meruncing. Ibaratnya, makin ke bawah volume berita tersebut makin sedikit, sementara isinya juga menjadi kurang penting. Dalam kenyataan, isi sebuah berita sama saja. Misalnya, kalau di bagian atas dalam satu alinea terdiri dari 6 kalimat dan 30 kata, maka di bagian bawah bisa saja satu alinea malahan berisi 8 kalimat dengan 40 kata. Namun, kadar kepentingan dan kepadatannya (variasi informasi yang terkandung di dalamnya), justru lebih sedikit.

Bagaimanakah dengan struktur artikel dan feature?
Artikel dan feature tidak berbentuk piramida terbalik melainkan balok sama besar yang memanjang dari atas ke bawah (  ). Bentuk demikian dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam artikel maupun feature, bagian yang paling atas, sama pentingnya dengan yang di tengah maupun yang di bawah.

Bagaimanakah detil komponen struktur artikel dan feature tersebut?
Secara umum, semua tulisan selalu terdiri dari judul (bisa dengan atau tanpa anak judul) , nama penulis (bisa di atas bisa di bawah, bisa tidak ada), summary (ringkasan) atau etalase/intro; lead (kepala tulisan), body dan ending.

Apakah yang dimaksud dengan summary dan lead dalam artikel/feature?
Banyak penulis bahkan redaktur penerbitan yang sulit untuk membedakan antara summary atau etalase atau intro dengan lead atau kepala tulisan. Summary, etalase atau intro, hanya dimaksudkan untuk “daya tarik awal” setelah pembaca melihat judul dan juga foto (dalam feature). Fungsi ini tidak terlalu penting jika dibanding dengan lead atau kepala tulisan. Dalam News, lead memuat sekaligus semua informasi (what, who, when, where, whay dan how = 5 W 1 H) dalam satu alinea. Misalnya: Tadi malam pukul 22.30 WIB (when), telah terjadi kecelakaan lalulintas (what), di jalan tol Jagorawi (where). Kecelakaan tersebut terjadi antara (how) bus penumpang dengan truk gandengan (what). Dalam kecelakaan ini sebanyak 10 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka (how). Diduga kecelakaan terjadi karena bus tersebut mengalami pecah ban (why), dst.
Dengan hanya membaca lead sebuah berita, seorang pembaca sudah bisa tahu seluruh isi berita secara garis besar, tanpa harus melanjutkan membaca seluruh berita. Dalam artikel dan feature, fungsi lead adalah, untuk membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca sebelum tulisan selesai. Hingga fungsi lead tersebut justru untuk memberikan daya tarik, namun harus dibatasi hingga tidak semua informasi tuntas dalam sebuah lead. Karena fungsinya yang demikian penting, lead dalam artikel dan feature sering diibaratkan seperti serve dalam badminton, voley atau tenis.

Bagaimanakah tepatnya struktur sebuah esai?
Sebagai sebuah tulisan, esai juga menuntut adanya jusdul, etalase, lead, body dan ending. Namun struktur secara keseluruhan tidak seketat dan sebaku pada artikel dan feature. Justru karena tidak adanya kebakuan tersebut, maka sebuah esai dari penulis kenamaan, sulit untuk dipelajari dan dicontoh oleh penulis pemula. Karakter esai yang non teknis dan non sistematis menjadi kendala untuk membakukan struktur penulisannya.

6 Metode Induktif dan Deduktif dalam Artikel

Seberapa pentingkah data dan fakta dalam sebuah artikel?
Data dan fakta merupakan materi yang paling penting dalam sebuah artikel. Sebab tanpa data dan fakta yang kuat, maka artikel akan berubah menjadi opini. Misalnya, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalulintas hebat yang menewaskan puluhan siswa SMU, maka seorang penulis artikel yang baik akan segera membuka file tantang kecelakaan lalulintas yang memakan korban cukup banyak, jenis kendaraannya, jumlah korbannya, lokasi dan waktu kejadiannya, penanganannya oleh pihak yang berwajib dll. Dengan data-data tersebut, si penulis artikel bisa membuat analisis sederhana dan menyimpulkan, apakah kecelakaan lalulintas di negeri kita selama sepuluh tahun terakhir ini meningkat atau menurun? Kalau meningkat mengapa? Kalau menurun mengapa? Sebab tekanan utama pada penulisan artikel adalah pada pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Apakah penulisan artikel mutlak harus menggunakan metode induktif/deduktif?
Tidak harus. Bahkan sebenarnya tidak pernah ada pedoman baku bagaimana seharusnya sebuah artikel ditulis. Selain metode induktif deduktif, bisa pula digunakan metode thesis – antithesis dan sinthesis. Bisa pula dengan metode pengajuan pertanyaan 5 W 1 H yang akan dibahas lebih rinci pada bab VII dan VIII, khususnya tentang alinea.

Mengapa metode induktif/deduktif menjadi populer?
Karena metode ini paling mudah diterapkan bagi para pemula. Misalnya, ketika terjadi bencana tanah longsor (contoh kasus = hal khusus), semua pihak pasti segera mengkaitkannya dengan penggundulan hutan dan perusakan lingkungan (gejala umum). Metode berpikir induktif ini juga bisa dibalik menjadi deduktif. Pertama kita kemukakan gejala penggundulan hutan dan perusakan alam dengan bergagai data dan faktanya, dari gejala umum ini, kita tarik kesimpulan pada contoh-contoh khusus yang sangat spesifik namun cukup kuat. Misalnya perubahan iklim makro, pemanasan global dll.

Apakah menulis artikel perlu latar belakang, tujuan, permasalahan dst?
Metode penulisan ilmiah dengan latar belakang, tujuan, kerangka pikir, permasalahan, pemecahan permasalahan, kesimpulan dan saran dsb, tetap bisa digunakan dalam menulis artikel. Namun dalam mengemukakan latar belakang misalnya, tetap harus digunakan data dan fakta aktual. Misalnya kalau kita menggunakan metode deduktif, kerusakan hutan dan lingkungan yang kita jadikan sebagai latar belakang, harus disertai dengan fakta dan data yang jelas, lengkap dan akurat. Analisis dan opini yang disampaikan pun, harus berupa data. Misalnya, kita bisa mengatakan bahwa perusakan hutan dan alam akan berakibat pada kerusakan seluruh ekosistem seperti telah terjadi di negara A, B dan C. Hingga kita perlu melakukan penghijauan dan reboisasi seperti telah dilakukan oleh negara D, E dan F yang dulu hutannya pernah rusak tetapi pulih kembali.

Bolehkah dalam menulis artikel kita hanya menggunakan pernyataan umum?
Tidak boleh. Sebab artikel demikian pasti akan ditolak oleh redaktur penerbitan yang bonafid. Misalnya kita menyebut bahwa: “Akhir-akhir ini telah terjadi penggundulan hutan dan perusakan alam secara membabibuta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dst.” Pernyataan tersebut sangat umum dan dangkal karena tidak disertai dengan fakta dan data. Beda kalau misalnya kita sebutkan bahwa: “Tahun ini sekian juta hektar hutan primer telah ditebang habis oleh pengusaha HPH di provinsi A, B, C dan D. Dibanding dengan tahun lalu, angka penebangan ini telah naik empat kali lipat dst.

7 Faktor Human Interest dalam Feature

Apakah yang disebut sebagai human interest?
Human interest bisa diartikan sebagai rasa kemanusiaan. Hingga feature yang disebut sebagai tulisan yang menekankan segi human interest dimaksudkan sebagai tulisan yang menekankan segi yang bisa menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya.

Mengapa segi human interest paling diutamakan dalam sebuah feature?
Karena berita (news) sudah ditampilkan dengan lugas dan dengan bahasa yang sangat formal. Dalam artikel, fakta dan data juga harus dianalisis dengan serius dan diberi opini yang juga harus serius. Agar pembaca media cetak tidak bosan, maka diperlukan sebuah bentuk tulisan yang menekankan segi human interest. Itulah sebabnya segi ini paling diutamakan dalam feature. Dalam perkembangan lebih lanjut, berita pun bisa dikembangkan menjadi news feature, feature reporting, feature story dll. Bahkan dalam perkembangan lebih lanjut, feature juga melahirkan bentuk tulisan yang lebih baru (generasi baru) yang disebut sebagai How To Do It Article (HTDI). Cabang jurnalisme yang pertamakali memperkenalkan bentuk tulisan ini adalah jurnalisme kedokteran/kesehatan pada abad XVI dan XVII.

Apakah segi human interest tersebut sudah melekat pada meteri tulisan, atau merupakan kreasi penulisnya?
Segi human interest dalam sebuah feature, harus benar-benar faktual (berupa fakta nyata) yang melekat pada materi (bahan) tulisan. Keterampilan penulis hanya dituntut untuk menyeleksi dan mengolah bahan-bahan tersebut, hingga ketika telah menjadi tulisan dan disampaikan ke pembaca, akan bisa menyentuh perasaan. Kalau segi human interest tersebut merupakan hasil imajinasi atau keterampilan berpikir si penulis, maka tulisan tersebut merupakan fiksi, bukan feature.

Apa sajakah yang bisa dikatagorikan sebagai human interest?
Yang bisa dikatagorikan sebagai human interest antara lain: masalah percintaan; perjalanan/perjuangan hidup manusia, hewan, tumbuhan maupun alam (gunung api, bintang); kelahiran/kematian; penderitaan (misalnya derita TKI yang disiksa majikan di LN); ketabahan/ketegaran dalam menghadapi cobaan/godaan dll.

Apakah feature dengan tema penderitaan bisa digunakan untuk menjelek-jelekkan pihak yang mengakibatkan penderitaan tersebut?
Bisa, namun feature tersebut akan menjadi feature propaganda. Nilai sebuah feature propaganda, akan lebih rendah dibanding dengan feature yang benar-benar hanya menceritakan penderitaan seseorang atau sekelompok orang. Sebab yang harus geregetan, marah dsb. adalah pembaca media massa, setelah membaca feature tersebut. Bukan penulisnya.

8 Kekuatan Individu dalam Esai

Apakah kekuatan individu penulis hanya dipentingkan dalam penulisan esai?
Kekuatan karakter individu penulis, diperlukan dalam semua bentuk tulisan, mulai dari news, reportase, artikel dan feature. Namun bentuk-bentuk tulisan tersebut memiliki teknik dan sistematika yang jelas. Karenanya, penulis yang tidak terlalu kuat pun, tetap bisa menghasilkan news, reportase, artikel dan feature yang baik. Dalam esai, kekuatan individu lebih diperlukan karena tidak bakunya teknik dan sistematika.

Apakah yang disebut kekuatan individu dalam penulisan esai?
Yang dimaksud sebagai kekuatan individu, terutama adalah faktor tingkat kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual yang di atas rata-rata. Namun kekhasan dari masing-masing individu akan sangat menentukan kualitas esai yang dihasilkan. Karakter khas yang kuat ini diperoleh bukan karena faktor teknik melainkan karena muncul dari dalam diri si penulis.

Dari manakah penulis esai memperoleh kekuatan karakter individunya?
Kekuatan karekter individu, bukan diperoleh dari pendidikan formal, melainkan dari kekayaan pengalaman hidup, bacaan yang luas dan lingkungan pergaulan yang beragam. Meskipun faktor genetik, juga ikut pula mempengaruhi kekuatan karekter individu seseorang. Namun tanpa kekayaan pengalaman, luasnya bacaan dan variasi pergaulan, karakter dasar serta pendidikan formal belum merupakan jaminan kekuatan individu seseorang.

Apakah skil (keterampilan) juga diperlukan dalam penulisan esai?
Skil tetap diperlukan dalam penulsan esai, namun hal tersebut bukan merupakan faktor utama. Sebab apabila skil yang diutamakan, maka esai yang dihasilkan justru akan merosot kualitasnya. Sebab esai justru diharapkan tidak dihasilkan sebanyak artikel, feature dan lebih-lebih news.

Apakah esai memiliki bobot lebih tinggi dibanding artikel dan feature?
Esai tidak bisa dibandingkan dengan artikel dan feature, sebab masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Artikel lebih berfungsi untuk mengajak pembaca memahami suatu pokok persoalan. Feature digunakan untuk menggugah rasa human interest pembaca. Sementara esai bermanfaat untuk melakukan refleksi dan perenungan. Meskipun fungsi tiga bentuk tulisan ini berbeda, honorarium yang akan diterima oleh penulisnya sama.

Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 2)

V DAYATARIK DAN ASAS MANFAAT
SEBUAH TULISAN

1 Daya Tarik Sebuah Tulisan

Mengapa tulisan harus memiliki daya tarik?
Tulisan harus memiliki daya tarik agar dibaca orang. Kalau tulisan dalam sebuah media cetak tidak dibaca orang, oplah media cetak tersebut akan kecil dan iklannya juga tidak ada. Akibatnya, kehidupan media tersebut menjadi tidak sehat.

Apakah yang disebut daya tarik sebuah tulisan?
Daya tarik sebuah tulisan berasal dari daya tarik meteri (bahan) tulisan tersebut. Bahan tulisan akan menarik apabila menyangkut hal-hal yang: baru, aneh, luarbiasa, kontroversial, populer, menyangkut hajat hidup orang banyak, kedekatan dll.

Mengapa hal-hal baru, aneh, luarbiasa, kontroversial, populer, menyangkut hajat hidup orang banyak, kedekatan dll, selalu menarik bagi pembaca?
Baru: Baju baru, rumah baru, teman baru, dll. yang baru selalu lebih menarik dibanding baju lama, rumah lama, teman lama dll. Binatang aneh, tanaman aneh, orang aneh, rumah aneh dll, selalu lebih menarik dari binatang biasa, tanaman biasa, orang biasa, rumah biasa dll. Suhu udara di Indonesia normalnya antara 18 sd. 30 ° C. Kalau tiba-tiba suhu udara naik sampai 32 ° C sudah luar biasa. Kalau naiknya sampai 35 ° C maka itu berarti sangat luarbiasa. Tokoh yang selalu baik atau selalu jahat, meskipun menarik masih tetap kalah menarik dibanding dengan tokoh yang kadang-kadang sangat baik namun kadang-kadang juga sangat jahat (kontroversial). Sesuatu (tokoh, tempat, bangunan dll), yang populer (populis) selalu lebih menarik dibanding yang tidak populer. Komoditas beras lebih menarik dibanding sorghum karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun sorghum bisa menarik kalau diambil angle anehnya. Kecelakaan kereta api yang menewaskan 500 penumpangnya di India kurang menarik bagi pembaca media kita dibanding dengan kecelakaan kereta api yang menewaskan 100 orang di Jawa (karena adanya unsur kedekatan).

Mengapa masalah seks selalu menarik bagi pembaca?
Seks menarik bagi pembaca karena dua faktor. Pertama seks sendiri merupakan kebutuhan biologis semua makhluk hidup termasuk manusia (menyangkut hajat hidup orang banyak). Namun di lain pihak, kultur manusia (terutama agama, etika dan moral), telah membatasi (menutup) masalah seks hingga dianggap tabu (tidak layak) untuk dikemukakan di depan umum. Karenanya pornografi lalu dianggap sebagai sesuatu yang kontroversial.

Mengapa peristiwa kriminal dan gosip artis juga menarik bagi pembaca media?
Karena kriminalitas mengandung unsur luarbiasa dan kontroversial. Luarbiasa karena perampokan, perkosaan, pembunuhan dll. tindak kriminalitas telah merusak aspek kemanusiaan dan peradaban. Masalah kriminalitas juga kontroversial karena kadang-kadang penanganan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum (polisi, jaksa dan hakim), tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat banyak. Gosip artis menarik perhatian pembaca karena unsur popularitas dari artis tersebut dan juga karena unsur kontroversialnya.

2 Menerapkan unsur daya tarik dalam penulisan artikel, feature dan esai

Apakah penulisan artikel, feature dan esai juga harus menerapkan pemanfaatan unsur daya tarik sebuah tulisan?
Benar. Sebab artikel, feature dan esai yang tidak memanfaatkan unsur daya tarik sebuah tulisan, kalau dikirimkan ke media massa, akan ditolak oleh redakturnya. Kalau tulisan tersebut dipaksakan untuk dimuat (karena unsur pertemanan), sebagian besar pelanggan atau pembeli media cetak tersebut tidak akan membacanya.

Apakah berarti artikel, feature dan esai yang baik hanya yang mengulas tokoh-tokoh baru, aneh, luarbiasa, terkenal dan kontroversial?
Tidak juga. Artikel yang mengulas komoditas (misalnya beras atau minyak tanah), fasilitas umum (misalnya bus kota, puskesmas), yang sangat tidak populer, tetap bisa menarik asalkan artikel tersebut membela kepentingan publik. Feature yang mengangkat kuli bangunan, buruh tambang dll. tetap bisa menarik hanya karena kuatnya segi human interest (menyentuh perasaan) banyak pihak. Esai tentang bencana alam juga bisa menggugah pembaca untuk melakukan refelsi dan perenungan.

Apakah metode (gaya) penulisan bisa dijadikan daya tarik utama sebuah artikel, feature dan esai?
Bisa asalkan materi pokoknya juga tetap memiliki unsur daya tarik. Metode (gaya) penulisan yang menarik misalnya: agitatif (bergaya propaganda), lucu, menyentuh perasaan, memberi inspirasi dll.

Apakah unsur seks bisa dijadikan daya tarik dalam artikel, feature dan esai?
Bisa kalau konteksnya memang ke arah sana. Misalnya saja artikel tersebut membahas UU Perkawinan, penanganan masalah pelacuran, penyakit kelamin dll. Yang tidak dibenarkan adalah, kalau masalah seks tersebut dijadikan unsur daya tarik artikel/feature/esai hanya sebagai bumbu untuk lucu-lucuan.

Mengapa bumbu lucu-lucuan dll. tidak tepat dijadikan unsur daya tarik dalam sebuah artikel, feature dan esai?
Karena daya tarik utama sebuah tulisan terletak pada materinya. Penyampaian dengan metode atau gaya yang menarik, hanya akan memberi nilai plus pada tulisan tersebut. Namun tanpa materi yang menarik, metode atau gaya menulis yang menarik tadi justru menyebalkan bagi pembaca karena akan tampak nyinyir, genit dll. padahal materinya sendiri kurang menarik.

