Mengupas Makna Tembok


Kita pasti sudah tau dan paham betul apa itu tembok. Tembok adalah dinding pemisah/pembatas antara gedung satu dengan yang lain.

Tapi di sini kita akan mengupas apa sebenarnya tembok itu. Seperti pada paragraph pertama, tembok adalah pemisah/pembatas. Di kota-kota kecil maupun besar, tembok sering kita jumpai di antara rumah satu dengan yang lainnya. Kenapa harus ada tembok? Tembok di sini sebagai simbol ketidakpercayaan, ke-egoisan dari diri si pemilik tembok itu sendiri.

Dia, mereka, maupun kita pastilah memiliki ketidak-percayaan kepada orang lain. Karena dia, mereka, maupun kita sejak kecil telah ditempa secara tidak sadar oleh si tembok itu. Dan lagi, kita tak dapat memungkiri bahwa kita adalah mahkluk sosial yang egois dan individualis. Kita juga menganggap bahwa orang lain adalah pelengkap dalam kehidupan. Kenapa saya berani mengatakan bahwa kita adalah mahkluk sosial yang egois dan individualis, dan menganggap orang lain adalah pelengkap? Pertama, apa anda ingin membagikan gaji anda, yang dengan susah payah mencarinya kepada orang yang tidak dikenal? Pastinya tidak.Inilah contoh bahwa kita adalah egois. Kedua, apa anda ingin hidup satu rumah dengan orang yang tidak dikenal? Pastinya juga tidak. Inilah contoh kedua, bahwa kita adalah individualis. Dan ketiga, apa anda ingin dan mampu hidup sendiri di dunia ini? Pastinya juga tidak kan? Ini sebagai contoh, bahwa kita mahkluk sosial. Itulah sebabnya kenapa manusia menciptakan tembok sebagai pemisah dan pembatas. Karena kita egois dan individualis, sehingga tak ingin orang lain memasuki pekarangan kita tanpa izin. Hal ini, dapat kita jumpai di perumahan-perumahan elit maupun umum di kota besar dan kecil.

Dengan adanya tembok ini, semakin lama dan semakin lama kita tak ingin dan malas untuk bersosialisasi dengan orang di luar tembok. Kecuali, pada ruang lingkup tertentu. Misalnya, sekolah, kampus, dan kantor. Sehingga, kehidupan bersosial kita terhambat, dan membatu pada ruang-ruang lingkup tertentu.

Hal ini tidak terjadi pada mereka yang tak saling kenal saja. Tetapi pada mereka yang satu keluarga pun, ada yang malas untuk bersosialisasi antara satu dengan yang lain. Karena adanya ketidak-percayaan, dan ke-egoisan di antaranya. Sehingga, menimbulkan tembok maya. Ibarat fatamorgana, sesuatu yang tak ada tetapi ada. Begitu juga lah yang dialami Ibu Pertiwi sekarang, anak-anaknya terlibat dalam pembentukan tembok ini. KPK, Polri, dan Kejaksaan, seakan memiliki tembok pemisah yang tinggi dan tebal. Yang membuat mereka tak saling percaya, sehingga saling periksa, dan saling mengamati. Itulah hebatnya tembok, dia diciptakan, dibuat, digunakan untuk menghalangi, dan membatasi orang lain, binatang lain, dan dalam hal ini, instansi lain untuk masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

Dan dalam hal ini juga, ada baiknya kita malu, bersedih, dan menyesali diri sendiri. Karena telah mempermalukan, mengolok-olok, dan mengejek orang yang kita bilang kolot, kampungan, dan rendahan. Karena sebenarnya orang yang kita bilang kolot, kampungan dan rendahan itu, lebih modern, dan lebih tinggi kehidupan bersosialnya. Mereka tak perlu tembok yang tinggi dan tebal. Karena mereka saling percaya dan saling terbuka, saling menolong dan saling membantu. Padahal, bila dibandingkan ekonomi kita, mereka adalah orang yang kaya. Orang yang memiliki berhektar-hektar tanah dan ladang. Tapi mereka tak perlu tembok untuk membatasi lahannya. Dan mereka tak keberatan, bila kita memasuki ladangnya dan mengambil beberapa hasil ladangnya. Kenapa mereka dapat begitu? Karena mereka jauh dari pengaruh peradaban kota yang sok borjuis (bourgeoisie), sok penting dan yang lebih parahnya lagi sok paling benar dan paling beriman. Sok-sok inilah yang membuat persaudaran dapat terkikis sedikit demi sedikit.

Untuk itu kita sebagai masyarakat perkotaan, lebih baik menyingkirkan sok-sok (ke-egoisan) yang ada. Karena itu hanya akan menciptakan tembok-tembok dalam kehidupan bersosial kita. Dan akan menghambat perkembangan laju otak, psikologis, dan kehidupan bersosial kita. Hal ini masih logika. Bila kita egois, berarti kita tidak mendengarkan pendapat orang lain. Kita selalu merasa paling benar, dan akhirnya membuat kita tidak mendapatkan ide-ide orang lain yang dapat menstimulus otak kita, akhirnya otak kita akan melempem dengan kata lain bodoh. Dan hal ini, juga berpengaruh terhadap psikologis kita. Terlebih bila itu terjadi pada anak-anak. Anak cenderung akan bersikap menyendiri dan terfokus pada satu titik yang lazimnya disebut autis.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s