3 Asas Manfaat Sebuah Tulisan

Mengapa sebuah tulisan harus punya asas manfaat bagi pembacanya?
Sebab tanpa asas manfaat, sebuah tulisan yang sangat menarik pun tetap tidak akan dibaca oleh konsumen. Hingga unsur daya tarik dalam tulisan tersebut, harus tetap relevan dengan target pembaca penerbitan bersangkutan. Sesuatu yang aneh dan luarbiasa bagi kalangan bawah, akan menjadi biasa dan tidak aneh bagi kalangan menengah dan atas. Misalnya makan malam di hotel bintang yang nilainya ratusan ribu rupiah per porsi yang bagi kalangan menengah dan atas biasa dan tidak aneh, menjadi luarbiasa dan anah bagi masyarakat lapis bawah.

Apakah sajakah yang bisa dikatagorikan sebagai asas manfaat tulisan bagi pembaca media massa?
Sebuah tulisan dianggap memiliki asas manfaat kalau bisa menghibur, memberikan tambahan pengetahuan, mendidik, memberikan keterampilan, mendatangkan pencerahan, memberi arahan, memecahkan masalah, mendatangkan prestise dll.

Apakah berita kriminal, seks dan gosip artis juga memiliki asas manfaat bagi pembaca?
Benar. Media yang dicap murahan karena mengeksploitir berita kriminal, seks dan gosip artis juga tetap punya asas manfaat bagi pembacanya. Asas manfaat tersebut berupa hiburan, pengetahuan dan prestise. Selain telah terhibur, mereka yang memiliki pengetahuan tentang cerita kriminal, seks dan gosip artis, akan merasa dirinya lebih prestisius dalam komunitas mereka dibanding yang tidak memiliki pengetahuan tersebut.

Apakah berita kriminal, seks dan gosip artis murahan itu tidak akan merusak moral masyarakat kita?
Tidak. Sebab rusaknya moral masyarakat ditentukan oleh banyak faktor. Terutama oleh lemahnya kontrol sosial dan penerapan hukum. Media massa meskipun berpengaruh sangat besar ke masyarakat, tidak akan mampu merusak moral hanya karena memuat tulisan tentang kriminalitas, seks dan gosip artis. Contohnya, tabloid Inggris (dan juga Eropa pada umumnya) yang disebut Yellow Paper, juga menyajikan hal serupa. Namun masyarakat Inggris dan Eropa tidak kunjung rusak moralnya karena kontrol sosial dan penerapan hukum di sana sudah sangat baik.

Apakah yang dimaksud asas manfaat “memberikan keterampilan”?
Yang dimaksud sebuah tulisan memiliki asas manfaat bagi pembacanya, dengan memberikan keterampilan antara lain: resep masakan (terampil memasak), daftar harga (terampil membeli/memilih barang), kisah perjalanan (terampil mengemudi/mengatur kunjungan), pendidikan politik (terampil berdemokrasi); merawat rumah, tanaman dan hewan (terampil mengurus rumah), dll.

4 Menerapkan unsur Daya Tarik dalam Menentukan Pilihan Tema Tulisan

Mengapa tema tulisan (gagasan awal) harus sudah memiliki daya tarik?
Karena kalau tema tulisan yang merupakan gagasan awal ini tidak memiliki daya tarik (jawa = greget); maka penulisnya tidak akan pernah tertarik untuk mengumpulkan bahan, membuat kerangka tulisan dan menuliskannya. Akibatnya, tulisan tersebut tidak akan pernah ada.

Apakah daya tarik tema tulisan yang tinggi bagi penulis tersebut selalu paralel dengan daya tarik yang diinginkan pembaca?
Belum tentu. Hingga penulis harus selalu berdiskusi dengan banyak pihak. Seorang penulis ilmiah ternama mengaku selalu berdiskusi dengan para mahasiswanya. Seorang penulis media massa kenamaan juga mengatakan selalu memberikan contoh tulisan pada istri, anak bahkan pembantu rumah tangga serta sopirnya. Mereka ini diharapkan bisa mewakili kepentingan pembaca media pada umumnya.

Apakah kendala utama yang dialami penulis dalam menerapkan unsur daya tarik dalam tema tulisannya?
Kendala utamanya adalah, penulis over estimate atau under estimate. Maksudnya penulis mengangap pembacanya terlalu pintar dan cerdas (secerdas dirinya dan teman-temannya), atau menganggap pembacanya terlalu bodoh, hingga tema tulisannya menjadi terkesan menggurui dan menjelaskan sesuatu secara berlebihan, yang sebenarnya sudah diketahui oleh masyarakat.

Bagaimanakah mengatasi kendala over estimate dan under estimate tersebut?
Penulis harus membuat garis paralel antara materi tema tulisan dengan target pembaca yang diwakili oleh media cetak yang akan dikirimi tulisan. Misalnya, kalau akan menulis artikel bagi koran Kompas harus memilih materi tema tulisan yang taraf kecerdasannya sama (paralel) dengan para pembaca Kompas pada umumnya. Kalau akan menulis feature di majalah lingkungan yang diterbitkan oleh perguruan tinggi, penulis harus menarik garis paralel antara tema tulisan dengan tingkat pengetahuan serta minat pembaca penerbitan kampus tersebut.

Apakah seorang penulis profesional kenamaan selalu otomastis bisa mengatasi kendala-kendala demikian?
Tidak benar. Sebab seorang penulis profesional kenamaan pun kalau melalaikan salah satu kaidah (rumus) baku dalam mengkaitkan unsur daya tarik dengan tema tulisannya, akan mengalami kesulitan atau kegagalan. Artinya, tulisannya akan ditolak oleh redaktur media. Kalau redakturnya menerima karena silau dengan nama besar penulis tersebut, maka pembaca media bersangkutanlah yang akan menolaknya.

5 Rumus Daya Tarik Berdasarkan Skala Prioritas

Apakah artikel, feature atau esai akan diterima (dimuat) oleh media massa, hanya kalau memuat hal-hal yang baru, aneh, luarbiasa, kontroversial, populer, memenuhi hajat hidup orang banyak, memenuhi unsur kedekatan dll?
Tidak selalu begitu. Sebab cukup salah satu daya tarik tersebut yang menjadi andalan utama sebuah artikel feature atau esai. Misalnya, artikel/feature/esai tentang iptek lebih mengutamakan unsur kebaruan. Artikel mengenai politik cenderung mementingkan hal-hal yang kontroversial. Artikel/feature/esai tentang industri, masalah sosial dan ekonomi lebih mengutamakan hajat hidup orang banyak. Artikel/feature/esai tentang alam dan lingkungan menuntut hal-hal yang aneh dan luarbiasa. Artikel/feature/esai tentang fasion, show dan kesenian lebih menuntut unsur populer.

Bagaimanakah seorang penulis artikel/feature/esai bisa menentukan unsur daya tarik ini dalam pilihan tema tulisannya?
Penulis artikel/feature/esai dibagi menjadi dua. Pertama penulis profesional (biasanya bekerja di media massa) yang memiliki keterampilan menulis tinggi hingga mampu menulis tema apa saja dengan sama baiknya. Penulis demikian akan dengan mudah memilih beragam tema yang menarik untuk ditulis menjadi artikel, feature atau esai. Kedua, profesional dalam salah satu bidang atau sektor kehidupan dan kebetulan bisa menulis. Penulis artikel/feature/esai katagori kedua ini hanya bisa menulis materi sesuai dengan bidang atau sektor yang digelutinya. Misalnya masalah ekonomi, politik, anthropologi, pertanian, sosial budaya, kesenian dll. Bahkan kadang-kadang spesifikasi itu demikian sempitnya hingga seseorang hanya menekuni masalah moneter (ekomomi), pemilihan umum (politik), anggrek (pertanian), musik klasik (kesenian) dll.

Bagaimanakah seorang pemula bisa menentukan sebuah tema menarik atau kurang menarik?
Paling mudah adalah memilih tema sesuai dengan bidang, sektor, komoditas atau permasalahan yang sangat dikenalnya. Misalnya seseorang yang latar belakang pendidikannya hukum, akan paling mudah kalau menentukan masalah hukum mana yang paling menarik untuk diulas dewasa ini. Orang yang sehari-harinya bekerja di bank, akan lebih mudah memilih tema menarik mengenai masalah perbankan. Orang yang berasal dari etnis Batak akan lebih mudah memilih tema-tema menarik tentang adat istiadat Batak. Akan sulit kalau mereka yang berpendidikan hukum memilih tema penulisan tentang perbankan, yang bekerja di bank harus memilih tema lingkungan hidup serta orang Batak dipaksa untuk mengambil adat istiadat Sunda sebagai tema tulisannya.

Bagaimanakah kalau seorang pemula ingin menjadi penulis profesional yang serba bisa dan mampu mengangkat tema-tema menarik?
Bekal utama penulis profesional yang mampu mengangkat tema-tema menarik adalah, tingkat kecerdasannya harus di atas rata-rata, minat dan perhatiannya juga harus luas, memiliki ketekunan untuk belajar serta memiliki akses informasi yang lengkap. Modal tersebut harus dikumpulkan dan dilatih sejak awal secara terus menerus. Hingga yang harus dilakukan oleh seorang pemula adalah, mulailah banyak membaca dan diskusi lalu menuliskan dan mengirimkannya ke media massa. Atau, paling mudah adalah dengan melamar pekerjaan di media massa besar yang fasilitasnya lengkap.

Bagaimanakah seorang pemula harus memilih tema menarik agar tulisannya (artikel/feature/esai) bisa segera dimuat oleh media massa?
Pertama-tama harus ditentukan terget medianya. Apakah akan menulis di Kompas (koran pagi Jakarta), Suara Pembaruan (koran sore Jakarta) Jawa Pos (koran pagi Surabaya), Femina (majalah wanita mingguan Jakarta), atau media lainnya. Tema-tema artikel, feature dan esai yang menarik itu bisa dilihat (disontek) dari tema artikel, feature dan esai yang selama ini dimuat di media tersebut.

6 Menentukan Unsur Asas Manfaat dalam Tema Tulisan

Apakah unsur asas manfaat mutlak harus ditentukan ketika seseorang merancang tema tulisan?
Benar. Sebab dari sini akan ditentukan, apakah tulisannya akan diarahkan sekadar untuk hiburan, untuk menambah pengetahuan, untuk pendidikan, untuk memberikan keterampilan, untuk mendatangkan prestise (gengsi), untuk agitasi dll. Unsur asas manfaat ini akan sangat menentukan alternatif pilihan unsur daya tarik yang akan dijadikan tema tulisan.

Apakah kalau unsur asas manfaatnya hanya sekadar untuk hiburan, penulis feature boleh mengeksploitir seksualitas, sensualitas dan voyeurisme?
Feature hiburan bisa sangat memanfaatkan unsur daya tarik berupa seksualitas, sensualitas dan voyeurisme. Yang tidak dianjurkan adalah mengeksploitir unsur-unsur tersebut dalam artikel, feature dan esai.

Apakah tulisan yang mengutamakan asas manfaat pendidikan harus berisi petuah-petuah moral, etika dan ajaran spiritual?
Belum tentu. Sebab tulisan untuk tujuan pendidikan politik misalnya, bisa hanya berisi studi komparatif proses pemilihan presiden di beberapa negara. Kadang-kadang tulisan yang diharapkan memiliki asas manfaat pendidikan, justru berupa materi yang bersifat negatif. Hal ini bertujuan untuk memberi pengetahuan bagi pembaca tentang hal-hal negatif dari satu permasalahan. Misalnya, artikel untuk majalah intern pendidikan kepolisian, justru berisi pengetahuan tentang bahan-bahan narkotik, teknik-teknik kejahatan dll.

Adakah contoh artikel, feature dan esai yang asas manfaatnya untuk memecahkan masalah dan menambah ketarampilan?
Artikel, feature dan esai tentang iptek, otomotif, olahraga, kedokteran, pertanian, komunikasi dll, bisa dikatagorikan sebagai memiliki asas manfaat untuk menambah keterampilan dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh pembaca.

Adakah contoh artikel/feature/esai yang asas manfaatnya untuk agitasi, indoktrinasi, propaganda bahkan untuk cuci otak?
Artikel/feature/esai di majalah partai politik, agama (terutama kelompok radikal dan ekstrem), gerakan pembebasan/pembaruan bahkan artikel di buletin perusahaan atau lembaga pemasaran MLM pun sifatnya agitatif dan indoktrinatif.

* * *

VI MELIPUT DAN MENGUMPULKAN
BAHAN TULISAN

1 Fakta, Peristiwa dan Khayalan

Apa sajakah yang bisa disebut sebagai bahan tulisan?
Yang bisa dikatagorikan sebagai bahan tulisan adalah fakta, peristiwa, gagasan, lamunan, keinginan, angan-angan (khayalan) dll.

Apakah yang disebut sebagai fakta?
Menurut KBBI, fakta adalah n hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.

Apakah yang disebut sebagai peristiwa?
Menurut KBBI, peristiwa adalah n 1 kejadian (hal, perkara, dsb); kejadian yang luarbiasa (menarik perhatian dsb); yang benar-benar terjadi: memperingati — penting di sejarah; 2 pd suatu kejadian (kerap kali dipakai untuk memulai cerita): sekali –;

Mengapa gagasan, lamunan, keinginan, impian, khayalan dll. juga bisa dijadikan bahan tulisan non fiksi?
Karena banyak perubahan di dunia ini yang diawali dengan kombinasi antara fakta dan peristiwa dengan lamunan dan impian. Misalnya fakta dan peristiwa tentang tutup cerek yang bergerak-gerak karena didorong oleh uap air mendidih, ketika dikombinasikan dengan lamunan James Watt, telah mengubah dunia dengan mesin uapnya, yang kemudian berkembang menjadi berbagai mesin penggerak lain.

Mungkinkah khayalan murni dijadikan bahan artikel?
Khayalan murni tidak hanya bisa dijadikan fiksi melainkan juga tulisan non fiksi. Dalam hal ini sebagai bahan artikel. Contohnya pernah ada artikel di Harian Kompas dengan judul: Seandainya Saya Menjadi Presiden. Isinya jelas murni khayalan. Namun karena bentuk tulisannya artikel, maka khayalan itu dibuat relevan dengan fakta dan peristiwa aktual saat ini.

2 Data Primer dan Sekunder

Apakah semua fakta, peristiwa dan khayalan bisa dijadikan bahan tulisan?
Tidak semua fakta, peristiwa dan khayalan bisa dijadikan bahan tulisan. Yang bisa menjadi bahan tulisan hanyalah yang paling menarik bagi penulis. Meskipun setelah menjadi tulisan, belum tentu tulisan tersebut menarik bagi penerbit dan pembaca.

Apakah semua fakta, peristiwa dan khayalan yang menarik bagi penulis bisa langsung ditulis?
Bisa saja. Tetapi hasilnya bisa tidak lengkap dan tidak akurat.

Bagaimana agar fakta, peristiwa dan khayalan itu ketika ditulis bisa menjadi lengkap dan akurat?
Caranya, fakta, peristiwa dan khayalan yang menarik itu, masih harus dikumpulkan, didokumentasikan, diseleksi, diberi sistematika (dikelompokkan secara sistematis), baru kemudian bisa ditulis. Kalau perlu dengan terlebih dahulu dianalisis.

Disebut apakah fakta, peristiwa dan khayalan yang telah didokumentasikan tersebut?
Semuanya bisa disebut sebagai data. Ada data primer (dari tangan pertama) ada data sekunder (dari tangan kedua/bank data, perpustakaan dll), data tersier dst.

Di manakah bisa diperoleh data primer dan data sekunder?
Data primer harus didapat secara langsung dari sumber pertama. Sementara data sekunder dst. bisa diperoleh secara estafet melalui sumber-sumber tidak langsung.

3 Sumber Bahan

Apakah yang disebut sebagai sumber bahan?
Yang disebut sebagai sumber bahan adalah alam (batu-batuan, bukit, gunung, sungai, rawa, danau, laut, salju, kawah gunung api, langit, awan, bulan, bintang, matahari dll); makhluk hidup (tumbuhan, binatang dan manusia dengan berbagai peralatannya); dan dunia spiritual/supranatural (Tuhan, malaikat, setan, jin, hantu, kuntilanak, drakula, vampir, kolor ijo dll).

Apakah semua obyek tersebut bisa dijadikan bahan tulisan?
Benar. Asal menarik bagi penulis dan memungkinkan untuk diambil dan dikumpulkan.

Dari manakah bahan-bahan itu bisa diambil dan dikumpulkan?
Pertama, bahan tulisan bisa dikumpulkan sendiri secara langsung. Baik dengan cara pengamatan, penelitian maupun keterlibatan. Kedua, melalui sumber indivudual. Baik sumber primer (pelaku langsung) maupun sekunder (bukan pelaku langsung). Ketiga, melalui institusi (lembaga). Baik lembaga pemerintah, militer, keagamaan, BUMN, swasta, perguruan tinggi, media massa, LSM dll.

Secara konkrit, berupa apakah bahan tulisan tersebut?
Secara konkrit, bahan tulisan tersebut berupa kliping koran/majalah, buku, brosur, booklet, poster, prasasti, daftar, katalog, pengumuman, iklan, undangan, e-mail, weeb site dll.

Di manakah bahan tulisan paling banyak terhimpun?
Secara umum, bahan tulisan paling banyak terkumpul di perpustakaan umum. Selain di perpustakaan, bahan tulisan juga bisa diperoleh di lembaga pemilik data seperti Badan Pusat Statistik, Gedung Arsip (nasional maupun daerah), Museum, lembaga penelitian, kantor berita dll.

4 Cara Pengumpulan Bahan

Bagaimanakah cara pengumpulan bahan tulisan?
Bahan tulisan bisa dikumpulkan dengan pengamatan, penelitian dan keterlibatan langsung terhadap obyek. Bisa pula dengan mewawancarai sumber bahan, meminta secara gratis, bekerjasama (nama sumber ikut dicantumkan, honornya dibagi dua), membeli (baik cash maupun kredit) dan investigasi.

Apakah fisik bahan tulisan harus diambil secara langsung oleh penulis?
Kalau bahan tulisan itu berupa buku dan buku itu harus dikopi di perpustakaan atau dibeli di toko buku, maka pengambilannya harus dilakukan secara langsung terhadap fisik bahan.

Bagaimanakah kalau bahan fisik itu tidak bisa diambil secara langsung?
Bahan tersebut bisa dipesan. Misalnya seorang penulis artikel yang tinggal di Yogya, memerlukan bahan berupa buku yang hanya ada di salah satu perpustakaan di Jakarta. Kalau dia datang ke Jakarta secara langsung, pasti akan berat di ongkos. Caranya, dia bisa menelepon petugas perpustakaan, minta dikopikan bahan tersebut, dikemas dan dikirimkan kepadanya. Petugas akan menyebutkan biayanya yang bisa ditransfer ke rekening perpustakaan atau petugas tersebut. Bukti transfer difax dan barang akan dikirim.

Apakah tidak mungkin hanya mengambil satu atau dua halaman dari buku tersebut untuk difaxkan kepadanya?
Bisa saja kalau yang diperlukan memang hanya beberapa halaman dari buku tersebut, dan petugas perpustakaan bersedia melayaninya.

Apakah dimungkinkan hanya telepon saja atau mengekses di internet?
Telepon hanya layak dilakukan untuk wawancara singkat atau konfirmasi kebenaran fakta, peristiwa atau data. Internet atau weeb bisa dimanfaatkan karena inilah cara paling murah dan mudah untuk memperoleh bahan tulisan.

5 Sistematika Pengelompokan Bahan

Apakah yang dimaksud dengan sistematika pengelompokan bahan?
Sistematika pengelompokan bahan adalah cara agar bahan yang demikian banyak dan tidak beraturan menjadi rapi hingga lebih mudah dimanfaatkan sebagai bahan tulisan.

Bagaimanakah cara pengelompokan bahan-bahan tersebut?
Secara umum, bahan dikelompokkan sesuai dengan bidangnya. Misalnya bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, humaniora dll. Bidang tersebut bisa dikelompokkan lagi menjadi sektor. Misalnya bidang ekonomi menjadi sektor industri, perdagangan, jasa, pariwisata, pertambangan, pertanian, perhubungan dll.

Bagaimanakah kalau pengelompokan dalam sektor tersebut masih membingungkan kita?
Bahan tersebut bisa dikelompokkan lagi dalam sub sektor, sub-sub sektor dan komoditas. Misalnya sektor industri menjadi sub sektor industri logam, keramik, kayu, elektronik, otomotif dll. Sub sektor dikelompokkan lagi menjadi sub-sub sektor dan komoditas. Misalnya sub sektor industri logam secara spesifik bisa dirinci menjadi industri baja, aluminium, tembaga, emas, perak, dll. sampai ke komoditasnya. Misalnya industri panci aluminium, gelang perak, kabel tembaga dll.

Apakah ada cara pengelompokan selain bidang, sektor, sub sektor dan komoditas?
Ada, yakni pengelompokan berdasarkan aspek hulu hilirnya (proses). Misalnya industri buku. Pelakunya adalah penerbit. Aspek hulunya adalah penulisan naskah, pembuatan foto, gambar, grafis dll. Aspek tengahnya adalah editing, seting/layout dan cetak/jilid. Aspek hilirnya adalah ekspedisi, toko buku (pamasaran) dan promosi. Selain itu masih ada aspek pendukung yakni administrasi, keuangan, PSDM dll.

Bagaimanakah dengan pengelompokan sumber bahan yang siap pakai?
Sumber bahan yang siap pakai misalnya kliping, dokumentasi, buku dll. bisa dikelompokkan dalam index judul, index penulis dan index subyek/obyek. Bisa pula gabungan antara ketiganya.

6 Meliput dan Wawancara

Apakah yang disebut sebagai meliput dan wawancara?
Meliput adalah “hunting” informasi. Hingga kegiatannya bisa hanya datang ke perpustakaan, pertunjukan, bencana alam, kecelakaan, pembangunan jembatan dll. tanpa perlu melakukan wawancara. Pekerjaan konkrit yang dilakukan adalah pengamatan lapang (kondisi setempat, masyarakat dll. kalau perlu dipotret), pengumpulan data (docopy, dicatat), menonton (untuk pertunjukan, pertandingan), membaca (di perpustakaan), makan dan berbelanja (untuk menulis rubrik restoran/menu atau belanja) dll.

Mengapa banyak pihak yang menganggap meliput hanya sebagai wawancara?
Karena banyak penerbit yang mempekerjakan wartawan yang tidak memiliki standar pendidikan kewartawanan (jurnalistik), dan penerbitan tersebut tidak melakukan inhouse training pendidikan kewartawanan. Akibatnya, pekerjaan meliput hanya diartikan sebagai mendatangi narasumber dan mewawancarainya. Datang ke seminar juga hanya untuk meminta makalahnya dst.

Apakah meliput bisa dilakukan dengan tanpa persiapan?
Tidak mungkin. Bahkan untuk meliput perang, seorang wartawan mutlak dilengkapi dengan pengetahuan kemiliteran, bahkan juga peralatannya seperti rompi anti peluru. Persiapan untuk meliput konser misalnya, juga harus disertai dengan pengetahuan mengenai grup musik tersebut, jenis musiknya, sejarahnya, fansnya dll. Wawancara harus dilakukan dengan cara diskusi, bukan sekadar tanya-jawab. Untuk itu wartawan mutlak memerlukan pengetahuan standar mengenati subyek yang akan dibicarakan dengan narasumber.

Apakah dalam meliput seseorang harus merekam hasil wawancara dan memotret peristiwa atau obyek yang diliputnya?
Sebaiknya hasil wawancara dicatat dan sekaligus direkam dengan alat perekam. Rekaman dimaksudkan untuk melengkapi hasil catatan serta untuk bukti apabila ternyata narasumber membantah hasil wawancaranya setelah dimuat media massa. Foto dimaksudkan untuk menunjukkan bukti otentik bahwa penulis artikel/feature benar-benar mendatangi lokasi dari obyek yang ditulisnya.

Bisakah seseorang menulis artikel atau feature tanpa mendatangi obyek yang akan ditulisnya secara langsung?
Dalam menulis artikel, seseorang bisa tidak perlu mendatangi obyek yang ditulisnya secara langsung. Namun dalam menulis feature, penulis mutlak harus melakukan peliputan.

7 Hak Cipta dan Kode Etik

Apakah semua bahan bisa diambil untuk dijadikan tulisan?
Tidak semuanya bisa. Sebab bahan tulisan ada yang memilikinya dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta yang berlaku secara universal (Intellectual Property Right = Hak Kekayaan Intelektual / HAKI).

Apakah berarti bahan-bahan yang ada pemiliknya dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta itu tidak bisa dijadikan sebagai bahan tulisan?
Masih bisa. Caranya dengan meminta ijin, bekerjasama, membeli, hanya mengambil bagian yang diperlukan (maksimal 10% dari total) dengan menyebutkan sumbernya.

Bagaimanakah kalau kita tidak melakukan hal tersebut?
Kalau pemilik bahan tahu, kita bisa dituntut secara pidana (plagiat), perdata atau niaga (melalui Pengadilan Niaga).

Bagaimana dengan bahan-bahan tulisan yang tidak ada pemiliknya dan tidak dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta?
Dalam dunia penulisan, masih ada yang disebut kode etik atau etika penulisan. Salah satunya dengan wajib menyebut sumber atau justru menyembunyikannya. Wajib menyebut sumber, bertujuan untuk menghormatinya. Sementara wajib menyembunyikan, bertujuan demi keamanan dan kenyamanan sumber tersebut. Misalnya, ketika H.B. Jassin selaku Pemimpin Redaksi Majalah Sastra diadili karena memuat cerpen Ki Panji Kusmin (nama samaran), berjudul Langit Makin Mendung pada tahun 1960an, maka dia tetap menyembunyikan identitas sang penulis sampai meninggalnya. Media massa pun (majalah Tempo), baru bersedia mengungkap identitas Ki Panji Kusmin setelah H. B. Jassin Meninggal dunia tahun 2000an.

Bagaimanakah kalau kode etik dilanggar?
Pelanggaran kode etik tidak ada sanksi hukumnya. Tetapi sanksi sosial dan moral akan ada. Misalnya seorang penulis bisa diblacklist (dikucilkan) oleh penerbitan. Mayarakat tidak mau lagi membeli bukunya dsb.

* * *

VII MENGENAL CARA MULAI MENULIS DENGAN 5 W 1 H

1 Mengatasi Kesulitan untuk Mulai Menulis

Mengapa orang selalu mengeluh susah untuk mulai menulis?
Ada beberapa sebab mengapa seseorang susah untuk mulai menulis. Pertama, mungkin kondisi fisiknya sedang kurang baik. Bisa karena capek, bisa sakit, lapar, mengantuk dll. Kedua, kondisi psikisnya yang sedang kurang baik. Misalnya sedang frustrasi, malas, jengkel, marah dll. Ketiga, sebenarnya kondisi fisik maupun psikisnya sangat baik, namun dia tidak siap untuk menulis.

Mengapa seseorang bisa tidak siap untuk menulis?
Pertama, dia tidak tahu, materi atau tema apa sebenarnya yang akan ditulisnya. Kedua, dia tahu apa yang paling tepat untuk ditulisnya, namun bahan-bahannya tidak lengkap. Ketiga, dia tahu apa yang akan ditulisnya, bahan-bahannya lengkap, namun “dorongan” untuk mulai menulis yang justru tidak ada.

Bagaimanakah cara mengatasi permasalahan “tidak tahu apa yang paling tepat untuk ditulis”?
Cara paling tepat untuk mengatasi permasalahan “sulit memulai menulis karena tidak tahu apa yang harus ditulisnya” ada dua. Pertama, kita harus secara teknis sudah mengenal bentuk-bentuk tulisan secara standar. Misalnya bisa membedakan tulisan ilmiah (makalah) dengan berita, artikel, feature, esai, reportase dll. Kalau pengetahuan dasar ini sudah dikuasai, kita harus banyak membaca, mendengarkan radio, menonton televisi serta membuka internet. Yang paling penting adalah membaca koran dan majalah berita. Baik membaca beritanya maupun artikel serta featurenya. Dengan banyak membaca, mendengarkan berita radio serta mentonton warta berita televisi, maka kita akan dengan mudah menemukan tema dan materi sebagai bahan tulisan. Baik sebagai artikel maupun feature.

Bagaimanakah cara mengatasi permasalahan tidak bisa segera mulai menulis karena bahan yang kurang lengkap?
Caranya cukup dengan melengkapi bahan-bahan tersebut seperti telah dibahas dalam bab IV. Tanpa bahan-bahan yang lengkap dan akurat, kita akan sulit untuk mulai menulis.

Bagaimanakah cara mengatasi permasalahan tidak bisa segera mulai menulis karena tidak adanya “dorongan” untuk menulis?
Kalau kondisi fisik dan psikis kita sedang fit, kita sudah tahu apa yang menarik dan penting serta mendesak (urgent) untuk ditulis, bahan-bahan untuk itu juga sudah lengkap, namun dorongan untuk menulis justru tidak kunjung datang, maka lakukanlah diskusi dengan siapa saja agar “dorongan” untuk menulis itu muncul. Baik diskusi secara langsung dengan tatap muka, melalui telepon maupun internet. Biasanya, setelah melakukan diskusi dengan agak intens, terutama dengan pihak-pihak yang selalu bersilang pendapat dengan kita, maka dorongan untuk menulis itu akan segera datang dengan sangat kuat.

2 Tentang 5 W 1 H

Apakah yang dimaksud dengan 5 W 1 H?
Di depan sudah disebutkan bahwa 5 W 1 H terdiri dari What = apa, Who = siapa, When = kapan, Where = di mana, Why = mengapa dan How = bagaimana. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan perangkat pembantu untuk mencari jawaban yang akan menjadi bahan tulisan.

Apakah 5 W 1 H merupakan sesuatu yang mutlak dalam dunia jurnalistik?
Benar, 5 W 1 H merupakan sesuatu yang mutlak dalam dunia jurnalistik. Sebab kalau kita lupa whonya, maka pembaca akan bertanya-tanya tentang who tersebut. Atau kalau kita lupa wherenya, maka pembaca akan bertanya-tanya di mana gerangan lokasi kejadian ini dst. Bahkan kadang-kadang rumus 5 W 1 H masih harus ditambah dengan 1 S = Security = keamanan. Baik keamanan bagi narasumber, penulis maupun medianya.

Dalam menulis artikel, feature dan esai, bagian 5 W 1 H yang manakah yang harus diprioritaskan?
Dalam menulis artikel, feature dan esai, why dan how lebih penting dari what, who, when, dan where. Sebab dalam artikel, feature dan esai, pembaca menginginkan jawaban atas berita yang sudah menulis what, who, when dan wherenya secara panjang lebar. Yang masih diperlukan oleh pembaca adalah jawaban lebih detil dan mendalam dari why dan how.

Apakah berarti pertanyaan di luar why dan dan how tabu untuk diangkat sebagai artikel, feature dan esai?
Tidak juga. Sebab kadang-kadang koran, tabloid atau majalah juga suka menulis feature dengan fokus pertanyaan pada what dan who (apa dan siapa). Namun materi demikian umumnya ditulis dalam bentuk tulisan pendek disertai dengan fotonya. Sebenarnya semua unsur pertanyaan bisa diangkat sebagai artikel dan feature. Dengan syarat, yang paling diperlukan oleh pembaca memang pertanyaan tersebut.

Adakah contoh artikel, feature dan esai yang diangkat dari what, who, when dan where?
Kalau ada kejadian yang oleh pihak pemerintah atau militer atau polisi dirahasiakan, misalnya sakitnya seorang menteri atau presiden, maka masyarakat akan bertanya: Apa (what) sebenarnya yang terjadi? Pertanyaan demikian muncul karena masyarakat tidak percaya kepada pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi. Kalau ada seseorang yang tidak terkenal tiba-tiba diangkat menjadi menteri atau pejabat tinggi lainnya (atau tiba-tiba dia memenangkan kontes menyanyi dll), maka masyarakat akan bertanya: Siapa (who) dia? Kalau ada keinginan (kerinduan) masyarakat terhadap sesuatu, misalnya pembarantasan KKN, maka pertanyaan yang paling layak diajukan adalah: Kapan (when) KKN bisa diatasi di negeri ini? Atau: Kapan ada pemimpin yang berani dan jujur untuk membasmi KKN? Kalau ada kejadian penting, misalnya pesawat terbang jatuh di pulau terpencil, maka pertanyaan publik adalah: Dimana persisnya letak pulau tersebut? Hingga sebenarnya hampir semua pertanyaan bisa diangkat menjadi artikel, feature dan esai.

3 Dimulai dengan Membuat Sebuah Pernyataan

Pernyataan apakah yang harus dibuat paling awal sebelum mulai dengan pertanyaan?
Hampir tiap hari ada berita menarik di media massa. Mulai dari soal perkosaan, pembunuhan, perampokan (kriminalitas); banjir, tanah longsor; kekeringan, gunung meletus, gempa bumi (bencana alam); politik, ekonomi, lingkungan hidup, budaya dll. Setelah kita menentukan materi yang akan kita tulis, maka harus dibuat sebuah kalimat pernyataan. Misalnya hari ini ada berita di koran tentang banjir besar yang menewaskan ribuan orang. Kalimat pernyataan tersebut bisa berbunyi: “Banjir besar yang terjadi di …..(where); hari/tanggal……..(when); telah menewaskan ……..ratus orang.”

Harus diapakankah kalimat pernyataan tersebut?
Berdasarkan kalimat berisi pernyataan tersebut, sudah bisa diajukan pertanyaan-pertanyaan lengkap menyangkut 5 W 1 H. Misalnya, pertanyaan pertama menyangkut what: apa saja yang hanyut dan terendam? Rumah? Desa? Ladang/sawah? Apa saja yang menjadi korban? Manusia? Hewan? Tanaman? Dan lain-lain pertanyaan what. Dari sana kita bisa mengajukan pertanyaan menyangkut who. Siapa (bisa orang atau lembaga) yang paling bertanggungjawab terhadap banjir besar tersebut? Siapa yang sudah turun tangan membantu korban? Dan lain-lain pertanyaan who. Disusul dengan pertanyaan menyangkut when dan where. Dua pertanyaan ini harus diajukan bukan hanya menyangkut peristiwa yang sudah nyata-nyata disebut dalam berita, melainkan (terutama) untuk mendeteksi kapan dan di mana banjir serupa pernah terjadi dalam kurun waktu 5 atau 10 tahun belakangan ini. Baru kemudian diajukan pertanyaan menyangkut whay: Mengapa bisa terjadi banjir yang memakan demikian banyak korban? Dan how: Bagaimana caranya agar peristiwa semacam ini tidak terulang lagi.

Darimanakah kita memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa kita peroleh dari bahan bacaan, data statistik, kamus, ensiklopedi, data pemerintah daerah dll. Semua itu bisa diperoleh secara langsung (dari tangan pertama) sebagai data primer, bisa pula dari tangan kedua atau ketiga sebagai data secunder atau tertier.

Tepatnya, bagaimanakah mengumpulkan jawaban dari sekian banyak pertanyaan tersebut?
Pertama tentu dari dokumentasi kita sendiri. Kedua dari perpustakaan umum maupun khusus. Dari instansi pemerintah (departemen maupun daerah), dari Badan Pusat Statistik, dari Badan Meteorologi dan Geofisika (curah hujan, cuaca), dari fakultas atau Direktorat Jenderal Geologi dll. Selain dengan mendatangi langsung, data tersebut bisa kita peroleh melalui telepon atau internet (membuka web yang tersedia).

Bagaimanakah kalau data (jawaban) yang sudah diperoleh ternyata justru menghasilkan pertanyaan baru?
Memang akan selalu demikian. Hingga seorang penulis harus membatasi diri untuk hanya sampai ke satu permasalahan tertentu saja. Hal-hal yang di luar permasalahan tersebut hanya disinggung sedikit atau sama sekali tidak usah disebutkan. Namun apabila masih ada jawaban yang justru menghasilkan pertanyaan yang sangat esensial, maka harus tetap dicari jawabannya. Apabila jawaban dari pertanyaan esensial itu tidak mungkin diperoleh dalam jangka waktu singkat, maka berarti tulisan tersebut juga tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu singkat pula.

4 Menyusun Kerangka Tulisan

1 Apakah setiapkali menulis seseorang harus selalu menyusun kerangka tulisan?
Benar. Sebab dengan memiliki kerangka tulisan, kita akan lebih mudah melihat, apakah data-data yang tersedia sudah lengkap, atau masih harus dilengkapi dengan data-data lain.

Dari manakah kerangka tulisan harus dimulai?
Kerangka tulisan dimulai dari pernyataan yang pertama-tama kita buat. Misalnya, “Banjir besar yang terjadi di DKI minggu yang lalu telah menewaskan 100 orang.” Judul artikel yang bisa kita usulkan antara lain: Siapa yang paling bertanggungjawab terhadap penanggulangan banjir di DKI? Atau: Kemana aparat Dinas PU DKI ketika banjir terjadi? Dan masih banyak lagi usulan judul artikel yang bisa kita ajukan. Untuk featurenya kita bisa mengajukan alternatif: Perjuangan rutin melawan genangan Ciliwung. Atau: Si Atun yang harus libur sekolah karena banjir. dll. Dari rencana judul ini kita bisa merancang lead, body dan ending.

Bagaimanakah konkritnya menyusun kerangka sebuah artikel?
Kalau judulnya sudah ditentukan, dan sejumlah pertanyaan menyangkut 5 W 1 H sudah diajukan dan tersedia bahan-bahan jawabannya, kerangka artikel bisa disusun dengan model induktif, yakni diambil contoh kasus khusus. Semua pertanyaan menyangkut 5 W 1 H dalam kasus khusus ini kita tampilkan berikut data-datanya, baru kemudian diangkat ke gejala umum sebagai kesimpulannya. Misalnya judul “Siapa yang paling bertanggungjawab terhadap penanggulangan banjir di DKI?” Data (5 W 1 H) dalam kasus khusus adalah: Banjir besar (setinggi…..m. di …….); yang terjadi dari (hari……. tanggal …….) ke (hari……….tanggal………); telah menenggelamkan sekitar (……….rumah) di (……….kampung/kelurahan/kecamatan) di DKI. Banjir ini juga telah menewaskan (……….jiwa) serta mengakibatkan (………..KK) mengungsi di sekolah-sekolah, mesjid serta sejumlah posko yang disediakan oleh berbagai kalangan. Sebenarnya banjir besar ini sudah merupakan peristiwa rutin yang terjadi hampir setiap tahun. Namum banjir kali ini tercatat paling luas dan paling lama terjadi. Diperkirakan hujan yang terjadi sejak (hari ……tanggal……) dan banyaknya kompleks perumahan yang tidak memperhatikan Perda (nomor……..tahun ……..) tentang sumur resapan dan saluran air; telah memperparah keadaan. Ditambah lagi dengan kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan dst. (satu alinea)
Alinea berikutnya adalah sebuah gugatan atau pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang paling bertanggungjawab terhadap kasus bencana rutin ini? Apakah Dinas Tata Kota? Dinas Pekerjaan Umum? Dinas Kebersihan? Atau para developer yang membangun perumahan dengan mengabaikan pelaksanaan tata air sesuai dengan perda? Semua pertanyaan ini didukung oleh data jumlah perumahan, pelanggaran terhadap Perda yang ada, berapa persen yang tergenang banjir, dst.
Alinea pertama, kedua dan ketiga merupakan lead. Satu alinea terdiri dari sekitar 6 sd. 8 baris ketikan. Terdiri dari 8 sd. 10 kalimat pendek (jangan terlalu banyak kalimat majemuk). Satu alinea harus terdiri dari satu pokok pikiran yang dituangkan dalam satu kepala kalimat (kalimat pokok). Kepala kalimat tidak harus berada pada awal alinea. Kalimat berikutnya dalam satu alinea ini, harus mendukung, memperjelas, memperkuat pengertian kepala kalimat.
Setelah lead, artikel ini akan disusul oleh tiga sub judul. Masing-masing sub judul terdiri dari 4 alinea. Kecuali sub judul terakhir terdiri dari enam alinea, termasuk dua alinea terakhir yang merupakan ending. Tiap sub judul ada alinea utama yang memuat satu pokok pengertian, yang akan didukung oleh alinea berikutnya yang menjelaskan/memperkuat alinea utama. Sub judul pertama (4 alinea), menunjukkan hak masyarakat yang dikorbankan berikut data kerugian yang ada.
Sub judul kedua menunjukkan kelemahan dinas-dinas DKI dalam melaksanakan tugas pokoknya. Sub judul terakhir menunjukkan bahan banding kota di Indonesia (atau di negara tetangga) yang mampu menanggulangi masalah banjir dengan cukup baik. Disinggung pula pengaruh cuaca global yang cenderung kacau (El Nino, La Nina dll). Dua alinea terakhir yang merupakan ending bisa menggugat kelemahan gubernur DKI, DPRD dan lembaga kontrol lainnya termasuk Pers dan LSM.

Apakah kerangka artikel beda dengan kerangka feature?
Jelas beda sebab struktur, bahan baku dan tujuan penulisannya memang berbeda. Dalam menyusun feature dengan judul: “Perjuangan rutin melawan genangan Ciliwung”, lead cukup dua alinea dan kita tunjukkan secara deskriptif bagaimana sebuah keluarga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung ketika terjadi banjir besar bertahan hidup di tengah genangan. Padahal banjir demikian bukan hanya terjadi tahun ini, melainkan secara rutin setiap tahun. Dalam dua alinea lead ini digambarkan secara deskriptif lokasi rumah tersebut, bangunan fisiknya (bahan, ukuran, konstruksi), jumlah dan profil anggota keluarga, dan detil kondisi mereka selama banjir terjadi.
Untuk bisa menceritakan detil gambaran kondisi rumah serta profil anggota keluarganya, tetap dimulai dengan serangkaian pertanyaan 5 W 1 H. Jawaban dari pertanyaan ini harus diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan sumber langsung (data primer). Karenanya, penulis feature harus datang ke lokasi bencana pada saat bencana sedang terjadi. Beda dengan penulis artikel yang cukup mengambil data sekunder dari koran, majalah, berita televisi dll. untuk dilengkapi dengan data pustaka, analisis dan opini pribadi. Bahan utama, kerangka dan struktur inilah yang akan membedakan karakter sebuah artikel dengan feature.
Berikutnya ada dua sub judul terdiri dari tiga dan empat alinea. Sub judul pertama menceritakan kondisi kampung/tetangga sang tokoh yang juga mengalami nasib sama. Sub judul kedua menceritakan nasib mereka yang berada di pengungsian. Alinea terakhir sub judul kedua merupakan ending yang menunjukkan bahwa keluarga yang selama seminggu lebih terkurung air ini tetap tegar dalam menghadapi keadaan. Meskipun bahaya hanyut, tenggelam dan kesehatan akibat selalu menghirup udara lembab tetap mengancam. Kerangka tulisan dalam feature lebih longgar dan sederhana dibanding dalam artikel.

Bagaimanakah dengan kerangka sebuah esai?
Selain ada berita tentang banjir di DKI, ada artikel dan feature, seorang penulis esai bisa mengulas tentang kesemerawutan tata kota di Jakarta. Karena sifat esai yang non teknik dan non sistematik, maka kerangka dasarnya bisa mengikuti kerangka dasar artikel atau feature, namun konten dan tujuan penulisannya yang berbeda.

Apakah penulis harus patuh 100% pada kerangka tulisan?
Meskipun kerangka tulisan sudah dibuat, seorang penulis tetap boleh berimprovisasi dalam pelaksanaan penulisan. Asalkan improvisasi tersebut justru memperkuat karakter tulisan. Bukan malahan memperlemahnya karena menyimpang jauh dari kerangka tulisan.

5 Mencari “Spirit” untuk Mulai Menulis

Apakah benar bahwa untuk bisa segera mulai menulis diperlukan sebuah “spirit” atau adanya dorongan gaib (spirit = roh)?
Benar. Namun yang dimaksud sebagai dorongan gaib di sini bukan semacam ilham atau inspirasi berupa kekuatan supranatural yang tiba-tiba saja datang setelah seorang penulis merenung, menyepi atau melakukan meditasi.

Bisakah spirit diperoleh melalui minuman keras, rokok, obat-obatan bahkan narkotik?
Tidak bisa. Sebab minuman keras dll. itu justru akan merusak fisik seseorang. Penulis yang mengatakan bahwa, pikirannya baru akan terbuka setelah minum berbotol-botol bir atau mengisap berbatang-batang rokok, sebenarnya sedang menipu diri sendiri.

Dari manakah spirit untuk mulai menulis bisa diperoleh?
Spirit untuk mulai menulis, paling besar diperoleh kalau kita melakukan diskusi, dialog atau monolog. Diskusi dilakukan antara penulis dengan banyak pihak, dialog antara penulis dengan satu pihak dan monolog dilakukan sendiri oleh penulis tersebut. Yang disebut diskusi atau dialog, dalam hal ini tidak harus dalam arti harafiah, melainkan bisa dengan membaca buku, artikel atau bahan rujukan lainnya. Namun paling kuat spirit untuk mulai menulis akan diperoleh kalau kita melakukan diskusi atau dialog dengan sesama manusia secara langsung.

Apakah spirit untuk mulai menulis bisa diperoleh melalui doa, berpuasa, bermeditasi, bertapa dll?
Bisa, tetapi itu semua hanyalah perangkat pembantu. Sebab yang utama tetap mengumpulkan bahan dan diskusi/dialog dengan banyak pihak. Itu pun baru akan sepadan apabila yang akan ditulis sebuah buku dengan tema yang berat. Bukan untuk menulis artikel atau feature.

Apakah gunanya spirit dalam dunia tulis menulis?
Spirit bermanfaat dalam menulis artikel dan feature, agar tulisan kita juga memiliki spirit (roh). Bukan kering kerontang tidak berjiwa. Itulah sebabnya persiapan teknis berupa bahan, pengetahuan tentang bentuk artikel/feature, 5 W 1 H dll. harus tetap dilengkapi dengan “menangkap spirit” dari masyarakat pembaca.

Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 3)

VIII MENGENAL BAHASA JURNALISTIK

1 Ragam Bahasa Indonesia

Apakah yang disebut sebagai bahasa jurnalistik?
Bahasa Jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipergunakan oleh dunia persurat-kabaran (dunia pers = media massa cetak). Dalam perkembangan lebih lanjut, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang dipergunakan oleh seluruh media massa. Termasuk media massa audio (radio), audio visual (televisi) dan multi media (internet). Hingga bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa, yang dibentuk karena spesifikasi materi yang disampaikannya.

Apakah ada ragam bahasa lain?
Ragam bahasa dibedakan sesuai dengan cara penyampaiannya, yakni ragam bahasa lisan (percakapan sehari-hari) dan tulis (surat kabar, buku, surat menyurat, penulisan undang-undang dll). Ragam bahasa juga dibedakan karena spesifikasi pelaku dan suasana penyampaiannya. Yakni ragam bahasa baku (bahasa resmi/formal) dan non baku (remaja, slank, dialek dll). Terakhir, ragam bahasa juga bisa dibedakan karena spesifikasi materi yang disampaikannya (bahasa hukum, kedokteran, militer, pertanian, dagang, jurnalistik dll). Jadi, bahasa jurnalistik termasuk katagori ragam bahasa tulis, baku maupun non baku).

Apakah ada ragam bahasa ilmiah, ilmiah populer dan bahasa populer?
Tidak ada. Sebab arti kata ilmiah adalah memenuhi kaidah ilmu pengetahuan. Sementara populer (populis) berarti dikenal oleh masyarakat luas. Tulisan ilmiah, bisa saja sekaligus sangat populer. Teori Relativitas Einstein misalnya, sangat ilmiah tetapi sekaligus juga sangat populer. Demikian pula halnya dengan teori Big Bangnya Stephen Hawking. Sebaliknya, tulisan yang tidak ilmiah, juga belum tentu menjadi populer. Banyak tulisan di media massa cetak yang sangat tidak ilmiah, misalnya cerita tentang hantu, gosip artis, dll. ternyata tidak sepopuler ulasan ilmiah berupa analisis ekonomi, keuangan, politik dll. yang ditulis oleh para pakar di media yang sama.

Bukankah yang dimaksud sebagai populer adalah, karena sebuah tulisan mudah dimengerti oleh masyarakat luas?
Pengertian ini pun tidak benar. Sebuah tulisan akan mudah dimengerti orang banyak, kalau penulisnya terampil menggunakan bahasa Indonesia ragam tulis. Bukan karena penulisnya menggunakan teknik menulis populer. Sebab teknik menulis populer, sebenarnya tidak pernah ada. Tulisan Prof. Mubyarto dari UGM tentang Ekonomi Pertanian misalnya, jelas sangat ilmiah. Namun tulisan tersebut mudah sekali dicerna oleh kalangan awam, karena Mubyarto terampil menggunakan Bahasa Indonesia ragam tulis. Demikian pula halnya dengan tulisan ilmiah Prof. Andi Hakim Nasution dari IPB, Prof. Bambang Hidayat dari ITB dan Prof. Fuad Hasan dari UI. Semua profesor tadi tetap menghasilkan tulisan ilmiah, namun juga tetap mudah dicerna oleh kalangan awam, karena tingkat keterampilan menulis mereka yang tinggi. Bukan karena tulisan tersebut bernama ilmiah populer. Sementara tulisan para wartawan baru (yang baru belajar menulis) di media massa yang cukup ternama pun, seringkali sulit untuk dimengerti oleh pembacanya karena ia belum terampil menulis. Karenanya, pengkategorian bahasa menjadi ilmiah, ilmiah populer dan populer adalah sesuatu yang salah kaprah. Sesuatu yang salah, tetapi dimengerti sebagai kebenaran oleh masyarakat banyak.

Apakah benar bahwa ragam bahasa jurnalistik termasuk non baku (populer)?
Tidak benar. Sebab sebagian besar tulisan di koran terkemuka, menggunakan ragam bahasa baku. Namun tulisan pada rubrik remaja di koran yang sama bisa menggunakan ragam bahasa non baku. Di televisi, ragam bahasanya bisa lebih variatif. Warta berita akan menggunakan ragam bahasa baku (bahasa tulis yang dilisankan = dibaca). Bahasa pada acara sinetron remaja, pasti menggunakan ragam non baku (bahasa gaul).

Apakah ragam bahasa baku lebih baik dan benar dibanding dengan ragam bahasa non baku?
Tidak benar. Bahasa yang baik dan benar adalah yang komunikatif (mudah dipahami). Bahasa menjadi tidak baik dan tidak benar kalau digunakan oleh dan untuk kalangan yang tidak cocok, dalam suasana yang tidak cocok dan untuk membahas materi yang tidak cocok pula. Misalnya, bahasa Indonesia dialek Tegal, Madura atau Batak, baik dan benar kalau digunakan oleh para pelawak, dalam acara lawak untuk lucu-lucuan. Tetapi akan menjadi tidak baik dan tidak benar kalau digunakan oleh guru besar, pejabat pemerintah, hakim dll. dalam acara formal untuk membahas permasalahan yang juga formal. Anak-anak SMU yang berbicara dengan bahasa gaul dengan sesama teman mereka, adalah baik dan benar. Tetapi akan menjadi tidak baik dan tidak benar kalau bahasa tersebut digunakan untuk membuat karya tulis yang merupakan tugas dari sekolah.

Apakah bahasa jurnalistik lebih populer (lebih mudah dipahami) dibanding dengan bahasa dalam karya sastra?
Tidak benar. Bahasa dalam karya sastra yang baik, juga sangat mudah dipahami bahkan sangat enak dibaca. Yang benar, karya jurnalistik ada yang mudah dipahami (enak dibaca) dan ada pula yang sulit dipahami. Karya sastra pun demikian. Tulisan Pramudya, Rendra, Putu Wijaya dan Arswendo, sangat mudah dipahami dan enak dibaca. Sementara ada beberapa sasterawan yang karyanya memang sulit dibaca dan dipahami.

2 Ejaan

Apakah yang dimaksud dengan ejaan?
Ejaan adalah tatacara penulisan huruf, kata, kalimat, tanda baca, berikut pemenggalan dan penggabungannya dalam suatu bahasa.

Mengapa ejaan diperlukan dalam bahasa tulis dan bukan dalam bahasa lisan?
Karena dalam bahasa lisan, proses komunikasi akan terbantu oleh warna suara (garang, lemah-lembut), intonasi (keras, pelan), frekuensi (cepat, lambat); mimik pembicara (sedih, gembira); gerak tubuh dan keseluruhan suasana saat peristiwa bahasa dilangsungkan. Hingga dengan kalimat tidak sempurna pun, komunikasi bisa berlangsung dengan baik dalam ragam bahasa lisan. Misalnya, dua orang sahabat di suatu kantor, pada jam 12.00 bertemu di lorong toilet. Salah seorang mengatakan: Makan. Lalu yang seorang lagi menjawab: Ayo. Komunikasi hanya dengan dua kata itu sudah bisa berlangsung dengan baik, dan dua orang sahabat itu lalu berjalan ke kantin untuk makan siang. Tetapi dalam bahasa tulis, kata makan dan ayo tersebut tidak punya arti apa pun, kecuali sebelumnya diawali dengan narasi tentang: keberadaan dua orang sahabat di suatu kantor, pada saat menjelang jam makan siang, di sebuah lorong dekat toilet. Meskipun sudah diawali dengan narasi demikian, tetap diperlukan penulisan dengan huruf besar/kecil, tanda tanya, tanda seru, titik, koma dll. terhadap kata makan dan ayo, yang kesemuanya diatur dalam penggunaan ejaan.

Apakah Bahasa Indonesia juga punya ejaan?
Bahasa Indonesia yang berasal dari Ragam Bahasa Melayu, pernah punya ejaan Van Ophuijsen, yang dipergunakan sejak Sumpah Pemuda sampai dengan tahun 1947. Peninggalan ejaan Van Ophuijsen yang sampai sekarang masih diingat masyarakat adalah, penulisan u dengan oe. Hingga Sumpah Pemuda ditulis sebagai Soempah Pemoeda. Dari tahun 1947 sampai dengan tahun 1972, Bahasa Indonesia menggunakan Ejaan Soewandi. Dari ejaan Soewandi, yang masih diingat oleh masyarakat adalah penulisan c dengan tj; ny dengan nj dan j dengan dj. Dari tahun 1972 sampai sekarang dipergunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Apakah bahasa jurnalistik mutlak harus patuh pada EYD?
Tidak harus. Hanya bahasa jurnalistik pada media massa yang bersifat formal, untuk menyampaikan fakta, data (berita) dan pendapat (opini) yang bersifat formal pula yang mutlak harus patuh pada EYD. Misalnya koran atau majalah nasional yang dibaca oleh seluruh penduduk Indonesia dan memberitakan atau menulis tentang masalah perekonomian, politik, sosial dan budaya yang bersifat nasional bahkan internasional, mutlak harus patuh pada EYD.

Jenis tulisan dan media massa manakah yang boleh tidak patuh pada EYD?
Tulisan di majalah remaja, tabloid olah raga dll. penerbitan khusus (bulletin/jurnal intern) dll, bisa saja melanggar kaidah EYD, dengan maksud agar lebih menarik dan lebih dipahami oleh target pembacanya. Ragam bahasa remaja malahan cenderung memberontak bukan hanya terhadap ejaan, tetapi juga keseluruhan kaidah Bahasa Indonesia. Penggunaan pesan-pesan singkat (SMS) melalui telepon genggam (HP), juga sangat potensial merusak ejaan dan seluruh kaidah bahasa. Demikian pula dengan bahasa yang digunakan dalam chating melalui internet.

Di manakah kita bisa memperoleh pedoman penulisan sesuai dengan EYD?
Pedoman penulisan dengan kaidah EYD, bisa kita dapatkan dari buku-buku pedoman berbahasa Indonesia yang banyak dijual di toko-toko buku. Bisa pula diperoleh di Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, di jalan Daksinapati, Rawamangun, Jakarta.

3 Kata

Apakah yang dimaksud sebagai kata?
Kata adalah unsur bahasa yang diucapkan, dituliskan atau diperagakan, untuk mewujudkan satu kesatuan pengertian. Unsur dalam kata adalah fonem dan morfem.

Apakah yang disebut sebagai fonem?
Fonem adalah satuan bunyi terkecil, baik konsonan maupun vokal, yang mampu menciptakan perbedaan pengertian suatu kata. Fonem dari huruf konsonan yang berbeda, lebih mudah dipahami daripada fonem dari huruf vokal yang sama. Fonem dari huruf konsonan berbeda misalnya: cari (cé); dari (dé); hari (ha); jari (jé); lari (èl); tari (té). Fonem dari huruf vokal yang sama antara lain: kere (kéré = pengemis) dan kere (keré = tirai); seret (seret = tidak lancar) dan seret (sèrèt = menarik paksa); keset (keset = tidak licin) dan keset (kèsèt = anyaman sabut dll. pembersih sepatu); ter (ter = paling) dan ter (tèr = cat hitam); nek (nek = mual) dan nek (nèk = panggilan untuk nènèk); per (per = tiap) dan per (pèr = pegas) dll. Hingga nama kota Purwokerto (Jateng) dan Probolinggo (Jatim) ditulis dengan fenem o, agar masyarakat tidak dibingungkan dengan nama kota Purwakarta (Jabar) dan Purbalingga (Jateng).

Apakah yang disebut sebagai morfem?
Morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mengandung satu atau beberapa arti yang tidak berubah-ubah. Ada morfem bebas yang memiliki arti sendiri dalam satu kalimat. Misalnya mandi, tidur, sakit, bangku, langit dll. Ada morfem terikat, yakni morfem yang tidak bisa memiliki arti sendiri dalam sebuah kalimat. Misalnya awalan, sisipan, akhiran dan partikel lain (lah, kah, pun); yang baru akan memiliki makna apabila digabung dengan morfem lain.

Ada berapakah jenis kata dalam Bahasa Indonesia?
Selama ini Bahasa Indonesia, sebagaimana bahasa modern lain di dunia, mengenal 10 jenis kata, yakni 1 kata benda (nomina); 2 kata kerja (verba); 3 kata sifat (adjektiva); 4 kata ganti (pronomina); 5 kata keterangan (adverbia); 6 kata bilangan (numeralia); 7 kata sambung (konjungsi); 8 kata sandang (artikel); 9 kata seru (interjeksi); 10 kata depan (preposisi). Dalam perkembangan terakhir, kesepuluh jenis kata itu dikelompokkan lagi hingga menjadi lima kelompok. I Verba (Kata Kerja = lahir, makan, tidur, mandi, pergi, nonton, menyanyi); II Adjektiva (Kata Sifat = baik, pandai, benar, luhur); III Adverbia (Kata Keterangan = sekarang, tadi, nanti, besuk, dulu, jauh, dekat, luas); IV Kelompok Kata Benda: 1 Nomina (kata benda / kata nama = tanah, air, pohon, rumah, Jakarta, Indonesia, Sastro), 2 Pronomina (Kata Ganti = saya, aku, kamu, dia, nya, mu, mereka, Anda, kami, kita), 3 Numeralia (Kata Bilangan = satu, dua, tiga, sedikit, banyak); V Kelompok Kata Tugas: 1 Preposisi (Kata Depan = di, ke, dari, pada, sejak, tentang, oleh, bagi), 2 Konjungtor (Kata Sambung = dan, agar, tetapi, karena, sehingga, kalau, atau, walaupun, meskipun), 3 Interjeksi (Kata Seru = astaga, wah, huh, hem, aduh), 4 Artikel (Kata Sandang = para, si, sang), 5 Partikel (lah, kah, pun).

Apakah yang disebut sebagai makna kata?
Makna kata adalah pengertian yang diciptakan oleh satuan bentuk bahasa. Ada bermacam-macam makna kata. Makna gramatikal (makna berdasarkan hubungan antara satu kata dengan kata lain, dengan frasa atau klausa); makna leksikal (makna kata sebagai lambang benda, peristiwa dll); makna lokusi; makna luas; makna kontekstual; makna konotasi; makna kognitif; makna intensi; makna khusus; makna emotif (efektif); makna ekstensi; makna detonatif dll.

Apakah yang dimaksud sebagai frasa (frase)?
Frasa adalah kelompok kata yang satu sama lain memiliki keterikatan, namun tidak berpredikat hingga belum membentuk kalimat. Misalnya: Negara Kesatuan Rebublik Indonesia; krisis multi dimensi; nilai tukar mata uang asing; mata pelajaran sejarah; kampanye pemilu legislatif dll. Frasa tersebut baru akan membentuk kalimat apabila diberi klausa (kelompok kata berpredikat). Misalnya: Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia; terjadi krisis multi dimensi; berpedoman pada nilai tukar mata uang asing; mengikuti mata pelajaran sejarah; menagih janji kampanye pemilu legislatif dll.

Apakah semua kelompok lalimat secara otomastis akan membentuk frasa?
Tidak selalu. Gabungan kelompok kata bisa saja tidak memiliki makna karena tidak adanya keterikatan. Misalnya: negara dimensi tukar sejarah; kesatuan krisis nilai mata dll. Selain itu, gabungan kata juga bisa membentuk idiom, yang maknanya berubah dari makna masing-masing kata yang bergabung. Misalnya mata gelap = pikirannya kalut; tanah air = negara; kaki lima = trotoar; banting tulang = bekerja keras.

Apakah yang disebut sebagai diksi?
Diksi atau pilihan kata adalah teknik untuk mempergunakan kata yang paling tepat untuk memperoleh efek tertentu dalam tulisan. Dalam jurnalisme olahraga misalnya, diksi banyak sekali dipakai. Misalnya: Ujung tombak kesebelasan Inggris itu telah menjebol gawang Jerman. Sebagai ganti penyerang, digunakan idiom ujung tombak. Masuknya bola ke gawang Jerman dilukiskan dengan menjebol. Diksi menjadi lebih penting lagi dalam memilih kata ganti orang kedua: engkau, kamu, kalian, situ, Anda, sampeyan, énté, you, jeng, mbak, kak, bang dll. Menyapa atasan dengan kamu pasti dianggap tidak sopan. Sebaliknya, kalau seorang sahabat karib tiba-tiba memanggil situ atau Anda, berarti sedang ada masalah hingga terkesan ada jarak.
Untuk memilih kata yang sangat tepat, diperlukan banyak pengetahuan tentang warna dan nuansa kata/bahasa. Kata cantik, ayu, manis, keren, kécé, bening, sehat, ménor, sexy, sensual, full cream, semlohoi, mengandung warna dan nuansa bahasa yang sangat berlainan. Cantik, ayu, manis, keren masih tergolong sopan dan netral. Kécé, bening, sahat, ménor sudah mulai slank. Sexy, sensual, kembali netral. Full cream, semlohoi, kembali slank. Rumah, gubuk, pondok, griya, graha, gedung, istana, memiliki makna serupa. Namun, peryataan: “Ya inilah Pak, gubuk saya!” mengandung makna merendah. Warung, depot makan, kios nasi, rumah makan, restoran, kafe, coffee shop, memiliki arti yang kurang lebih sama. Namun tampak ada strata yang menunjukkan kelas tempat menjual makanan dan minuman tersebut.

4 Kalimat

Apakah yang disebut sebagai kalimat?
Kalimat adalah satuan unsur bahasa, yang terdiri dari minimal dua kata sebagai subyek dan predikat. Misalnya: Ayam mati. Ayam = subyek (S) dan mati = predikat (P). Meskipun ada beberapa kata digabungkan, kalau belum ada subyek dan predikat, belum bisa disebut kalimat. Bisa hanya merupakan frasa, bisa pula bukan frasa bukan pula kalimat. Misalnya: Pukul duabelas tengah malam. Meskipun ada empat kata, namun empat kata tersebut baru menunjukkan keterangan waktu (Ket). Belum ada subyek, belum ada predikat. Ketika ditambah dengan udara sangat dingin, maka terbentuklah kalimat: Pukul duabelas tengah malam (Ket.), udara (S), sangat dingin (P).

Apakah kalimat hanya memerlukan kata-kata sebagai subyek dan predikat?
Kalimat juga memerlukan obyek (O), pelengkap (Pel) dan keterangan (Ket). Tukang kebun (S) menyiram (P) tanaman (O) dengan air sungai (Pel) pada musim kemarau (Ket). Kalimat ini lengkap dengan pola S – P – O – Pel – Ket. Pola lain adalah S – P – O – Pel (Tukang kebun menyiram tanaman dengan air sungai = tanpa keterangan); S – P – O – Ket (Tukang kebun menyiram tanaman pada musim kemarau = tanpa pelengkap); S – P – Ket (Tukang kebun menyiram pada musim kemarau = tanpa obyek, tanpa pelengkap); S – P – Pel (Tukang kebun menyiram dengan air sungai = tanpa obyek, tanpa keterangan); S – P – O (Tukang kebun menyiram tanaman = tanpa pelengkap, tanpa keterangan); S – P (Tukang kebun menyiram = tanpa obyek, tanpa pelengkap, tanpa keterangan).

Apakah dalam semua kalimat subyek harus selalu ditulis di depan predikat?
Tidak harus. Kalimat yang subyeknya di depat seperti contoh tadi, merupakan kalimat aktif (subyeknya melakukan pekerjaan). Namun bisa saja predikatnya ditulis di depan, baru kemudian subyeknya. Misalnya: Pada musim kemarau (Ket) disiramnya (P) tanaman itu (S) dengan air sungai (O) oleh tukang kebun (Pel). Kalimat demikian disebut sebagai kalimat pasif. Sebab subyeknya (tanaman) tidak melakukan pekerjaan.

Apakah yang disebut sebagai kalimat tunggal dan kalimat majemuk?
Kalimat tunggal hanya terdiri dari satu subyek dan satu predikat. Orang-orang (S) sedang (Ket) berangkat bekerja (P). Kalimat majemuk punya lebih dari satu subyek dan satu predikat. Orang-orang (S) sedang (Ket) berangkat bekerja (P), ketika tiba-tiba (Ket) hujan badai (S) merobohkan (P) pohon-pohon dan bangunan (O) di seluruh kota (Pel). Ini merupakan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara adalah: Orang-orang (P) mulai (Ket) berangkat bekerja (P) lalu bus-bus itu (S) datang menjemput (P) mereka (O).

Apa sajakah fungsi kalimat?
Kalimat bisa berfungsi sebagai penyampai berita (kalimat berita): Presiden baru (S) telah terpilih (P) oleh rakyat (O) dengan suara mutlak (Pel) bulan ini (Ket). Bisa pula sebagai penyampai pernyataan (kalimat deklaratif: Bulan ini (Ket) rakyat (S) telah memilih (P) saya (O) sebagai presiden (Pel) dengan suara mutlak (Ket). Sebagai penyampai pertanyaan (kalimat tanya): Bulan ini (Ket) siapa (S) akan terpilih sebagai presiden (P) oleh rakyat (O) dengan suara mutlak (Pel)? Sebagai penyampai perintah (kalimat perintah): Pilihlah (P) saya (S) sebagai presiden (O) dengan suara mutlak (Pel) bulan ini (Ket).

Apakah benar hanya kalimat dalam bahasa jurnalistik yang harus singkat, padat dan mudah dimengerti?
Semua ragam bahasa serius (jurnalistik; ilmiah (perguruan tinggi, lembaga penelitian); hukum; perdagangan; sastra dll. harus singkat, padat dan mudah dimengerti. Namun di lain pihak, pemadatan dan penyingkatan tersebut tidak boleh mengorbankan segi kelengkapan dan keakuratan informasi yang akan disampaikan. Hingga tidak benar anggapan bahwa hanya bahasa jurnalistiklah yang harus singkat, padat dan mudah dimengerti, sementara bahasa ilmiah, hukum dan sastra boleh bertele-tele dan sulit dimengerti.

Bagaimanakah kalau kalimat terlalu panjang, kurang lengkap, salah pemilihan kata, salah penyusunan logikanya dll?
Seorang penulis harus membaca ulang seluruh hasil karya yang baru saja deselesaikannya, sambil memperbaiki kesalahan dan melengkapi bagian-bagian yang masih kurang lengkap. Di perusahaan penerbitan media massa, tugas memperbaiki dan melengkapi tulisan ini ada pada redaktur, editor dan korektor.

5 Paragraf (Alinea)

Apakah yang dimaksud sebagai paragraf atau alinea dalam sebuah tulisan?
Paragraf atau alinea adalah kepala kalimat, yang didukung oleh beberapa kalimat lain hingga membentuk satu pengertian (pokok pikiran) yang utuh. Misalnya:
Baru setelah 59 tahun merdeka, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung. Pada tahun 1945, Ir. Soekarno, terpilih secara aklamasi oleh para anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), sebagai presiden pertama RI. Letjen. Soeharto, diangkat sebagai pejabat presiden oleh MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), pada tahun 1967. Selanjutnya sebanyak enam kali, Soeharto dipilih menjadi presiden oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Ketika Soeharto “lengser”, Wakil Presiden (Wapres) B.J. Habibie, dilantik menjadi Presiden RI ketiga. MPR hasil Pemilu 1999, memilih K.H. Abdurachman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden RI keempat melalui voting. Tahun 2001 Gus Dur dilengserkan oleh Sidang Istimewa (SI) MPR. dan Wapres Megawati menjadi presiden RI kelima. Setelah UUD 1945 diamandemen, baru tahun 2004 ini rakyat bisa memilih presiden mereka secara langsung.

Apakah yang disebut sebagai kepala kalimat?
Kepala kalimat adalah kalimat yang mengandung pengertian (pokok pikiran) utama (paling penting), namun masih memerlukan dukungan pengertian dari kalimat-kalimat selanjutnya. Kepala kalimat disebut pula kalimat utama atau kalimat pokok. Pada contoh di atas, Setelah hampir 60 tahun merdeka, baru kali ini rakyat Indonesia berkesempatan untuk memilih presiden secara langsung, merupakan kepala kalimat. Kalimat-kalimat selanjutnya berisi informasi yang mendukung pokok pikiran dalam kepala kalimat. Kalimat terakhir merupakan peneguhan pengertian yang terkandung dalam kepala kalimat. Hingga alinea ini bersifat deduktif – induktif.

Apakah kepala kalimat harus diletakkan paling depan sebelum kalimat-kalimat pendukungnya?
Letak kepala kalimat, tidak harus di depan (menjadi awal alinea). Kalau kepala kalimat diletakkan paling depan, maka alinea tersebut akan bersifat deduktif. Artinya diawali dengan pernyataan umum, baru disusul dengan rincian penjelasan yang sifatnya khusus. Kalau kepala kalimat ditaruh di belakang, maka alinea tersebut akan bersifat induktif. Uraian penjelasan khusus ditampilkan terlebih dahulu, baru kemudian diakhiri dengan pernyataan yang sifatnya umum. Namun bisa pula dalam satu alinea, masing-masing kalimat saling mendukung sama kuatnya hingga sulit menentukan mana yang paling penting dan menjadi kepala kalimat. Alinea demikian biasanya bersifat naratif atau deskriptif. Misalnya:
Tahun 1945, bangsa Indonesia memproklamirkan diri dan lepas dari penjajahan. Pada waktu itulah Ir. Soekarno terpilih sebagai presiden RI pertama. Setelah Konstituante hasil Pemilu 1955 gagal membentuk konstitusi, tahun 1959 Soekarno mengeluarkan Dekrit untuk kembali ke UUD 1945. Sejak itulah kekuasaan Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi menjadi tanpa batas. Tahun 1965 terjadi pergolakan politik yang populer dengan sebutan G. 30 S. Kekuasaan Ir. Soekarno pelan-pelan menyusut. Pada tahun 1967, MPRS mengadakan Sidang Istimewa, yang mencabut kekuasaan Ir. Soekarno dan mengangkat Letjen. Soeharto sebagai Penjabat Presiden RI. Selama 32 tahun Soeharto dengan Orde Baru dan Golkarnya berkuasa di negeri ini. Sampai pada tahun 1997, kembali krisis ekonomi melanda. Krisis ekonomi ini berkembang menjadi krisis politik yang menyebabkan jatuhnya pemerintahan Soeharto. Berturut-turut kita punya presiden B.J. Habibie, Gus Dur dan Megawati hanya dalam kurun waktu dari 1998 sd. 2004. Dan baru dalam Pemilu tahun 2004, rakyat Indonesia punya lima calon presiden, serta bisa memilihnya secara langsung.

Bolehkan dalam satu paragraf masing-masing kalimatnya memiliki pengertian sendiri-sendiri?
Tidak boleh. Sebab paragraf tersebut tidak akan menjadi satu kesatuan yang utuh, yang hanya memuat satu pokok pikiran (pengertian). Meskipun sebagai bacaan, paragraf tersebut tetap enak untuk dibaca. Misalnya:
Baru setelah 59 tahun merdeka, rakyat Indonesia bisa memilih presiden secara langsung. Ir. Soekarno, presiden pertama RI, termasuk pribadi yang terkenal sebagai playboy. Tercatat istri resminya berjumlah belasan. Jenderal Besar Soeharto, meskipun hanya berpendidikan formal SMP, namun mampu berkuasa sampai 32 tahun lamanya. B.J. Habibie, Presiden RI ketiga, hanya sempat berkuasa sekitar 1,5 tahun dan sempat membuat Timor Timur lepas dari pangkuan RI. Hasil Pemilu 1999, sebenarnya dimenangkan oleh PDIP, partainya Megawati. Namun MPR justru memilih K.H. Abdurachman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden RI keempat melalui voting. Ternyata Gus Dur juga sulit untuk mempertahankan kursinya, karena penglihatannya yang bermasalah dan banyak jalan-jalan keluar negeri. Tahun 2004 rakyat Indonesia bisa beruntung karena sekaligus punya lima Capres/Cawapres, Termasuk Megawati yang sejak tahun 2001 menjadi presiden RI kelima menggantikan Gusdur.

Berapakah idealnya jumlah kalimat dalam satu alinea?
Idealnya, dalam satu alinea hanya termuat lima sampai dengan 10 kalimat. Baik kalimat majemuk maupun kalimat tunggal. Jumlah karakter dalam satu alinea antara 500 sampai dengan 1.000 karakter (with spaces). Pengetikan dengan Ms. Word, Times New Roman 12 point, dalam satu paragraf idealnya terdiri dari 7 sampai 12 baris. Lebih panjang dari 10 kalimat, 1.000 karakter, 12 baris, orang akan capek membacanya.

Bagaimanakah hubungan antara satu alinea dengan alinea yang lain?
Sama dengan kepala kalimat yang memerlukan dukungan dari kalimat-kalimat selanjutnya, maka alinea pun ada yang disebut sebagai kepala alinea (lead, kepala berita). Kepala alinea ini mengandung pokok pikiran utama, yang memerlukan dukungan dari alinea-alinea selanjutnya. Misalnya, alinea contoh di atas (tentang rakyat memilih presiden langsung), dianggap sebagai kepala alinea. Maka alinea selanjutnya wajib mendukung pokok pengertian tersebut dengan: Satu alinea menceritakan sudah berapa presiden yang dipilih rakyat AS dari tahun 1945 sd. 2004 ini? Alinea berikutnya, menyorot lima Capres/Cawapres, prediksi perolehan suara, bagaimana mereka berkampanye dll. Dalam dunia jurnalistik, kepala alinea, yang selalu berada paling depan, disebut sebagai lead. Fungsi lead adalah membuat pembaca bisa “terseret” masuk ke dalam seluruh tulisan tersebut tanpa bisa berhenti. Karenanya, lead menjadi faktor yang sangat penting dalam dunia jurnalistik.

Disebut apakah alinea-alinea berikutnya setelah alinea yang berfungsi sebagai lead?
Alinea selanjutnya disebut sebagai body. Sifat alinea dalam body ini bisa deduktif, induktif, deduktif – induktif, naratif atau diskriptif, sangat tergantung dari bentuk tulisannya. Dalam artikel, sifat deduktif – induktif dan argumentatif pada alinea, lebih lazim digunakan. Sementara dalam feature, sifat naratif dan deskriptif pada alinea lebih cocok untuk digunakan. Selain itu, kita juga masih bisa memanfaatkan sifat-sifat lain dalam alinea. Misalnya argumentatif, persuasif, ekspositoris, definitif, klasifikatif, provokatif dll. Alinea paling akhir, biasanya bersifat ending yang salah satu kalimatnya mengulang pokok pikiran yang disampaikan dalam lead.

6 Bentuk Penyampaian

Apakah yang dimaksud dengan bentuk penyampaian dalam bahasa jurnalistik?
Bentuk penyampaian dalam bahasa jurnalistik, sebenarnya sama saja dengan karya sastra, karya ilmiah, laporan kesehatan pasien, tuntutan hukum untuk terdakwa dll. Secara garis besar bentuk penyampaian bahasa tulis adalah: naratif, deskriptif, ekspositoris, argumentatif, persuasif, konfrontatif, agitatif dll.

Bagaimanakah menyampaikan gagasan tertulis dalam bentuk naratif?
Naratif adalah bentuk bercerita biasa. Dalam sebuah cerita diperlukan adanya plot atau alur cerita, tokoh (subyek), kronologi (waktu) dan latar (seting = ruang). Meskipun pelukisan subyek dan latar pasti menggunakan metode penulisan deskriptif, namun dalam bangun naratif yang paling diutamakan adalah alur cerita. Contohnya:
Pagi itu pukul 07.00, Mas Yono masih santai di rumahnya di bilangan Cimanggis, Kota Depok. Biasanya pada jam-jam ini dia sudah pulang dari pasar Cisalak sambil memanggul karung berisi daging kambing. Sehari-hari Mas Yono berjualan sate, gule dan tongseng kambing di jalan Mekarsari Raya. Tetapi hari ini dia bisa santai. Meskipun itu juga berarti dia tidak akan memperoleh penghasilan selama sehari. Tetapi apa boleh buat. Hari ini, Senin 5 Juli 2004 adalah hari Pemilu Presiden. Untuk pertamakalinya Mas Yono akan bisa memilih presidennya secara langsung, tidak diwakili oleh para anggota MPR. Maka tidak seperti biasanya, kali ini dia mengenakan celana panjang hitam, sepatu dan baju batik. Istrinya pun juga mengenakan rok terusan dengan motif kembang-kembang. Pukul 7.30, Mas Yono dan istrinya berangkat ke TPS untuk menentukan pilihannya. Meskipun dia sudah punya pilihan mantap, namun tidak pernah nama Capres pilihannya ini diceritakan ke orang lain. Bahkan istrinya sendiri pun sama sekali tidak tahu, siapa yang pagi ini akan ditusuk oleh Mas Yono. Dst.
Bentuk narasi demikian, cocok untuk digunakan dalam penulisan feature dan reportase. Tidak cocok untuk menulis artikel atau berita (news). Meskipun dalam satu tulisan, tidak pernah seorang penulis hanya menggunakan satu metode. Biasanya narasi, deskripsi, argumentasi, persuasi dll. semua dimanfaatkan hingga feature atau artikel yang ditulis menjadi menarik.

Bagaimanakah bentuk tulisan deskriptif dalam dunia jurnalistik?
Tulisan berbentuk deskriptif memberi gambaran detil secara faktual terhadap obyek, peristiwa, suasana dan latar dari materi yang ditulis. Penulisan deskriptif memerlukan kerja pengamatan lapang yang sangat cermat dengan pencatatan secara detil. Tujuan penulisan deskriptif adalah, agar pembaca bisa benar-benar berimajinasi tentang keseluruhan materi yang ditulis. Contoh tulisan deskriptif.
Tanah lapang di tengah-tengah komplek perumahan Mekarsari itu dikelilingi oleh jajaran pohon palem raja yang menjulang setinggi 15 m. Di bawah batang-batang palem raja yang membengkak bagian pangkalnya itu, bermekaran bunga-bunga helikonia warna-warni. Mulai dari kuning, merah dan pink. Luas tanah lapang sekitar 5.000 m² dan diapit oleh jalan raya di keempat sisinya. Di atas hamparan rumput hijau itulah bilik-bilik TPS dibangun. Kerangkanya dari kaso dengan atap dan dinding triplek yang dicat putih. Mungkin penggunaan cat putih ini disengaja, sebab penggunaan warna-warna lain, misalnya merah, kuning, hijau dan biru, dikhawatirkan akan dianggap “kampanye” dari salah satu parpol peserta Pemilu 2004. Di depan bilik-bilik itu ada deretan meja panitia, patok dan tali-tali yang direntangkan sebagai alur pemilih yang akan antre. Sebuah tenda parasut dibentangkan dengan sebuat tiang panjang dan tali-temalinya. Di bawah tenda darurat itulah Mas Yono dan tetangga-tetangganya satu RW duduk tertib menunggu giliran untuk dipanggil petugas.
Deskripsi dalam tulisan jurnalistik, tidak boleh imanjinatif (berdasarkan khayalan), hingga tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Gambaran deskriptif hasil imajinasi, hanya dibenarkan dalam tulisan fiksi (puisi, cerpen, novel, naskah drama, skenario film/sinetron dll). Dalam feature, reportase atau news, gambaran deskriptif latar, suasana tokoh, dan peristiwanya, mutlak harus sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.

Bagaimanakah bentuk-bentuk penyampaian lain dalam tulisan jurnalistik?
Bentuk ekspositoris (dari eksposisi = memamerkan, memaparkan), banyak dimanfaatkan dalam menulis artikel atau opini. Ekspositoris memang paling tepat untuk menyampaikan gagasan atau konsep pemikiran. Bentuk ekspositoris kurang cocok untuk menulis feature, reportase dan news. Kecuali interpreted/interpretative news. Bentuk argumentatif biasanya banyak dimanfaatkan untuk memperkuat dan mempertahankan sebuah konsep atau pendapat. Biasanya bentuk ini juga dimanfaatkan dalam artikel, opini atau esai. Argumentasi yang disampaikan, harus tetap berdasarkan pada data dan fakta riil di lapangan. Baik dara primer maupun data sekunder. Bentuk persuasif (ajakan, bujukan), biasanya banyak dimanfaatkan oleh para penulis copy iklan dalam dunia advertising. Namun bentuk persuasif juga bisa digunakan oleh para penulis artikel, opini, esai dan interpreted dan interpretative news. Tujuannya terutama untuk menindaklanjuti argumentasi yang telah disampaikan.
Bentuk penyampaian agitatif dan konfrontatif, biasanya banyak dimanfaatkan oleh koran-koran atau tabloid yang mengandalkan gosip politik, selebritis dan para publik figur lainnya. Bentuk tulisan demikian biasanya akan banyak bermunculan pada saat menjelang Pemilu (saat kampanye) atau ketika ada pergolakan politik. Sebab meskipun media massa seharusnya bersifat netral, namun dalam praktek sangat sulit bagi individu dan institusi tersebut untuk tidak memihak. Ketika AS menyerbu Afganistan dan kemudian Irak, stasiun tivi CNN jelas sangat memihak kepentingan pemerntah AS. Hingga pada saat itu tayangan tivi Al Jazera menjadi alternatif yang cukup menarik. Sebenarnya masih banyak bentuk-bentuk penyampaian dalam tulisan jurnalistik. Sebab selain bahasa selalu berkembang, ilmu jurnalistik pun juga ikut pula berkembang sesuai dengan perkembangan pembacanya.

Apakah dalam satu alinea atau tulisan, hanya boleh digunakan satu bentuk penyampaian?
Tidak benar. Sebab dalam satu alinea, kita bisa mengkombinasikan bentuk narasi (menceritakan suatu peristiwa/fakta) dengan satu dua kalimat. Disusul dengan satu dua kalimat ekspositoris (pemaparan gagasan), dilanjutkan dengan kalimat argumentatif, lalu ditutup menggunakan kalimat persuasif, agitatif atau konfrontatif. Misalnya:
Kemarin (hari…..tanggal……); KPU telah menetapkan lima pasangan Capres dan Cawapres. Mereka adalah (nama-nama………). Seperti sudah diduga banyak pihak, Gus Dur tergusur sebagai Capres untuk Pemilu Presiden 5 Juli nanti. (kalimat naratif). Kita tahu bahwa UUD kita yang telah diamandemen, sama sekali tidak menyebutkan bahwa seseorang yang penglihatannya terganggu tidak boleh mencalonkan dirinya menjadi presiden. Itulah yang mencadi acuan Gus Dur, untuk terus memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara. Ini semua dilakukan bukan karena ambisi pribadi, melainkan demi tegaknya demokrasi. Dst. (kalimat ekspositoris). Namun KPU bukan tanpa pertimbangan dalam menggugurkan Gus Dur sebagai Capres dari PKB. Dst. (uraian argumentatif). Karenanya, KPU juga akan tetap berpegang pada UU yang ada, dan mengajak semua pihak untuk tetap berpikiran jernih demi tegaknya demokrasi. (kalimat persuasif). Namun KPU tidak akan gentar menghadapi tuntutan atau intimidasi dari pihak manapun. Bahkan anggota KPU (nama……….), mengatakan tidak takut terhadap berbagai ancaman dalam bentuk apa pun. (konfrontatif). Dalam pertemuannya dengan pers hari ini, anggota KPU (nama………..) bahkan dengan berapi-api menyerukan kepada masyarakat, agar tidak takut pada teror atau ancaman dari pihak mana pun (agitatif).
Kalimat-kalimat dalam alinea tersebut memiliki bentuk penyampaian yang berlainan, sesuai dengan efektifitas yang hendak dicapai. Dalam satu tulisan pun, alinea-alinea yang ada juga bebas untuk mengambil bentuk penyampaian sesuai dengan fungsi alinea tersebut. apakah sebagai lead, body (misalnya 12 alinea dalam tiga sub judul) atau dalam ending. Tidak pernah ada pedoman baku, bagaimanakah komposisi bentuk-bentuk penyampaian itu akan disusun untuk mencapai efek tertentu dalam sebuah tulisan. Sebab semua sangat tergantung dari keterampilan si penulis sendiri. Hanya dengan banyak latihanlah seorang penulis akan memahami, bentuk penyampaian mana yang paling tepat digunakan dalam satu kalimat atau alinea, agar informasi yang ingin disampaikan ke pembaca bisa sampai dengan selamat dan lancar.

* * *

IX MENGENAL FOTOGRAFI DAN CARA MEMOTRET

1 Jenis Foto

Apakah yang disebut sebagai foto?
Foto merupakan sinonim dari potret. Arti harafiahnya adalah gambar yang dibuat dengan kamera dan peralatan fotografi lainnya. Selain arti harafiahnya, foto dan potret juga sering digunakan sebagai kiasan. Misalnya: “Foto/potret masa silam itu sering muncul kembali dalam benaknya”. Dalam hal ini foto/potret berarti bayangan, gambaran atau kenangan.

Apakah ada jenis foto yang tidak dibuat dengan kamera foto?
Ada, yakni fotocopy teks atau gambar yang dibuat dengan mesin fotocopy.

Mengapa foto harus dibedakan menjadi banyak kategori?
Maksud pembuatan banyak katagori tersebut, untuk memudahkan pembuatan dan pemanfaatannya, sesuai dengan standar kualitas bagi masing-masing keperluan.

Kategori foto apa sajakah yang selama ini kita kenal?
Ada banyak sekali. Misalnya foto keluarga, foto dokumentasi, foto resmi, foto salon, foto seni, foto kriminal, foto porno, foto kedokteran (foto sinar X/rontgen), foto infra merah, foto bawah laut, foto satelit, foto udara, foto mikro, foto jurnalistik dll.

Selain sesuai dengan jenisnya, ada lagikah pengkategorian foto?
Ada, yakni sesuai dengan ukurannya, misalnya pas foto, foto seluruh badan, foto KTP, Paspor, foto postcard dll. Ada pula pembedaan sesuai dengan jenis kameranya. Misalnya foto konvensional (dengan film) dan foto digital.

2 Foto Jurnalistik

Apakah yang disebut sebagai foto jurnalistik?
Yang disebut sebagai foto jurnalistik adalah, foto yang dibuat oleh fotografer (juru foto) atau jurnalis (wartawan) untuk kebutuhan penerbitan pers.

Apakah foto jurnalistik harus dibuat oleh seorang jurnalis profesional?
Tidak harus. Kadang-kadang foto jurnalistik juga dibuat oleh orang biasa yang kebetulan hadir di tempat peristiwa dan sedang membawa kamera foto.

Apakah foto jurnalistik masih bisa dibedakan lagi menjadi beberapa kategori?
Benar. Misalnya pengkategorian sesuai jenis obyeknya. Misalnya foto perang, foto olahraga, foto fasion, foto alam dan lingkungan dll. Ada pula pengkategorian sesuai dengan bentuk jurnalismenya misalnya foto news (berita), foto reportase, foto features dll

Apakah foto jurnalistik hanya dibuat untuk melengkapi tulisan (berita, features dll)?
Tidak. Foto jurnalistik bisa berdiri sendiri sebagai news foto, features foto, reporting foto dll.

Mengapa foto jurnalistik bisa berdiri sendiri dan bukan sebagai pelengkap teks?
Sebab gambar foto bisa berbicara lebih banyak dibanding teks berita. Selain itu, foto juga bisa menunjukkan keautentikan suatu peristiwa/fakta. Hingga ada pepatah yang mengatakan bahwa satu foto bisa lebih berbicara dari seribu kata-kata. Contohnya foto penyiksaan tawanan perang Irak oleh tentara AS.

3 Perangkat Fotografi

Apakah yang disebut sebagai perangkat fotografi?
Perangkat fotografi adalah kamera, film atau perekam digital, perangkat prosesing serta pencetak gambar. Perangkat fotografi pertama yang menggunakan lempeng kaca dan bubuk perak bromida peka cahaya, ditemukan oleh warga Perancis bernama Joseph N. Niépce pada tahun 1907.

Apakah yang disebut sebagai kamera?
Kamera adalah alat untuk merekam gambar dengan pita seluloid, elektrik maupun digital, yang terdiri dari lensa serta ruang perekam gambar dengan segala perangkatnya. Ada kamera yang 100% mekanik, 100% elektrik atau gabungannya. Ada yang automatic ada yang manual atau gabungannya. Ada kamera pocket, ada yang single lens reflex (SLR) dengan lensa yang bisa diganti-ganti. Istilah kamera sendiri berasal dari kata Camera Obscura yang berarti kamar gelap. Prinsip dasar kamera sudah dikenal oleh Aristoteles (Yunani, abad III SM), Ibnu al Haitam (Arab, abad XI), Leonardo da Vinci (Romawi, abad XV/XVI) dan Girolamo Gardano (Romawi, abad XVI). Kamera SLR terdiri dari body dan lensa. Merk kamera antara lain Nikon, Canon, Pentax, Yasica, Leica, Mamiya, Haselblad dll.

Apakah yang disebut sebagai lensa kamera?
Lensa kamera adalah perangkat untuk menangkap gambar secara normal (lensa normal 52 mm), jarak jauh (tele di atas 70 mm), sudut lebar (wide angle, di bawah 35 mm), dan jarak sangat dekat (lensa mikro). Lensa yang merupakan gabungan wide angle, normal dan tele dalam satu lensa disebut zoom. Lensa juga dilengkapi dengan rana/diafragma (lubang bidik) yang bisa membesar/mengecil dan dibuka dengan berbagai tingkat kecepatan. Lensa kamera umumnya dilengkapi berbagai filter untuk berbagai keperluan.

Apakah yang disebut sebagai ruang perekam gambar?
Ruang perekam adalah bagian kamera yang kedap sinar untuk menempatkan film atau perekam digital. Ruang ini bisa membuka dan menutup sesuai kecepatan rana untuk memasukkan gambar/sinar. Ruang perekam kamera konvensional, dilengkapi dengan penggulung film secara manual maupun otomatik/elektrik.

Apakah yang disebut sebagai perangkat prosesing dan pencetak gambar?
Dalam fotografi konvensional, perangkat prosesing terdiri dari tabung developer (pencuci film) dan enlarger (pencetak film). Baik yang manual dengan cairan pengembang yang dicampur sendiri maupun yang sudah builtup dan diatur komputer. Dalam fotografi digital, prosesing gambar dilakukan dengan program komputer, sementara pencetakan gambarnya menggunakan printer.

4 Film

Apakah yang disebut film dalam fotografi?
Film adalah pita seluloid berlapis perak bromida peka cahaya untuk merekam gambar secara positif maupun negatif.

Apakah yang disebut sebagai tingkat kepekaan film?
Tingkat kepekaan film adalah kekuatan lapisan perak bromida dalam menangkap cahaya. Tingkat kepekaan film menggunakan ukuran Asa, mulai dari Asa 32, 50, 64, 100, 200, 400, 800, 1.600 dst. Asa rendah kepekaan cahayanya rendah namun kehalusan emulsinya tinggi. Asa tinggi kepekaan cahayanya tinggi namun emulsinya kasar. Film yang paling banyak diproduksi adalah Asa 200, 100 dan 400. Merk film antara lain Fuji, Kodak dan Agfa.

Bagaimanakah dengan ukuran film?
Ukuran lebar film mulai dari 20 mm, 35 mm, 60 mm, 90 mm, 120 mm, sampai ke 140 mm. Film ukuran 20 mm biasa digunakan dalam kamera pocket. Kamera biasa umumnya menggunakan film 35 mm. Film ukuran di atas 60 mm. umumnya digunakan oleh fotografer profesional.

Apakah yang disebut film positif/negatif dalam fotografi?
Film positif lazim disebut sebagai film slide. Gambar dalam film sudah merupakan gambar biasa hingga tidak perlu dicetak menjadi gambar di kertas foto. Slide digunakan untuk presentasi dengan slide projector atau dimanfaatkan kalangan cetak mencetak, karena kualitas gambarnya lebih baik dari film negatif. Film negatif adalah film dengan hasil gambar terbalik. Bagian terang menjadi gelap dan bagian gelap menjadi terang. Film negatif digunakan untuk mencetak gambar di kertas foto.

Ada lagikah pengkategorian jenis film?
Ada, yakni film daylight untuk memotret dalam cahaya matahari dan film tungsten untuk memotret dengan cahaya lampu panggung. Ada juga film yang menggunakan sinar infra merah untuk memotret pada malam hari tanpa cahaya buatan.

5 Pencahayaan

Apakah yang dimaksud dengan pencahayaan dalam fotografi?
Pencahayaan adalah proses memasukkan sinar yang berasal (dipantulkan) dari obyek untuk direkam dalam bentuk gambar dalam film atau perangkat digital. Alat pengukur cahaya dalam fotografi disebut lightmeter. Ada lightmeter yang builtup dalam kamera, ada pula yang merupakan bagian tersendiri di luar kamera. Dalam kamera manual, lightmeter builtup baru akan menunjukkan sinar yang cukup apabila gabungan antara angka bukaan rana dan tingkat kecepatan bukaannya tepat. Angka inilah yang harus disetel. Pada kamera otomatis, bukaan rana dan kecepatan akan mengatur sendiri. Gambar dengan cahaya kurang disebut under (gelap) dan gambar dengan cahaya berlebih menjadi over (sangat terang).

Ada berapa macamkah sumber cahaya dalam fotografi?
Dalam fotografi dikenal dua macam cahaya, yakni cahaya matahari (daylight) dan cahaya buatan. Cahaya matahari bisa diperoleh obyek secara langsung maupun setelah melalui saringan (screen) awan, tajuk pohon maupun kain screen yang sengaja dipasang di atas obyek. Bisa juga cahaya matahari dipantulkan ke obyek oleh obyek lain (misalnya awan, bangunan, tajuk pohon, bukit dll), atau sengaja dipantulkan dengan bantuan reflektor.

Apakah yang disebut sebagai cahaya asli dalam fotografi?
Cahaya asli dalam fotografi adalah, cahaya yang langsung berasal dari obyek itu sendiri. Misalnya cahaya lampu, api unggun, api kebakaran, kembang api, ledakan bom, lava gunung api, petir, binatang (misalnya kunang-kunang) dan bintang. Yang disebut bintang sebenarnya gabungan antara bintang asli dan planet yang seperti halnya bulan, sebenarnya hanya memantulkan cahaya matahari.

Ada berapa macamkah sumber cahaya buatan dalam fotografi?
Sumber cahaya buatan bisa bersifat alamiah. Misalnya lampu panggung, lampu jalanan, lampu penerangan ruangan atau taman, api unggun dll. Cahaya buatan bisa pula berupa lampu kamera (blitz) baik yang builtup dalam kamera maupun yang bisa dipasang dan dilepas. Dalam studio foto profesional, digunakan lampu fotografi dengan sinar daylight berkekuatan tinggi yang diperkuat reflektor. Bayangan yang terlalu kuat dari lampu blitz atau lampu fotografi bisa diatasi dengan menggunakan lebih dari satu lampu, memantulkannya atau memberinya screen.

Apakah manfaat cahaya buatan?
Cahaya buatan berguna untuk memotret obyek tidak bercahaya, pada waktu cahaya matahari tidak ada. Selain itu sinar buatan juga berguna untuk menghilangkan bayangan obyek pada pemotretan di bawah terik matahari atau untuk memotret dengan latar belakang sinar yang lebih kuat dari cahaya yang dipantulkan oleh obyek. Cahaya buatan di belakang obyek berguna untuk menampakkan rambut obyek berwarna hitam dengan latar belakang yang juga hitam.

6 Fokus

Apakah yang dimaksud fokus dalam fotografi?
Yang dimaksud fokus dalam fotografi adalah tingkat ketajaman obyek yang akan direkam dalam film atau perangkat digital.

Bagaimanakah tingkat ketajaman gambar itu bisa diperoleh?
Tingkat ketajaman gambar bisa diperoleh berkat bantuan alat fokus dalam lensa kamera. Alat pemfokus ini ada yang bersifat manual maupun otomatis (autofokus). Dalam jendela bidik, obyek yang sudah fokus digambarkan dengan hilangnya bintik-bintik atau kekaburan dalam bulatan di tengah frame. Ada pula yang digambarkan dengan menyatunya patahan gambar yang sebelumnya dipisahkan oleh garis silang vertikal atau horisontal.

Bagaimanakah kalau kamera sudah dijepretkan sebelum obyek terfokus?
Gambar yang diperoleh akan menjadi kabur sebagian atau seluruhnya. Namun kaburnya gambar tidak hanya disebabkan oleh out of fokus. Bisa saja kaburnya gambar disebabkan oleh kamera yang goyang (bergerak) saat tombol ditekan.

Mengapa ada foto yang sering kabur latar belakangnya sementara obyek utamanya sangat tajam?
Foto demikian diperoleh melalui bukaan diafragma besar (angka kecil) yang diimbangi dengan kecepatan tinggi. Misalnya bukaan 4,5 dengan kecepatan 500 pada film dengan Asa 200 dan cahaya normal. Teknik demikian digunakan untuk memperkuat citra (menonjokan) obyek. Kadang-kadang pengkaburan sebagian foto justru diciptakan dengan bukaan diafragma kecil (angkanya besar) dan kecepatan rendah. Musalnya untuk memotret penari balet. Hasilnya, wajah dan tubuh penari tampak fokus, namun tangan dan kakinya kabur. Tujuan teknik demikian untuk menciptakan citra gerakan.

Bagaimanakah dengan foto mobil balap yang tampak tajam namun latar belakangnya kabur dan tampak bergaris-garis horisontal?
Foto demikian diperoleh dengan teknik kecepatan rendah, namun kamera digerakkan mengikuti kecepatan gerak obyek tersebut. Akibatnya latar belakangnya menjadi garis kabur tetapi mobilnya sendiri tampak tajam. Tujuan teknik demikian juga bertujuan untuk menampilkan citra gerak.

7 Komposisi Foto

Apakah yang dimaksud sebagai komposisi dalam fotografi?
Komposisi adalah pengaturan letak/kondisi obyek utama dengan obyek pendukung, latar depan dengan latar belakang, bagian yang gelap dengan bagian yang terang dan bagian yang kabur dengan bagian yang tajam serta berbagai warna obyek yang akan ditangkap oleh kamera.

Bagaimanakah cara mengatur komposisi obyek yang akan difoto?
Dalam pemotretan di studio atau kerumunan orang dalam sebuah acara, obyek bisa dengan mudah diatur oleh pengarah gaya atau panitia. Dalam pertandingan olahraga, kehidupan binatang liar, perang, huruhara, kecelakaan, bencana alam atau peristiwa lainnya, fotograferlah yang harus mengatur letak dirinya hingga bisa memperoleh sudut pengambilan gambar dengan komposisi yang menarik, namun tetap aman bagi diri sendiri maupun peralatan fotografinya.

Bagaimanakah konkritnya komposisi gambar diwujudkan dalam sebuah frame?
Obyek utama (kalau ada) harus cukup jelas bahkan menonjol dalam frame. Letaknya harus berada di bagian tengah frame, bukan di pinggir atau pojokan. Obyek harus tampak utuh. Potret manusia atau binatang satu badan penuh, tidak boleh terpotong kepala atau kakinya. Ruang di hadapan obyek utama, harus lebih lapang dibanding ruang di belakangnya.

Bagaimanakah dengan komposisi latar depan dan latar belakang obyek?
Latar belakang dan latar depan obyek bisa menguatkan atau melemahkan foto. Obyek pasangan remaja berpacaran di pantai, akan makin kuat kalau ada latar belakang silhuet tiang/tali-tali perahu, cakrawala, awan, burung/kelelawar terbang dan sunset; serta latar depannya sepeda motor atau batang pohon dengan dahan-dahannya. Namun akan menjadi lemah kalau di latar belakangnya ada beberapa orang berselancar/berenang sementara di latar depannya tampak bagian tubuh orang yang lalulalang.

Bagaimanakah dengan komposisi gelap terang dan kabur tajam?
Foto yang baik tidak hanya bersifat datar (seluruhnya terang dan tajam), melainkan ada bagian yang gelap dan ada pula bagian yang terang. Ada bagian yang agak kabur, sepenuhnya kabur, namun ada yang sangat tajam. Ini bisa diperoleh dengan pengaturan pencahayaan di studio, namun di alam bebas harus dengan sabar menunggu moment tepat.

8 Karakter Foto

Apakah yang dimaksud sebagai karakter foto?
Karakter foto adalah sifat khas atau unik dari obyek yang direkam gambarnya. Secara umum karakter itu bisa menunjukkan gerak (dinamis), ritme (keteraturan), hening (kontemplatif), gembira, muram, sensual, religius, brutal, lemahlembut, kesederhanaan, kemewahan dll.

Bagaimanakah sebuah foto disebut sebagai kuat karakternya?
Sebuah foto disebut kuat karakternya kalau sudut pengambilan dan momennya tepat, pencahayaannya baik dan ketajamannya juga tinggi. Namun karakter obyek baru bisa benar-benar tampil dalam kondisi optimal kalau fotografer benar-benar mengetahui ciri khas atau keunikan obyek yang difotonya.

Apakah karakter foto hanya ditentukan oleh kondisi obyek?
Tidak. Sebab karakter foto juga ikut ditentukan oleh peralatan fotografi yang digunakan, baik kamera maupun alat prosesing serta pencetaknya. Selain itu, karakter foto juga sangat ditentukan oleh karakter fotografernya.

Untuk apakah karakter foto diutamakan dalam fotografi?
Karakter foto diutamakan dalam fotografi profesional, termasuk dalam foto jurnalistik, karena bisa membawa pembaca koran, tabloid atau majalah dengan cepat memahami karakter peristiwa yang sedang diberitakan. Dalam memotret model iklan, karakter foto diuatamakan untuk kepentingan promosi.

Bagaimanakan caranya membuat sebuah foto dengan karakter yang kuat?
Pertama-tama harus dipilih obyek dengan karakter yang juga kuat. Obyek dengan karakter yang kuat itu harus didukung oleh pencahayaan dan komposisi yang juga kuat. Peralatan yang dipergunakan juga harus mendukung. Misalnya untuk menampilkan awan dan langit biru, mutlak harus menggunakan filter polarizing. Kemudian, yang bisa menghasilkan foto dengan karakter kuat juga seorang fotografer dengan karakter kuat pula, didukung oleh pengalaman dan tingkat kesabaran atau kecepatan tinggi.

9 Menghasilkan Foto Jurnalistik yang Baik

Bagaimanakah caranya menghasilkan foto jurnalistik yang baik?
Foto jurnalistik yang baik hanya bisa dilahirkan oleh kombinasi seorang fotografer yang baik dan seorang jurnalis yang juga baik.

Dalam foto jurnalistik, manakah yang lebih penting, segi fotografinya atau jurnalistiknya?
Dalam jurnalisme alam dan lingkungan, segi fotografinya lebih diutamakan. Namun dalam jurnalisme olahraga, perang, kriminalitas dan event lain yang tak terulang, segi jurnalistiknya lebih diutamakan.

Bagaimanakah caranya seseorang bisa menjadi fotografer jurnalistik yang baik?
Profesi ini bisa dicapai melalui belajar menjadi fotografer terlebih dahulu, baru kemudian menjadi jurnalis. Namun bisa pula dengan menjadi jurnalis terlebih dahulu baru kemudian belajar fotografi. Bagi mereka yang kemampuannya di atas rata-rata, bisa belajar dua hal ini sekaligus.

Di manakah kita bisa belajar foto jurnalistik?
Secara formal, fotografi diajarkan pula di jurusan publisistik FISIP, terutama dalam mata kuliah jurnalistik. Secara non formal para wartawan foto belajar sendiri melalui buku, kursus fotografi dan dari fotografer yang lebih senior. Namun pengalaman merekalah yang membuat seorang fotografer menjadi hebat.

Berapakah modal untuk menjadi wartawan foto yang handal?
Peralatan fotografi lengkap berupa body kamera, macam-macam lensa, filter, lampu blitz, tripod, reflector, tas kamera dll. yang bersifat standar untuk kerja jurnalistik, nilainya antara Rp 50.000.000,- sd. Rp 100.000.000,- Belum lagi biaya film dan cuci cetaknya. Namun untuk belajar memotret, kita bisa mulai dengan kamera SLR (film/digital) seharga Rp 5.000.000,- Untuk bisa benar-benar belajar, sebaiknya menggunakan kamera manual dan mekanik. Bukan yang otomatis dan elektrik.

Posted by: bachtiar hakim | March 16, 2008

PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA (PART 4)

X MENGENAL MEDIA CETAK RUBRIKASI
DAN CARA MENGIRIM TULISAN

1 Tentang Media Cetak

Apakah semua media cetak bersedia menerima tulisan dari luar?
Benar. Hampir seluruh media cetak yang terbit di Indonesia menerima kiriman dari luar dan akan mempertimbangkan pemuatannya. Yang memenuhi syarat akan dimuat. Hanya penerbitan yang sudah punya kontributor tetap yang biasanya membatasi penulis lepas dari luar.

Mengapa hampir semua media cetak bersedia menerima kiriman tulisan dari luar?
Media massa cetak itu bersedia menerima kiriman tulisan dari luar dan memuatnya, karena berbagai pertimbangan. Media massa besar, menerima tulisan penulis luar dengan pertimbangan kualitas. Sebab tidak semua bidang dikuasai oleh wartawan atau redaktur media massa tersebut. Pertimbangan kedua, media sedang dan kecil biasanya kekurangan naskah. Hingga pemuatan tulisan dari luar akan sangat membantu ketercukupan naskah. Pertimbangan lain adalah faktor penghematan, karena honor untuk penulis luar pasti tidak sebesar biaya peliputan wartawan intern penerbitan tersebut. Pemuatan tulisan pihak luar juga merupakan promosi bagi media bersangkutan. Lebih-lebih kalau penulisnya sudah dikenal luas oleh masyarakat.

Mungkinkah dewasa ini seseorang bisa membiayai rumahtangganya dari honorarium menulis di media massa?
Mungkin saja, asalkan penulis tersebut telah menjadi kontributor tetap (pengisi rubrik = kolumnis) di beberapa media sekaligus. Di negara-negara maju, tulisan kolumnis dan penulis ternama, selalu dicari oleh penerbit. Biasanya di negara-negara maju sudah ada agen yang akan mengorganisir penulis lepas dan menyalurkan hasil karya tersebut ke media yang memerlukannya. Jadi kolumnis dan penulis di negara maju tidak perlu berhubungan langsung dengan penerbit, melainkan dengan agen naskah. Agen naskah ini akan memungut prosentase honorarium dari tulisan yang dimuat untuk biaya operasional.

Bagaimanakah cara memilih media cetak yang memerlukan tulisan dan yang tidak memerlukan?
Media cetak yang demikian banyak dan beragam itu, perlu digolongkan sesuai dengan jenisnya (koran, tabloid, majalah) frekuensi terbitnya (harian, mingguan, dua mingguan, bulanan), lokasi terbitnya dan spesialisasinya. Dari sana akan bisa lebih mudah dipilih, mana media cetak yang perlu tulisan dan mana yang tidak memerlukan.

Bagaimanakah menggolongkan media cetak sesuai dengah spesialisasinya?
Ada media cetak umum dan media cetak khusus. Media cetak khusus ada yang mengambil spesialisasi bidang atau sektor tertentu, ada pula yang mengambil spesialisasi sesuai dengan segmentasi pembacanya dan ada yang spesialisasinya berdasarkan segmentasi pembaca, sekaligus dengan isi yang sangat spesifik.

2 Spesialisasi Media Massa

Apakah yang disebut sebagai media cetak umum?
Yang disebut sebagai media cetak umum adalah media cetak yang memuat tulisan dengan materi mencakup semua bidang kehidupan, untuk semua kelompok pembaca. Biasanya media massa umum, naik koran maupun majalah lebih mengutamakan berita (news) sebagai sajian utamanya.

Bagaimanakah pengelompokan media massa khusus sesuai dengan spesifikasi bidangnya?
Misalnya koran khusus ekonomi, jurnal kebudayaan, majalah politik, tabloid olahraga dll. Masing-masing bidang masih bisa dikelompokkan lagi hingga menjadi sektor, sub sektor dan materi yang lebih spesifik lagi. Misalnya majalah kebudayaan menjadi lebih spesifik jurnal kesenian, jurnal kesenian menjadi bulletin sastra, drama, musik dll.

Bagaimanakah pengelompokan media massa sesuai dengan segmentasi pembacanya?
Misalnya saja ada majalah wanita, tabloid remaja, jurnal masyarakat Batak, bulletin mahasiswa Indonesia di AS, koran nasional, koran daerah dll.

Apakah masih ada model pengelompokan media massa selain yang telah disebut di atas?
Masih ada. Misalnya dilihat dari peredarannya. Ada media cetak yang dijual untuk umum di toko buku/agen. Ada yang dipasarkan secara terbatas melalui jalur tertentu atau berlangganan. Ada yang dibagikan secara cuma-cuma. Majalah yang diterbitkan oleh maskapai penerbangan atau biro perjalanan wisata misalnya, selalu dibagi-bagikan secara gratis. Media demikian memang dibiayai oleh institusi tersebut, atau hidup dari pendapatan melalui iklan.

Bagaimanakah dengan pengelompokan berdasarkan oplah cetaknya?
Ada pula model pengelompokan media massa berdasarkan jumlah eksemplar yang dicetak dan diedarkan. Di Indonesia, media cetak dengan oplah terbesar yakni 750.000 eksemplar per edisi, pernah dicapai oleh Monitor dan Nova. Monitor kemudian dibredel dan oplah Nova akhir-akhir ini turun cukup banyak. Di tingkat dunia, penerbitan dengan oplah terbesar dicapai oleh koran Jepang Yumiuri Shimbun dan Asahi Shimbun yang terbit tiap hari, yakni sekitar 20.000.000 eksemplar per edisi. Media cetak dengan oplah kecil biasanya berupa buletin intern yang diterbitkan oleh komunitas-komunitas kecil. Misalnya buletin karyawan di suatu kantor. Oplah cetaknya (atau foto copynya) disesuaikan dengan jumlah karyawan di kantor tersebut. Misalnya sekali terbit dicopy 500 eksemplar.

3 Media Cetak di Indonesia Saat Ini

Apakah yang disebut sebagai media cetak nasional?
Yang disebut sebagai media cetak nasional adalah koran, majalah tabloid, bulletin, jurnal dan news letter yang beredar secara nasional. Umumnya media cetak nasional terbit di Jakarta, namun ada juga yang terbit di daerah. Misalnya saja Kompas, Media Indonesia, Tempo, Femina, Nova, Horison (nasional terbit di Jakarta). Media cetak nasional yang terbit di daerah antara lain majalah kebudayaan Basis yang terbit di Yogyakarta.

Apakah yang disebut sebagai media cetak daerah?
Yang disebut sebagai media cetak daerah adalah koran, majalah, tabloid, jurnal, bulletin dan news letter yang beredar secara terbatas di sekitar lokasi terbitnya. Biasanya media cetak daerah terbit di kota provinsi atau kabupaten. Misalnya koran Pikiran Rakyat di Bandung, Suara Merdeka di Semarang, Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta dan Jawa Post di Surabaya. Meskipun terbit di Jakarta, koran Pos Kota, Lampu Merah, Warta Kota dll. tidak bisa dikatagorikan sebagai koran nasional. Sebab peredarannya hanya sebatas di sekitar Jabotabek.

Bentuk tulisan apa sajakah yang dimuat oleh media cetak umum di Indonesia?
Media cetak umum, biasanya memuat berita (news). Baik berita langsung (stright news), berita pendek (spot news), berita pendapat (interpreted/interpretative news) maupun news story, news features dll. Selain berita, media cetak umum juga memuat features, reportase, artikel, opini, esai, cerpen, puisi, cerita bersambung, resep masakan, rubrik jodoh dll.

Materi apa sajakah yang dimuat oleh media cetak umum di Indonesia?
Yang menjadi headline media cetak umum bisa apa saja. Mulai dari masalah politik, ekonomi, budaya, kriminalitas, olahraga dll. Selain itu, media cetak umum juga menyediakan halaman yang secara tetap diisi oleh materi tertentu yang disebut rubrik. Misalnya rubrik olehraga, rubrik wanita, rubrik opini dll.

Bentuk tulisan dan rubrik apa sajakah yang bisa diisi oleh penulis dari luar ?
Umumnya, news akan ditulis oleh wartawan intern. Sementara features dan reportase meskipun biasa ditulis oleh wartawan intern, juga terbuka peluang untuk ditulis oleh penulis luar. Artikel, opini, kolom, cerpen, puisi, cerita bersambung, resep masakan, ramalan bintang dll. umumnya ditulis oleh penulis luar.

4 Cara Pengiriman Tulisan

Bagaimanakah cara mengirimkan tulisan ke media cetak?
Dulu, mengirimkan tulisan ke media cetak hanya dilakukan melalui pos atau diantar langsung. Setelah mesin telex diketemukan, pengiriman tulisan jarak jauh dilakukan dengen mesin telex. Kemudian diketemukan mesin fax dan sekarang ada elektronik mail (E-Mail). Hingga pengiriman tulisan bisa menjadi lebih mudah.

Materi apa sajalah yang bisa ditulis dan dikirim ke media cetak umum?
Materi apa pun, bisa dikirim ke media cetak umum. Persyaratannya pertama-tama metari tersebut harus aktual. Kedua, menyangkut kepentingan masyarakat banyak (memiliki asas manfaat bagi pembaca). Asas manfaat tulisan antara lain: untuk pendidikan, untuk penambah pengetahuan, untuk keperluan praktis, untuk hiburan, untuk mendatangkan prestise dll. Tidak berisi fitnah atau pencemaran nama baik terhadap individu atau institusi tertentu. Dan yang terakhir, materi tersebut haruslah menarik. Daya tarik tulisan antara lain: menyangkut hal yang baru, luarbiasa (hebat), aneh, kontroversial, populer dll.

Apakah tulisan yang dikirim ke media cetak harus disertai foto dan gambar?
Tulisan berbentuk opini, tidak memerlukan foto atau gambar. Tetapi apabila yang dikirimkan berupa features atau hasil reportase, maka diperlukan foto dan gambar-gambar. Tulisan teknis menyangkut bidang tertentu, misalnya otomotif atau elektronik, memerlukan gambar-gambar teknis secara detil.

Benarkah hanya tulisan orang terkenal atau yang dikenal redaksi yang akan dimuat?
Tidak benar. Sebab pada prinsipnya, media massa yang baik adalah bisnis. Hingga tulisan dari siapa pun asal layak muat dan kualitasnya baik pasti akan ditampilkan. Sebaliknya, meskipun penulisnya orang terkenal atau teman dekat redaksinya, kalau tulisannya jelek pasti akan ditolak.

Bagaimanakah kalau sebuah tulisan ditolak oleh media massa?
Bisa saja tulisan yang ditolak tersebut segera dikirim ulang ke media massa yang lain. Misalnya, tulisan yang ditolak oleh Kompas, dikirim ke Suara Pembaruan atau Media Indonesia atau sebaliknya. Atau, kalau tulisan tersebut tidak menyangkut aktualitas, bisa diperbaiki lalu dikirim kembali ke media yang telah menolaknya. Sebaiknya satu tulisan tidak dikirim ke beberapa media sekaligus. Meskipun ada satu dua penulis yang melakukan hal demikian. Kalau kemudian ada dua media yang memuat tulisan yang sama dari penulis yang sama dalam waktu yang bersamaan, biasanya akan datang protes dari pembaca. Penulis demikian akan diblacklist oleh redaksi media bersangkutan.

5 Popularitas dan Honorarium Tulisan

Mengapa seorang penulis di media cetak bisa menjadi sangat populer?
Sebab sifat media massa yang massal akan memungkinkan sebuah tulisan dibaca oleh ribuan bahkan ratusan ribu pembaca sekaligus. Kalau seseorang secara rutin menulis di media massa, maka ia akan menjadi tokoh yang namanya dikenal secara luas. Meskipun wajah dan penampilannya tidak akan dikenal oleh pembacanya. Kecuali yang bersangkutan juga sering tampil di media audio visual.

Benarkan popularitas penulis bisa lebih awet dari raja atau menteri?
Benar. Sebab saat ini, kebanyakan orang tidak ingat lagi pada ratu Elizabeth I dan raja James I penguasa Inggris pada pergantian abad XVI ke abad XVI. Tetapi sampai saat ini orang masih ingat Shakespeare (1564 – 1603) yang hidup pada jaman pemerintahan Elizabeth I dan James I. Karya-karyanya seperti hamlet, Othello dan Macbeth sampai saat ini masih terus dibaca dan dipentaskan di mana-mana termasuk di Indonesia. Nama Chairil Anwar juga masih lebih kita kenal dibanding dengan menteri pendidikan antara tahun 1945 sd. 1949.

Berapakah honorarium tulisan di media cetak Indonesia saat ini?
Rata-rata honorarium tulisan di media cetak Indonesia saat ini antara Rp 200.000,- sd. Rp 500.000,- per tulisan. Meskipun masih ada pula media cetak yang memberi honorarium di bawah Rp 100.000,- per tulisan dan ada pula yang memberi sampai di atas Rp 1.000.000,-

Bagaimanakah honorarium tersebut diberikan?
Dulu, honorarium tulisan di media cetak harus diambil langsung ke kantor penerbitan, atau dikirim melalui pos wesel. Sekarang, honorarium tulisan biasa dikirimkan melalui transfer ke rekening bank si penulis. Meskipun masih tetap banyak media cetak yang mengirim honorarium melalui pos wesel. Sebab tidak semua penulis mencantumkan nomor rekening banknya, atau penulis tersebut belum memiliki rekening bank.

Apakah ada orang yang bisa hidup hanya dengan mengandalkan pendapatan dari menulis secara lepas di media massa?
Ada, meskipun jumlahnya tidak banyak. Sebab seandainya seseorang tidak bekerja di suatu institusi, tidak punya kegiatan bisnis lain dan tidak punya tabungan, maka hidup hanya dengan mengandalkan honor tulisan di media massa pasti akan sulit. Sama halnya dengan guru atau dosen yang hanya melulu mengandalkan honor sebagai tenaga pengajar (bukan sebagai guru atau dosen tetap).

6 Cara Memulai Bagi Pemula

Apakah yang harus dilakukan bagi seorang pemula yang ingin tulisannya dimuat di media massa?
Caranya dengan menentukan topik bahasan, mengumpulkan bahan dan kemudian mulai menulis. Setelah tulisan selesai, segera dikirimkan ke media massa.

Bentuk tulisan apakah yang paling mudah dibuat bagi pemula?
Yang paling mudah dibuat bagi pemula adalah resensi atau ulasan buku. Sebab peluangnya untuk dimuat cukup besar, karena penulis-penulis senior biasanya malas untuk menulis resensi buku. Tulisan hasil reportase atau features, misalnya laporan perjalanan ke suatu tempat yang menarik, biasanya juga mudah dimuat oleh media massa. Menulis opini (kolom) lebih-lebih esai, paling sulit untuk dilakukan oleh para pemula.

Materi apakah yang paling mudah dipilih bagi pemula?
Materi yang paling mudah dipilih bagi pemula adalah, yang paling dikuasai permasalahannya. Bagi karyawan Pusat Bahasa, meresensi buku bahasa atau sastra pasti akan lebih mudah daripada meresensi buku tentang anthropologi. Bagi seseorang yang berasal dari Sumatera Barat, menulis laporan perjalanan ke obyek wisata Bukittinggi pasti lebih mudah daripada seseorang yang bukan berasal dari Sumatera Barat.

Media apakah yang paling tepat dikirimi tulisan oleh pemula?
Media cetak harian atau koran paling tepat untuk dikirimi tulisan. Sebab variasi rubriknya cukup banyak dan frekuensi terbitnya juga setiap hari. Hingga peluang untuk dimuatnya juga cukup besar. Namun kalau ingin persaingannya tidak ketat, jangan mulai mengirim tulisan ke Kompas misalnya, melainkan ke koran daerah atau koran nasional yang prestise dan oplahnya di bawah Kompas. Namun untuk resensi buku sastra/bahasa, mengirim ke Kompas tidak ada masalah.

Mungkinkah setelah menulis puluhan artikel dan mengirimkannya ke media massa, tidak ada satu pun yang dimuat?
Tidak mungkin apabila bentuk tulisan dan materi yang kita pilih serta media yang menjadi tujuan memang telah dipertimbangkan masak-masak. Seorang karyawan Pusat Bahasa di Jakarta, kalau menulis untuk koran daerah di Bandung, Yogya, Semarang atau Surabaya pasti akan sangat diperhatikan. Hingga dari empat atau lima tulisan yang dibuat dan dikirim, satu atau dua pasti akan dimuat. Ini pulalah sebenarnya yang dialami oleh penulis-penulis yang telah punya nama.

* * *

About these ads

27 comments

  1. Terimakasih, banayak sekali ilmu yang didapat dengan adanya tulisan ini. Bagi saya yang baru belajar menulis sungguh sangat berguna. Semoga kedepan tulisan panduan seperti ini bisa bertambah sehingga manfaatnya bisa dirasakan, yakni akan lahir kaya tulis yang berkualitas. ]

    Semoga dunia jurnalistik semakin maju dengan kualitas yang lebih baik lagi. Amin

  2. Terima kasih atas postingan ini….
    Saya akan coba sebarkan semangat menulis di kalangan anak2 muda….
    Sangat bermanfaat… :)

  3. [url=http://nextdayshippingpharmacy.com/products/nolvadex.htm][img]http://legalusdrugstore.com/22.jpg[/img][/url]
    pharmacy law washington state http://nextdayshippingpharmacy.com/products/flagyl-er.htm consulting pharmacy planogram [url=http://nextdayshippingpharmacy.com/products/fludac.htm]fludac[/url]
    hagerman valley pharmacy http://nextdayshippingpharmacy.com/products/vasotec.htm medco pharmacy az [url=http://nextdayshippingpharmacy.com/categories/pain-relief.htm]pharmacy information drug[/url]
    pharmacy fort mill south carolina http://nextdayshippingpharmacy.com/products/casodex.htm ambien us pharmacy [url=http://nextdayshippingpharmacy.com/products/amaryl.htm]amaryl[/url]
    byerlys pharmacy minneapolis mn http://nextdayshippingpharmacy.com/products/horny-goat-weed.htm pharmacy ground glass bottle [url=http://nextdayshippingpharmacy.com/products/rave--energy-and-mind-stimulator-.htm]pharmacy jobs michigan[/url]
    http://nextdayshippingpharmacy.com/products/cipro.htm ospa pharmacy

  4. Pingback: Liposuction Recovery

  5. Pingback: Coupon Suzy

  6. This is the exact PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA Rainwundard's Weblog blog for anyone who wants to seek out out near this matter. You attending so often its most effortful to converse with you (not that I truly would want…HaHa). You definitely put a new stunting on a theme thats been cursive active for eld. City choke, simply eager!

    asdf

  7. Hello http://rainwundard.wordpress.com/2008/11/16/panduan-lengkap-menulis-artikel-feature-dan-esai-untuk-pemula/ admin. I discovered your “PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA Rainwundard's Weblog” page via Google but it was hard to find as you were not on the front page of search results. I see you could have more traffic because there are not many comments on your site yet. I have found a website which offers to dramatically increase your rankings and traffic to your website: http://voxseo.com/traffic/. I managed to get close to 1000 visitors/day using their services, you could also get lot more targeted visitors from search engines than you have now. I used their services and got significantly more visitors to my website. Hope this helps :) Take care.

  8. This is the rectify PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA Rainwundard's Weblog journal for anyone who wants to act out out active this subject. You notice so more its most exhausting to converse with you (not that I rattling would want…HaHa). You definitely put a new prolong on a message thats been typewritten nearly for years. Discriminating block, only large!

  9. This is the accurate PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA Rainwundard's Weblog diary for anyone who wants to attempt out out nearly this theme. You observance so often its nigh effortful to converse with you (not that I real would want…HaHa). You definitely put a new rotation on a issue thats been holographic about for geezerhood. City matter, but high!

  10. This is the punish PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA Rainwundard's Weblog blog for anyone who wants to seek out out almost this content. You react so some its virtually tiring to debate with you (not that I rattling would want…HaHa). You definitely put a new gyrate on a substance thats been shorthand near for years. Nice personalty, simply majuscule!

  11. Pingback: fsgb80v7cbwe

  12. Hello Web Admin, I noticed that your On-Page SEO is is missing a few factors, for one you do not use all three H tags in your post, also I notice that you are not using bold or italics properly in your SEO optimization. On-Page SEO means more now than ever since the new Google update: Panda. No longer are backlinks and simply pinging or sending out a RSS feed the key to getting Google PageRank or Alexa Rankings, You now NEED On-Page SEO. So what is good On-Page SEO?First your keyword must appear in the title.Then it must appear in the URL.You have to optimize your keyword and make sure that it has a nice keyword density of 3-5% in your article with relevant LSI (Latent Semantic Indexing). Then you should spread all H1,H2,H3 tags in your article.Your Keyword should appear in your first paragraph and in the last sentence of the page. You should have relevant usage of Bold and italics of your keyword.There should be one internal link to a page on your blog and you should have one image with an alt tag that has your keyword….wait there’s even more Now what if i told you there was a simple WordPress plugin that does all the On-Page SEO, and automatically for you? That’s right AUTOMATICALLY, just watch this 4minute video for more information at. Seo Plugin

  13. This is the rectify PANDUAN LENGKAP MENULIS ARTIKEL, FEATURE, DAN ESAI UNTUK PEMULA Rainwundard's Weblog journal for anyone who wants to assay out out nearly this theme. You react so much its almost effortful to fence with you (not that I real would want…HaHa). You definitely put a new aerobatics on a substance thats been shorthand active for years. Good push, but extraordinary!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s